SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi kualitas udara yang terpantau kurang baik pada hari ini. Berdasarkan data pada pemantauan yang diterima, indeks kualitas udara (AQI) berada di angka 166, masuk kategori tidak sehat (unhealthy), dengan kondisi berkabut asap dan suhu sekitar 25–33 derajat Celsius.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Meranti, M Khardafi, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Namun, ia menegaskan bahwa berdasarkan pemantauan BPBD, saat ini Kepulauan Meranti telah bebas dari kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Untuk karhutla saat ini tidak ada. Kepulauan Meranti sudah bebas dari karhutla. Meski begitu, kondisi kualitas udara tetap perlu kita waspadai dan masyarakat kami imbau untuk mengurangi aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara,” ujar Khardafi, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: Midea Celest Inverter Hadir dengan Teknologi AI, Tawarkan AC Hemat Energi dan Mudah Dirawat
Menurutnya, kondisi kualitas udara tidak semata-mata harus dikaitkan dengan adanya titik kebakaran di wilayah Meranti. Karena itu, masyarakat diminta tetap mengikuti perkembangan informasi dan menjaga lingkungan agar tidak terjadi aktivitas pembakaran yang dapat memicu kembali munculnya asap.
Khardafi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, baik untuk membuka maupun membersihkan area perkebunan.
“Kami mengimbau masyarakat jangan membuka lahan dengan cara membakar. Sekecil apa pun api yang dibuat, terutama dalam kondisi cuaca tertentu, bisa berpotensi menimbulkan masalah,” katanya.
Baca Juga: Kiriman dari Provinsi Tetangga, Kabut Asap Muncul di Inhu
Pemkab Meranti bersama unsur Forkopimda sebelumnya juga telah memperkuat langkah pencegahan karhutla. Pada awal September, Forkopimda mengeluarkan maklumat bersama yang antara lain melarang pembakaran hutan dan lahan serta membatasi aktivitas pembakaran sampah selama musim kemarau.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi lingkungan dan kualitas udara sekaligus mencegah munculnya kembali karhutla.
Khardafi mengatakan pencegahan tidak hanya menjadi tugas pemerintah dan petugas pemadam. Peran masyarakat sangat menentukan, terutama dalam menjaga lahan masing-masing.
Baca Juga: Pio dan Sebastiano Esposito Menjadi Starter untuk Italia, yang Pertama bagi Dua Bersaudara sejak 191
“Kita berharap masyarakat bersama-sama menjaga kondisi yang sudah baik ini. Jangan sampai karena kelalaian atau pembakaran lahan, kemudian muncul titik api dan berkembang menjadi karhutla,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan adanya asap atau indikasi kebakaran lahan kepada pemerintah desa, kecamatan, BPBD, TNI maupun Polri.
Meskipun karhutla dinyatakan nihil, pemerintah daerah tetap mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi udara. Terlebih, data pemantauan yang terlihat menunjukkan AQI 166, yang berada pada kategori tidak sehat.
Masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia serta warga yang sensitif terhadap kualitas udara, diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk.
“Yang paling penting sekarang bagaimana kita bersama-sama menjaga agar tidak ada pembakaran. Kalau tidak ada sumber api, kita bisa mencegah munculnya karhutla dan menjaga kualitas lingkungan,” kata Khardafi.
Baca Juga: Lantik 63 Pejabat, Wako Agung Nugroho Tegaskan Jabatan Camat-Lurah Diukur dari Kinerja
Pemkab Meranti juga mengajak masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan. Aktivitas pembakaran terbuka dinilai dapat menghasilkan asap dan berpotensi menimbulkan kebakaran apabila api merambat ke lahan sekitar.
Dengan kondisi karhutla yang saat ini nihil, BPBD berharap situasi tersebut dapat dipertahankan. Masyarakat diminta tidak lengah dan terus menjaga lingkungan.
“Mari kita pertahankan kondisi ini. Jangan membakar lahan, jangan membakar sampah sembarangan dan segera laporkan jika melihat potensi kebakaran,” tutup Khardafi.(wir)
Editor : Edwar Yaman