JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Intermitten fasting (IF) atau puasa berselang adalah pola makan yang melibatkan periode berpuasa dan periode makan.
Metode ini semakin populer karena dianggap efektif dalam menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Namun, dampaknya bisa berbeda pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki, karena faktor hormonal dan kebutuhan nutrisi yang berbeda.
Artikel ini akan mengulas dampak intermittent fasting bagi perempuan, baik yang positif maupun yang perlu diwaspadai. Dampak positif intermittent fasting bagi perempuan salah satunya yaitu dapat membantu penurunan berat badan, intermittent fasting membantu mengurangi asupan kalori harian dengan membatasi waktu makan.Baca Juga: Jika Ingin Beli Mobil Bekas Honda Brio Generasi Pertama, Anda Wajib Tahu Masalah dan Penyakitnya
Hal ini bisa menyebabkan defisit kalori yang diperlukan untuk menurunkan berat badan. Intermittent fasting juga meningkatkan pembakaran lemak dengan memperpanjang periode ketika tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi setelah cadangan glukosa habis.
Puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin yang membantu mengatur kadar gula darah. Hal tersebut penting bagi perempuan yang berisiko atau memiliki diabetes tipe 2.
IF juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida yang bermanfaat bagi kesehatan jantung.
Selain itu, IF dapat meningkatkan produksi faktor neurotropik yang diturunkan dari otak (BDNF) yang mendukung kesehatan neuron dan fungsi otak.
IF dapat menurunkan peradangan dalam tubuh yang bisa membantu mengurangi risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker.
Dengan stabilnya kadar gula darah saat menjalani IF, banyak perempuan merasa energi mereka lebih stabil sepanjang hari, mengurangi rasa lelah dan kelesuan.Baca Juga: Atta Halilintar Unggah Momen Baru Lulus SMA, Netizen Malah Kaget
Adapun dampak dan risiko intermittent fasting bagi perempuan, di antaranya yaitu gangguan hormonal, risiko kekurangan nutrisi, penurunan energi dan kinerja fisik, serta masalah pencernaan.
IF dapat mempengaruhi hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron. Ini bisa menyebabkan siklus menstruasi yang tidak teratur atau amenore (tidak menstruasi).
Peningkatan hormon stres (kortisol) dapat terjadi yang dapat mengganggu keseimbangan hormon dan kesehatan reproduksi.
Pembatasan waktu makan dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak memadai, terutama jika tidak diatur dengan baik. Ini bisa menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting seperti zat besi, kalsium, dan vitamin D.
IF juga bisa memicu pola makan tidak teratur atau gangguan makan pada beberapa perempuan, seperti binge eating atau anoreksia.
Beberapa perempuan mungkin merasa lelah atau lemah selama periode puasa, terutama jika mereka tidak mengkonsumsi cukup kalori dan nutrisi saat waktu makan.Baca Juga: Fenomena Cek Khodam di Media Sosial dan Amalan Memanggilnya
Kinerja fisik dan stamina juga dapat menurun, hal tersebut berdampak pada aktivitas sehari-hari dan olahraga. Perubahan pola makan dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti sembelit atau gangguan lambung, terutama jika asupan serat dan cairan tidak mencukupi.
Intermittent fasting dapat menawarkan berbagai manfaat kesehatan bagi perempuan, termasuk penurunan berat badan, peningkatan kesehatan metabolik, dan penurunan peradangan.
Namun, ada juga potensi risiko, terutama terkait dengan kesehatan hormonal dan nutrisi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan IF dengan cara yang bijaksana dan terinformasi, serta berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk memastikan metode ini sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan individu.***
Editor : RP Edwar Yaman