Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Anak Mulai Memukul Ketika Marah? Ajarkan 3 Hal Ini untuk Regulasi Emosinya

Tim Redaksi • Senin, 19 Februari 2024 | 10:13 WIB

SARAH AURELIA SARAGIH SPsi MPsi Psikolog (Psikolog Anak dan Remaja RS Awal Bros Pekanbaru)
SARAH AURELIA SARAGIH SPsi MPsi Psikolog (Psikolog Anak dan Remaja RS Awal Bros Pekanbaru)

Parents, pernah nggak ya anak kita ingin sesuatu lalu tidak terpenuhi dan berujung marah sambil memukul atau berguling-guling di lantai? Jika dihadapkan pada situasi ini, pasti rasanya sangat bingung dan terkadang kita juga terbawa emosi anak.

Di usia 4-6 tahun, anak memang sedang mengembangkan identitas dirinya dan ke-aku-annya dengan cara menyampaikan apapun yang ia inginkan. Contohnya, ketika dia lihat mainan squishy yang lucu, ia ingin punya mainan itu sekarang juga dan nggak mau berbagi dengan adiknya. Lalu kalau sudah marah atau menunjukkan ekspresi emosi yang intense, apa yang bisa orang tua lakukan?

Ajari anak untuk melabel perasaan yang dimilikinya
Di usia 4-6 tahun, bagian otak yang mendominasi anak adalah lantai bawah atau yang biasa disebut sebagai “reptilian brain” terdiri dari amygdala dan sistem limbik. Bagian otak ini mengatur respon emosi kita terhadap lingkungan.

Baca Juga: Mulai Kegiatan dan Aktivitas Harianmu dengan Sarapan Lebih Dulu

Contohnya ketika kita sedang takut, maka otak kita akan mengirimkan sinyal ada ular berbisa didepan sehingga membuat kita berlari menjauh. Respon ini disebut sebagai “flight, fight, or freeze response”. Pada anak usia 4-6 tahun, bagian otak ini sangat mendominasi karena anak akan mengekspresikan emosinya sesuai dengan lingkungannya. Amygdala yang masih belum berkembang membuat anak akan lebih intense merasakan emosinya seperti ketika sedih, marah, atau senang.

Hal yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah mengajarkan anak melabel perasaan yang dimilikinya. Misalnya ketika ia sedang sedih tidak boleh main di playground lebih dari 1 jam, validasi tangisan anak yang muncul. Ia sangat merasakan kesedihan dan kekecewaan tidak boleh main di playground lebih dari 1 jam karena perjanjian awal hanya satu jam.

Katakan pada anak bahwa yang ia rasakan itu namanya sedih dan wajar sedih ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan seperti “iya.. kamu pasti sedih banget ya kalau nggak bisa main lebih lama. Tapi kita udah sepakat hanya satu jam karena kamu mau mandi setelah ini. Yuk kita jadwalkan lagi hari lain ya untuk main kesini. Gapapa kamu nangis dulu saja”.

Saat divalidasi perasaannya, anak akan merasa lebih tenang dan paham bahwa mengekspresikan emosinya bisa dilakukan dengan cara baik-baik. Anak juga lebih mengenali nama-nama emosi yang sedang ia rasakan dan bisa menyampaikannya di kemudian hari.

Baca Juga: Konsumsi Tujuh Makan Ini Dapat Meringankan Sakit Kepala, Simak Penjelasannya di Sini

Kenapa penting untuk anak mengenali emosinya? Supaya ia bisa memperkirakan situasi apa saja yang membuatnya sedih, senang, atau emosi lainnya. Hal ini pun akan membantu orang tua untuk berkomunikasi dengan anak mengenai penyebab ia sedih.

Jangan diabaikan, namun diajak berbicara
Ketika anak menangis, respon pertama yang dilakukan orang tua adalah buru-buru untuk menyuruh anak diam atau “udah, jangan nangis”. Kata jangan sangat bertolak belakang dengan cara otak kita bekerja. Semakin kita dilarang, maka akan semakin intense emosi yang dirasakan anak namun tidak terkelola dengan baik. Ketika anak sudah menangis dan dibantu untuk melabel perasaannya, ajak anak untuk berdiskusi mengenai apa yang ia rasakan.

Untuk usia 4-6 tahun, kedekatan terbentuk dengan cara diskusi bersama anak. Berikan pelukan sambil bertanya apa yang ia rasakan sebelumnya. Anak hanya butuh 5-10 menit untuk didengarkan isi hatinya sehingga ia tidak merasa diabaikan. Sentuhan yang lembut adalah bentuk kasih sayang pada anak dan memberikan sinyal bahwa orang tuanya akan mendengar berbagai ekspresi emosi yang dirasakan dan anak memiliki tempat aman untuk mengekspresikannya.

Baca Juga: Jus Buah atau Air Kelapa, Mana yang Paling Sehat? Simak Jawabannya di Sini

Hitung sampai 5, lalu berikan respon
Pada anak usia 4-6 tahun, menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Anak belum mampu untuk mengabstraksikan konsep waktu dan juga untuk menahan dirinya ketika merespon sesuatu. Ajarkan anak untuk menenangkan dirinya dengan cara menarik nafas sampai hitungan 5, lalu memberikan respon.

Hal ini akan membantu anak untuk menurunkan ritme atau sensasi tubuh yang muncul ketika marah dan membantunya untuk lebih tenang. Ketika sudah lebih tenang, anak akan berusaha untuk tidak berteriak atau menangis seadanya saja.

Kebiasaan ini mungkin butuh waktu lama bagi orang tua untuk mengajarkan pada anak. Sangat wajar untuk anak menunjukkan emosinya yang cukup intense karena area otak untuk berpikir kritis masih belum berkembang, namun kita bisa ajarkan bagaimana caranya untuk mengelola diri sebelum berperilaku impulsive.

 Ketiga hal diatas bisa menjadi cara bagi orang tua untuk mengajarkan pengelolaan emosi bagi anak. Parents pun juga harus mengelola emosi jangan sampai terbawa ekspresi emosi dari anak-anak kita. Ingatlah bahwa anak kita mencoba untuk memahami apa yang ia rasakan jadi teruslah membersamai anak di segala prosesnya ya, parents.***

Editor : RP Arif Oktafian
#regulasi #anak #awal bros #marah #emosi