Kasus ISPA Melonjak, Dampak Karhutla Riau Makin Terasa di Meranti

Wira Saputra • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 23:41 WIB
Petugas pemadam dikepung asap ketika sedang melakukan penanggulangan di titik lokasi karhutla di Kepulauan Meranti. (Istimewa)
Petugas pemadam dikepung asap ketika sedang melakukan penanggulangan di titik lokasi karhutla di Kepulauan Meranti. (Istimewa)

 

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kepulauan Meranti mulai semakin terasa pada sektor kesehatan.

 Data harian dampak karhutla Dinas Kesehatan menunjukkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan rekap data yang dihimpun dari sejumlah puskesmas, sepanjang Agustus tercatat 311 kasus ISPA. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 731 kasus pada September hingga 17 September 2026.

Baca Juga: Wabup Rohil Ajak Pelajar Jauhi Perundungan dan Perkawinan Dini

Dengan demikian, kasus ISPA yang tercatat pada September sudah bertambah 420 kasus atau sekitar 135 persen dibandingkan total Agustus, meski data September baru berjalan 17 hari.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, SKM, mengatakan peningkatan kasus gangguan kesehatan perlu menjadi perhatian seiring kondisi udara yang terdampak asap karhutla.

"Jika melihat rata-rata harian, perbedaannya juga cukup mencolok. Pada Agustus tercatat rata-rata sekitar 10 kasus ISPA per hari, sedangkan pada periode 1–17 September rata-ratanya telah mencapai sekitar 43 kasus per hari," ujarnya kepada Riaupos.co.

Baca Juga: Bupati Inhu Sambut Baik Dukungan Kapolda Riau dan Pangdam Tuanku Tambusai Atasi Karhutla 

Data tersebut menunjukkan peningkatan bukan hanya dari sisi akumulasi kasus, tetapi juga dari intensitas kasus yang tercatat setiap harinya.

Pada September, kelompok dewasa menjadi penyumbang kasus ISPA terbanyak dengan 285 kasus, disusul anak usia 5–9 tahun sebanyak 150 kasus, balita 0–<5 tahun sebanyak 135 kasus, remaja 10–18 tahun sebanyak 98 kasus, dan lansia sebanyak 63 kasus.

"Dari sebaran wilayah, beberapa puskesmas mencatat jumlah kasus cukup tinggi. Puskesmas Alahair menjadi salah satu wilayah dengan angka tertinggi, yakni 211 kasus, disusul Tanjung Samak sebanyak 150 kasus dan Selatpanjang sebanyak 128 kasus," bebernya.

Baca Juga: Buron ke Jambi, Pelaku Pembunuhan Ditangkap di Areal Kebun Sawit 

Sementara itu, wilayah lainnya juga menunjukkan peningkatan, antara lain Kedabu Rapat sebanyak 62 kasus, Sungai Tohor 44 kasus, Teluk Belitung 32 kasus, Anak Setatah 31 kasus, Bandul 33 kasus dan Alai 40 kasus.

"Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa dampak karhutla tidak hanya terlihat dari luasan lahan yang terbakar maupun kepulan asap, tetapi mulai tercermin pada meningkatnya keluhan dan kasus penyakit yang ditangani fasilitas kesehatan," terangnya.

Widya mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lansia serta warga yang memiliki gangguan pernapasan, agar mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga: Tender Pasar Yos Sudarso Tembilahan Gagal, DPRD Inhil Soroti Perencanaan Proyek Rp19,9 Miliar

Masyarakat juga diminta menggunakan masker saat berada di luar rumah serta segera mendapatkan pemeriksaan apabila mengalami keluhan seperti batuk, pilek, sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya. (wir)

Editor : M. Erizal
ispa kepulauan meranti karhutla meranti