SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Kepulauan Meranti mencapai 6.825 kasus sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan, terlebih di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Kepulauan Meranti, Widya Nengsih SKM, mengatakan angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan kasus ISPA, meski belum masuk kategori peningkatan yang signifikan.
“Memang ada peningkatan kasus ISPA di tempat kita, namun tidak signifikan. Karena apabila signifikan, kejadiannya bisa sampai dua kali lipat dari kasus sebelumnya,” ungkap Widya, Senin (24/8/2026).
Baca Juga: Pendaftaran Beasiswa 2027 Segera Dibuka, Pemko Pekanbaru Siapkan Rp10 Miliar
Berdasarkan data Diskes Kepulauan Meranti tertanggal 11 Agustus 2026, kasus ISPA tercatat 1.198 kasus pada Januari, 1.039 kasus Februari, 712 kasus Maret, 1.095 kasus April, 884 kasus Mei, 1.082 kasus Juni dan 815 kasus pada Juli.
Jika dilihat berdasarkan laporan mingguan fasilitas kesehatan, Puskesmas Selatpanjang menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan 1.458 kasus. Berikutnya Puskesmas Alah Air sebanyak 1.411 kasus dan Puskesmas Anak Setatah 504 kasus.
Kemudian Puskesmas Teluk Belitung mencatat 450 kasus, Sungai Tohor 409 kasus, Pulau Merbau 318 kasus, Alai 293 kasus, Bandul 268 kasus dan Tanjung Samak 242 kasus. Sementara RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti mencatat 167 kasus.
Baca Juga: Rayakan HUT Ke-25, Demokrat Kuansing Bersihkan Arena Pacu Jalur dari Sampah
Jumlah kasus juga mengalami fluktuasi dari pekan ke pekan. Pada minggu ke-30 tercatat 298 kasus, kemudian meningkat menjadi 341 kasus pada minggu ke-31, sebelum kembali turun menjadi 318 kasus pada minggu ke-32.
Widya menjelaskan, ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah yang dapat disebabkan virus maupun bakteri. Gejalanya antara lain batuk, pilek dan demam. Dalam kondisi tertentu, ISPA juga dapat berkembang menjadi pneumonia.
Menurutnya, perubahan musim serta kondisi lingkungan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan. Kualitas udara yang menurun, kabut asap hingga polusi dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.
Baca Juga: Alam Cahayo Tuah Nagoghi Juara, Dua Anak Pacu Tunaikan Nazar Jalan Kaki
“Peralihan musim serta kondisi lingkungan, termasuk kualitas udara yang buruk dan kabut asap atau polusi udara, dapat meningkatkan risiko terjadinya ISPA,” tuturnya.
Karena itu, Diskes meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tidak hanya fokus pada penanganan kasus, tetapi juga memperkuat sistem kewaspadaan dini. Pemantauan perkembangan ISPA dan informasi terkait penyakit tersebut diminta dilakukan secara rutin melalui kanal resmi pemerintah maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pelaporan kasus juga harus dilakukan secara lengkap, tepat waktu dan berkesinambungan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
“Jika ditemukan peningkatan kasus yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), fasilitas kesehatan diminta segera melaporkannya dalam waktu kurang dari 24 jam melalui sistem surveilans berbasis kejadian atau Event Based Surveillance (EBS),” tegas Widya.
Selain memperkuat surveilans, fasilitas kesehatan diminta memastikan penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi berjalan optimal. Deteksi dan respons terhadap kasus juga harus dilakukan sesuai ketentuan, termasuk menjaga kesehatan tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan.
Baca Juga: Polisi Tetapkan Penghulu Jadi Tersangka Dugaan Perusakan Hutan Mangrove di Rohil
Kewaspadaan juga ditujukan kepada masyarakat. Dinkes mengimbau warga menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau menggunakan hand sanitizer.
Masyarakat yang sedang sakit maupun berada di tempat ramai juga dianjurkan menggunakan masker. Warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan penderita atau faktor risiko lainnya.
“Menjaga kondisi tubuh juga penting. Masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan rutin melakukan aktivitas fisik,” pungkasnya.(wir)
Editor : Edwar Yaman