SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) -- Harapan masyarakat Kepulauan Meranti untuk mendapatkan layanan cuci darah di daerah sendiri belum terwujud. Unit Hemodialisis (HD) RSUD Selatpanjang yang sejak lama dipersiapkan hingga kini belum bisa beroperasi karena masih terkendala sejumlah perizinan.
Padahal, lima unit mesin hemodialisis bernilai miliaran rupiah telah didatangkan oleh RS Awal Bros selaku mitra kerja sama operasional (KSO). Ruangan pelayanan juga telah disiapkan, sementara tenaga kesehatan RSUD Selatpanjang sudah mendapat pelatihan untuk mengoperasikannya.
Namun, fasilitas yang diharapkan dapat memangkas biaya dan beban pasien yang selama ini harus berobat ke Pekanbaru itu masih belum bisa digunakan.
Baca Juga: Wako Agung Tegaskan Nilai Pancasila Harus Terwujud dalam Pelayanan Publik
Kerja sama antara Pemkab Kepulauan Meranti dan RS Awal Bros sendiri telah ditandatangani pada 2025. Saat itu, layanan cuci darah ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2026. Kini, memasuki Oktober 2026, target tersebut belum terealisasi.
Direktur RSUD Selatpanjang, Romy Haris Nanda, mengakui masih ada sejumlah persyaratan yang harus diselesaikan sebelum layanan tersebut dapat dibuka.
"Kita harus mendapatkan izin dari Pernefri (Perhimpunan Nefrologi Indonesia) Padang, Sumbar. Kemudian izin dari Kemenkes RI. Termasuk izin lingkungan (Amdal)," kata Romy saat dikonfirmasi.
Baca Juga: Dinas Kominfoss Panggil Penyedia Internet, Penataan Kabel Semrawut di Teluk Kuantan Segera Dilakukan
Menurutnya, persoalan perizinan tersebut bukan sekadar administrasi. Pemenuhan seluruh persyaratan membutuhkan dukungan anggaran yang cukup besar.
"Kita harus menyiapkan anggaran lebih dari Rp1 miliar. Sementara kondisi keuangan kita tahun ini belum memungkinkan," ujarnya.
Kondisi itu membuat kepastian operasional unit HD tahun ini belum dapat dipastikan. Romy menyebut peluangnya masih terbuka, tetapi tidak ingin memberikan janji sebelum seluruh persyaratan dan pembiayaan benar-benar tersedia.
Baca Juga: KPU Kampar Tetapkan 647.977 Pemilih, Temukan 26 Data Warga Meninggal dalam Uji Petik
"Kalau peluang tahun ini 50-50 persen unit cuci darah bisa beroperasi. Kalau belum bisa juga, tahun depan kita usulkan lagi untuk bisa dibuka," katanya.
Ia menegaskan, pihak RSUD tetap akan berupaya agar layanan tersebut dapat diwujudkan. Namun, konsekuensinya adalah pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran untuk menyelesaikan berbagai persyaratan perizinan.
Jika terealisasi, layanan hemodialisis di RSUD Selatpanjang akan menjadi fasilitas penting bagi masyarakat Meranti, terutama pasien gagal ginjal yang selama ini harus menempuh perjalanan ke luar daerah untuk menjalani cuci darah secara rutin.
Editor : Rinaldi