Buaya Mengintai di Balik Rakit, Atai Warga Meranti Lolos dari Maut, Korban Terus Bertambah

Wira Saputra • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Penampakan seekor buaya mendarat di hamparan pasir pulau Tepian Lubuak Sobae Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Sabtu (30/5/2026) siang. ( Plt Camat Kuantan Hilir untuk Riaupos.co)
Ilkustrasi buaya. (Istimewa)

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Konflik manusia dengan buaya kembali terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti. Seorang warga, Atai (35), terluka setelah diterkam buaya muara saat menyeberangi Sungai Sendewo, Desa Renak Dungun, Kecamatan Pulau Merbau, Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 09.30 WIB.

Serangan terjadi secara tiba-tiba ketika korban menggunakan rakit. Buaya tersebut menggigit kaki kiri Atai hingga mengalami luka. Korban berhasil menyelamatkan diri dan kini menjalani pemulihan di kediamannya di Dusun III Rintis, Desa Renak Dungun.

Camat Pulau Merbau Hermansyah, SH, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan serangan buaya di kawasan perairan itu bukan yang pertama.

Baca Juga: Kualitas Udara Membaik, Sekolah di Pekanbaru Kembali Tatap Muka Penuh

"Kejadian ini yang kedua kalinya. Alhamdulillah warga selamat," kata Hermansyah, Ahad Kepada Riau Pos, (30/8/2026).

Menurutnya, sebelumnya warga Desa Tanjung Bunga juga pernah menjadi korban serangan buaya di kawasan perairan yang sama. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sungai masih menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat, termasuk untuk transportasi, menyeberang dan mencari ikan.

Laporan kejadian telah diteruskan Pemerintah Kecamatan Pulau Merbau kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kabupaten Kepulauan Meranti untuk dikoordinasikan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau.

Baca Juga: Indomaret Turunkan i-Mobile di Riau Pos Gowes Merdeka 

"Udah saya laporkan ke Basarnas Kabupaten Kepulauan Meranti untuk diteruskan ke BKSDA Provinsi Riau," ujarnya.

Pemerintah kecamatan juga telah menyampaikan imbauan kewaspadaan melalui pemerintah desa hingga kepala dusun. Warga diminta berhati-hati saat beraktivitas di sungai dan tidak mengambil tindakan sendiri apabila menemukan buaya.

"Langkah awal sudah disampaikan lewat Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa termasuk Kadus agar masyarakat berhati-hati dalam melakukan aktivitas di sungai," katanya.

Baca Juga: Roger Federer Menangis saat Upacara Pelantikan di Hall of Fame

Hermansyah meminta setiap kemunculan buaya segera dilaporkan kepada perangkat desa agar dapat diteruskan kepada instansi terkait.

"Untuk masyarakat, kami mengimbau agar selalu berhati-hati dan waspada saat beraktivitas di sungai. Jangan mengambil risiko, karena keselamatan warga yang paling utama," tegasnya.

Serangan terhadap Atai menambah daftar panjang konflik manusia dan buaya di wilayah pesisir Riau. Berdasarkan data yang dihimpun Riaupos.co dari jajaran Kantor SAR Pekanbaru, sedikitnya terdapat delapan kejadian serangan buaya terhadap warga dalam dua tahun terakhir di Kepulauan Meranti, Dumai, Indragiri Hilir dan Rokan Hilir.

Baca Juga: Tanpa Julian Alvarez, Atletico Madrid Raih Kemenangan Penting atas Sevilla, Puncaki Klasemen LaLiga

Sejumlah kejadian berujung korban jiwa. Di Meranti sendiri, sedikitnya dua warga meninggal dunia dalam serangan buaya, selain korban yang mengalami luka.

Salah satu kasus terjadi di Dusun Rintis, Desa Renak Dungun, kawasan yang sama dengan lokasi serangan terhadap Atai. Pada 19 November 2024, Adiu (12), warga Suku Akit, hilang saat mencari makohe di sungai. Jasad korban ditemukan tim SAR sekitar 200 meter dari lokasi awal kejadian.

Kasus lainnya menimpa pekerja sagu. Slamet Ma'arif (37) menjadi korban serangan di Sungai Suir, sedangkan Zainal Bin Tahar (50) diterkam buaya saat mengikat tual sagu di Sungai Penyagun, Kecamatan Rangsang.

Baca Juga: Lewat Gerakan Pangan Murah, Polres Kuansing Salurkan 2 Ton Beras SPHP untuk Masyarakat

Rentetan kejadian tersebut menunjukkan aktivitas warga di sungai, termasuk pekerja sagu, masih berhadapan dengan risiko serangan buaya. Kondisi ini membutuhkan langkah pencegahan yang lebih konkret agar konflik serupa tidak terus berulang. (wir)

Editor : M. Erizal
diterkam buaya buaya di meranti buaya muara