Belum Berakhir, Karhutla Meranti Sisakan 86 Hektare Dalam Penanganan

Wira Saputra • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:42 WIB
Penanganan karhutla di Desa Gemala Sari Kepulauan Meranti tsmpak petugas melakukan penginan menyemprotkan air agar masuk di bawah gambut  salah satu titik karhula setempat, Senin (7/9/2026). (Istimewa)
Penanganan karhutla di Desa Gemala Sari Kepulauan Meranti tsmpak petugas melakukan penginan menyemprotkan air agar masuk di bawah gambut salah satu titik karhula setempat, Senin (7/9/2026). (Istimewa)

 
SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kepulauan Meranti belum sepenuhnya berakhir.

Hingga awal September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 29 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terdampak mencapai 133,596 hektare.

Sebagian besar titik kebakaran telah berhasil dipadamkan. Namun, dua lokasi terbaru masih dalam tahap penanganan, yakni di Desa Gemala Sari, Kecamatan Rangsang, dan Dusun Dokol, Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang.

Baca Juga: Bio Solar Masih Langka, Antrean Kendaraan Mengular hingga Badan Jalan

Sekretaris BPBD Kepulauan Meranti, Tarmizi, mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara bertahap, mulai dari pemadaman api, penyekatan titik api hingga pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.

Berdasarkan rekap BPBD, kebakaran terluas terjadi di Dusun Penapat, Desa Gemala Sari, Kecamatan Rangsang, yang mulai dilaporkan pada 1 September 2026. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 85 hektare.

"Lokasi tersebut hingga saat ini masih dalam tahap pemadaman. Tim gabungan dikerahkan untuk melakukan penyisiran dan pemadaman, melibatkan BPBD, Basarnas, Brimob, TNI-Polri, Satpol PP, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kecamatan dan desa, PT SRL serta masyarakat," ujarnya, Senin (7/9/2026).

Baca Juga: Sempat Kabur ke Sumut, Terduga  Dalang Pelaku Pembakaran Jaring Nelayan Panipahan Ditangkap

Dalam operasi tersebut, tim menggunakan dua unit mesin MK, tujuh mesin ministrike, satu mesin Robin, 50 roll selang, delapan nozzle serta sejumlah peralatan manual seperti ember, cangkul dan parang.

"Sementara itu, titik karhutla terbaru lainnya berada di Dusun Dokol, Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang, yang mulai terbakar pada 3 September 2026. Luas lahan terdampak diperkirakan sekitar 1 hektare," bebernya.

Berbeda dengan Gemala Sari, penanganan di Tanjung Samak telah memasuki tahap pendinginan. Tim gabungan masih melakukan penyisiran di lokasi untuk memastikan tidak terdapat bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Baca Juga: Gawat! Tiga LC di Kuansing Positif Idap Penyakit Menular Seksual, Satpol PP-PKP Amankan Lagi 7 Orang

"Selain dua lokasi yang masih ditangani tersebut, BPBD mencatat 27 kejadian karhutla lainnya telah dinyatakan padam," terang Mizi lewat panggilan telpon genggam.

Kebakaran pertama dalam rekap tahun 2026 terjadi pada 23 Januari di Desa Tanjung Bakau, Kecamatan Rangsang, dengan luas sekitar 1 hektare. Sehari kemudian, kebakaran kembali terjadi di Tanjung Gemuk, Rangsang, seluas 1 hektare.

Pada 25 Januari, karhutla terjadi di Kedabu Rapat, Kecamatan Tebingtinggi, seluas 0,5 hektare, kemudian Tanah Merah seluas 0,2 hektare pada 27 Januari. Kebakaran terbesar pada periode Januari tercatat di Tenggayun Raya pada 30 Januari dengan luasan sekitar 7 hektare.

Baca Juga: Edarkan 34 Paket Sabu, Empat Pria di Simpang Puncak Bengkalis Dibekuk Polisi

Memasuki Februari, titik kebakaran muncul di Renak Dungun, Pulau Merbau seluas 1 hektare, Alahair Timur 0,5 hektare, satu lokasi lain seluas 0,2 hektare, Kedabu Rapat 0,5 hektare, Insit 2 hektare, serta kawasan Alahair dan Sesap seluas 2 hektare.

Pada Maret, karhutla terjadi di sejumlah lokasi, di antaranya satu titik seluas 0,05 hektare, Tanah Merah seluas 10 hektare dan Banglas seluas 0,05 hektare. Seluruh kejadian tersebut tercatat telah berhasil dipadamkan.

Aktivitas karhutla kembali muncul pada Juni dan Juli. Banglas mengalami kebakaran seluas sekitar 0,006 hektare pada 26 Juni. Kemudian pada 29 Juli, kebakaran terjadi di Tanjung Medang dengan luasan 1 hektare dan Tanjung Gemuk Dusun II seluas 1 hektare pada 31 Juli.

Baca Juga: LENS-ART Hadirkan Inovasi Pembelajaran Visual untuk Tingkatkan Literasi Siswa Disabilitas di Kampar

Memasuki Agustus, titik karhutla semakin bertambah. Gemala Sari terbakar seluas 2 hektare pada 2 Agustus, disusul Selatpanjang Timur, Jalan Pramuka seluas 1 hektare pada 8 Agustus.

Selanjutnya Banglas Barat, Jalan Perumbi terbakar sekitar 0,01 hektare pada 12 Agustus, Sungai Anak Kamal, Kecamatan Merbau seluas 0,5 hektare pada 13 Agustus, serta Banglas seluas 0,05 hektare pada 14 Agustus.

Pada 19 Agustus, kembali terjadi kebakaran di Gemala Sari dengan luasan sekitar 2 hektare. Kemudian Bokor, Kecamatan Rangsang Barat terbakar 0,03 hektare pada 23 Agustus dan Kepau Baru, Kecamatan Tebingtinggi Timur seluas 5 hektare pada hari yang sama.

Baca Juga: Satu Hati Menemani Setiap Langkah

Kebakaran berikutnya terjadi di Renak Dungun, Pulau Merbau, seluas 1 hektare pada 25 Agustus. Sedangkan pada 28 Agustus, karhutla di Bokor Dusun Kelapa, Jalan Parit Sadar, Kecamatan Rangsang Barat, mencapai sekitar 8 hektare.

Seluruh lokasi tersebut telah dinyatakan padam setelah dilakukan penanganan oleh tim gabungan bersama masyarakat.

Muzi menjelaskan, angka luasan yang tercatat dalam laporan BPBD masih bersifat sementara karena sebagian merupakan hasil perkiraan tim di lapangan.

Baca Juga: Pegadaian Dorong Masyarakat Cerdas Kelola Keuangan

Pengukuran lebih akurat nantinya dilakukan melalui pemetaan dan penggunaan drone oleh tim pascakarhutla. Karena itu, luasan setiap lokasi masih dapat mengalami perubahan setelah proses pemetaan selesai.

“Untuk memastikan kondisi lapangan, terutama pada lahan gambut, tim tidak hanya melakukan pemadaman permukaan. Setelah api berhasil dikendalikan, dilakukan pendinginan dan penyisiran karena bara di bawah permukaan masih berpotensi menyala kembali,” kata Muzi.

BPBD juga terus berkoordinasi dengan TNI-Polri, pemerintah kecamatan dan desa, MPA, perusahaan serta masyarakat dalam penanganan titik-titik karhutla.

Baca Juga: Polres Amankan Pelaku Pembacokan Berinisial M, Kapolres: Pelaku hanya Sendiri Hadapi Massa 

Dengan masih adanya kebakaran di Gemala Sari, BPBD mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, lahan gambut yang terbakar membutuhkan penanganan lebih intensif karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan sulit terdeteksi secara kasatmata.

Hingga saat ini, dari total 133,596 hektare luasan karhutla yang tercatat sepanjang 2026, sekitar 47,596 hektare merupakan akumulasi lokasi yang telah masuk penanganan dan dinyatakan padam, sedangkan 86 hektare merupakan dua lokasi terbaru yang masih dalam proses penanganan, yakni 85 hektare di Gemala Sari dan 1 hektare di Tanjung Samak. (Wir)

Editor : M. Erizal
kebakaran lahan karhutla meranti bpbd meranti