JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Jika kamu pernah bersama seseorang yang masa kecilnya tidak bahagia, kamu mungkin memperhatikan pola perilaku tertentu yang tampak sedikit berbeda.
Psikologi memberikan beberapa insight tentang bagaimana masa kanak-kanak yang bermasalah dapat mempengaruhi perilaku seseorang di masa dewasa, dan hal ini tidak selalu mudah.
Memiliki masa kecil yang tidak bahagia bukanlah sebuah pilihan, itu adalah keadaan yang membentuk kehidupan seseorang.
Berikut tujuh perilaku spesifik seseorang yang memiliki masa kecil tidak bahagia menurut psikologi seperti dilansir dari laman Ideapod, Ahad (2/6).
1. Kesulitan membentuk hubungan dekat
Berdasarkan psikologi, salah satu perilaku utama individu yang memiliki masa kecil yang tidak bahagia adalah perjuangan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan yang dekat dan intim.
Ini bukan cerminan nilai atau kemampuan mereka, namun konsekuensi dari pengalaman awal mereka.
Misalnya, ketika mereka masih kanak-kanak, mereka diabaikan atau ditinggalkan, mereka mungkin menganggap hubungan sebagai sesuatu yang tidak stabil dan tidak dapat diandalkan.
Akibatnya, mereka mungkin sama sekali menghindari hubungan intim, takut ditolak atau kecewa, atau mereka mungkin menjadi terlalu melekat, serta terus-menerus mencari kepastian dan pengakuan.
2. Prestasi berlebihan dan perfeksionisme
Meskipun mungkin tampak mengejutkan, karakteristik perilaku lain dari individu dengan masa kecil yang tidak bahagia adalah kecenderungan untuk menjadi orang yang berprestasi atau perfeksionis.
Baca Juga: Dear Emak! Mulai Hari Ini, Harga Eceran Tertinggi Beras Medium dan Premium Resmi Naik
Seringkali, anak-anak yang tumbuh dalam keadaan sulit merasa mereka perlu mendapatkan kasih sayang dan persetujuan.
Mereka merasa tidak cukup baik sehingga mereka terus berupaya mencapai kesempurnaan di masa dewasa.
3. Kewaspadaan berlebihan dan kecemasan
Individu yang memiliki masa kecil yang tidak bahagia sering kali menunjukkan kewaspadaan yang berlebihan dan rasa cemas yang meningkat. Perilaku ini berakar dari pengalaman awal mereka yang harus selalu waspada terhadap potensi ancaman atau bahaya.
Tumbuh di lingkungan yang tidak dapat diprediksikan, individu-individu ini telah belajar untuk selalu waspada dan siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Hal ini dapat terwujud dalam kehidupan dewasa mereka sebagai kekhawatiran yang terus-menerus, kecenderungan untuk terlalu memikirkan situasi atau perasaan tidak nyaman secara umum bahkan di lingkungan yang aman.
Kewaspadaan mereka yang terus-menerus dapat melelahkan dan mengganggu kemampuan mereka untuk bersantai dan menikmati hidup.
4. Kesulitan mengekspresikan emosi
Salah satu perilaku mendalam yang diamati pada mereka yang memiliki masa kecil yang tidak bahagia adalah perjuangan untuk mengekspresikan emosi secara terbuka.
Ini bukan berarti sikap dingin atau tidak berperasaan, mereka telah belajar untuk menekan emosi mereka sebagai mekanisme coping. Mungkin saat masih anak-anak, mereka pernah dihukum atau diejek karena menunjukkan emosi.
Pengalaman seperti itu dapat membuat mereka memendam emosi, menciptakan tembok di sekeliling dirinya. Akibatnya, mereka mungkin tampak jauh atau tidak emosional di masa dewasa.
5. Citra diri yang tidak konsisten
Perilaku lain yang diamati pada mereka yang memiliki masa kecil yang tidak bahagia adalah citra diri yang tidak konsisten. Sebagian besar dari kita pernah mempertanyakan identitas kita pada suatu saat dalam hidup.
Itu adalah bagian dari pertumbuhan dan perkembangan. Namun, bagi individu dengan masa kecil yang tidak bahagia, ini bisa menjadi perjuangan terus-menerus yang menyebabkan tekanan yang signifikan.
Tumbuh di lingkungan yang bermasalah membuat mereka terbiasa menyesuaikan kepribadian yang berbeda untuk menghadapi berbagai situasi. Ini menyebabkan terfragmentasinya citra diri mereka di masa dewasa sehingga menimbulkan kebingungan tentang jati diri mereka yang sebenarnya.
6. Perilaku yang terlalu bertanggung jawab
Perilaku umum individu yang memiliki masa kecil yang tidak bahagia adalah kecenderungan untuk mengambil tanggung jawab yang berlebihan. Ini sering kali merupakan respons kerena dipaksa untuk tumbuh terlalu cepat.
Misalnya, seorang anak yang harus mengasuh adik-adiknya karena ketidakhadiran atau kelalaian orang tua mungkin akan membawa tanggung jawab yang besar ini hingga mereka dewasa.
Mereka mungkin merasa terdorong untuk mengurus semua orang di sekitar mereka, bahkan seringkali dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan diri mereka sendiri.
7. Kurangnya perawatan diri
Bukan hal aneh melihat orang-orang yang memiliki masa kecil tidak bahagia mengabaikan perawatan diri mereka sendiri. Dalam kondisi kanak-kanak yang buruk, mereka mungkin telah belajar untuk mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri.
Mungkin juga mereka tidak diajarkan pentingnya perawatan diri. Akibatnya, mereka mungkin mengabaikan kebutuhan emosional mereka atau terus-menerus memaksakan diri hingga mengalami kelelahan.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Edwir Sulaiman