KEPULAUAN MERANTI (RIAUPOS.CO) - Ada masa ketika Wahid lebih akrab dengan angka-angka daripada kumbung jamur. Sebagai lulusan S1 Akuntansi, ia pernah membayangkan ilmu yang dipelajarinya akan membawanya pada dunia kerja yang tidak jauh dari laporan keuangan dan perhitungan.
Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah yang berbeda. Di sebuah kumbung sederhana, Wahid justru belajar tentang bagaimana sesuatu dirawat agar dapat tumbuh. Bukan hanya jamur, tetapi juga sebuah usaha dan harapan untuk berkembang bersama masyarakat.
Nama lengkapnya Utra Wahidi. Namun, pria berusia 30 tahun asal Mengkopot, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kabupaten Kepulauan Meranti itu lebih akrab disapa Wahid.
Baca Juga: Stok BBM di Meranti Masih Aman
Kini, ia dipercaya sebagai ketua kelompok sekaligus owner Jamur Betuah, sebuah usaha budi daya dan pengolahan jamur yang terus tumbuh bersama masyarakat.
Perjalanan itu dimulai pada 2020. Saat itu, Jamur Betuah mendapatkan dukungan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli UIP Sumbagteng. Dukungan tersebut berupa pembangunan kumbung jamur, mesin usaha, serta pelatihan budidaya jamur tiram.
Bagi Wahid, dukungan PLN Peduli UIP Sumbagteng menjadi pintu awal untuk mengenal lebih jauh dunia budi daya jamur. Dari pelatihan yang diterima, ia mulai memahami bagaimana jamur dirawat, bagaimana menjaga kualitasnya, hingga bagaimana mengelola hasil panen.
Baca Juga: DPRD Kepulauan Meranti Soroti Pindahnya Puluhan ASN
Tetapi belajar dari pelatihan saja tidak cukup. Pengetahuan itu harus dicoba. Kesalahan harus dialami. Dan setiap proses harus dijalani berulang kali.
Pada masa awal, hasil panen Jamur Betuah masih sekitar 15 kilogram setiap kali panen.
Jumlah itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Wahid, setiap kilogram menjadi bagian dari proses belajar.
Baca Juga: Stok BBM Meranti Masih Aman, Penyaluran Berjalan Sesuai Jadwal
Ia mulai memahami bahwa membudidayakan jamur membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Tidak bisa terburu-buru, apalagi mengharapkan hasil dalam waktu singkat. Seperti jamur yang membutuhkan kondisi tertentu agar tumbuh dengan baik, sebuah usaha pun membutuhkan proses untuk berkembang.
Ketika Pengetahuan Mulai Dibagikan
Seiring berjalannya waktu, Wahid mulai menyadari bahwa apa yang telah dipelajarinya tidak harus berhenti pada dirinya sendiri.
Kumbung yang awalnya menjadi tempat produksi perlahan berubah menjadi ruang belajar. Masyarakat mulai diberikan kesempatan untuk mengenal budi daya jamur secara langsung. Mereka belajar bagaimana merawat jamur, menjaga kualitas, hingga mengelola hasil panen.
Baca Juga: APBD-P Meranti Mulai Dibahas, KUA-PPAS Terpaut Rp2 Miliar dari RKPD
Wahid tidak sekadar mengajak mereka bekerja. Ia mengajak mereka belajar. Prosesnya berlangsung sederhana, melalui praktik langsung di lapangan. Ketika ada kesalahan, mereka belajar memperbaikinya. Ketika menemukan cara yang lebih baik, mereka mencobanya bersama.
Dari proses tersebut, perlahan tumbuh kemitraan. Masyarakat mulai memiliki kesempatan untuk terlibat dalam budi daya melalui kumbung-kumbung mitra. Hingga kini, Jamur Betuah telah memiliki 11 kumbung mitra.
Bagi Wahid, bertambahnya kumbung bukan sekadar bertambahnya kapasitas produksi. Ada lebih banyak orang yang mendapatkan kesempatan untuk belajar. Ada lebih banyak pengalaman yang dibagikan. Dan ada lebih banyak masyarakat yang mulai melihat bahwa budi daya jamur dapat menjadi salah satu peluang usaha.
Baca Juga: Pulang dari MTQ Nasional, Kafilah Meranti Disambut Meriah
“Bagi saya, usaha ini bukan hanya tentang bagaimana Jamur Betuah bisa berkembang. Yang lebih penting adalah bagaimana anggota kelompok juga bisa belajar, memiliki keterampilan, dan pada akhirnya bisa berkembang secara mandiri,’’ ucapnya.
Dari 15 Kilogram hingga 70 Kilogram Sehari
Perjalanan panjang tersebut perlahan membawa perubahan. Produksi yang pada awalnya hanya sekitar 15 kilogram setiap kali panen, kini berkembang hingga mencapai sekitar 50–70 kilogram per hari.
Pertumbuhan itu juga diikuti dengan semakin banyaknya orang yang terlibat. Saat ini, Jamur Betuah telah memiliki 7 orang pekerja serta 11 mitra kumbung yang menjadi bagian dari ekosistem usaha tersebut. Bagi Wahid, peningkatan produksi bukan sekadar soal angka. Di balik setiap kilogram jamur yang dipanen, ada orang-orang yang bekerja.(adv)
Editor : Arif Oktafian