PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Anak dan remaja merupakan jantung dari setiap masyarakat dan bangsa. Ini adalah tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa mereka mampu menjalani hidup sepenuhnya dan untuk mencapai potensi penuh mereka. Sayangnya, kanker anak merampas anak kita dari masa kanak-kanak dan remaja mereka. Ini mengancam dan menempatkan pada risiko kelangsungan hidup mereka. Diagnosis kanker menghancurkan setiap arti “kehidupan normal” untuk anak, remaja dan keluarga mereka. Pada usia seharusnya kepolosan, kesenangan dan kebahagiaan, anak dengan kanker dihadapkan dengan situasi yang sulit dan menuntut, mengisolasi mereka untuk beberapa waktu, dari rekan dan teman. Paling sering, perjalanan kanker ini ditandai dengan rasa sakit luar biasa dan stres.
Kanker pada anak merupakan salah satu contoh penyakit kronis dan penyakit tidak menular yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari termasuk aktivitas normal. Penyakit ini berkontribusi besar terhadap absensi sekolah yang berhubungan dengan gangguan pembelajaran dan perkembangan dan memerlukan banyak rawat inap dan/atau perawatan kesehatan di rumah dan atau perawatan medis ekstensif.
Penyebab terbanyak kanker masa kanak-kanak tidak diketahui. Sekitar 5 persen dari semua kanker pada anak disebabkan oleh mutasi yang diwarisi (mutasi genetik yang dapat diturunkan dari orangtua kepada anak mereka).
Baca Juga: Anda Ingin Berat Badan Turun dan Menjaganya Tetap Ideal? Konsumsilah Jahe Merah, Simak Manfaatnya untuk Kesehatan
Sebuah laporan yang dikeluarkan tahun 2016 oleh badan internasional untuk penelitian pada kanker International Agency for Research on Cancer (IARC). Lebih dari 100 pusat pencatatan kanker di 68 negara dari tahun 2001-2010, menunjukkan bahwa sekitar 300.000 kasus kanker didiagnosa pada anak dan remaja di bawah usia 19 tahun setiap tahun. Laporan juga menunjukkan bahwa ada perkiraan kematian 80.000 per tahun akibat kanker anak di seluruh dunia.
Leukemia pada anak merupakan kanker terbanyak ketiga dari semua kanker yang menyerang anak.Leukimia merupakan suatu penyakit yang diakibatkan adanya sel leukosit atau sel darah putih yang berdiferensiasi tidak seperti normal jadi sel tersebut menjadi ganas. Di dalam sumsum tulang, sel darah merah, sel darah putih dan sel pembekuan darah ditekan seperti orang asing yang berada di rumah orang lain tetapi dia yang menguasai.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi-Onkologi Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, dr Cece Alfalah SpA (K) menjelaskan, pada leukemia, sel darah merah tertekan sehingga anak terlihat pucat yang disebut dengan anemia. Begitu juga dengan sel pembekuan darah yang disebut trombosit itu tertekan sehingga dapat terjadi perdarahan spontan, buang air besar berdarah, perdarahan kulit, serta perdarahan di dalam tubuh yang tidak terlihat seperti perdarahan di dalam otak yang menyebabkan penurunan kesadaran.
Sel leukosit atau sel darah putih yang mengganas ini juga menekan sel darah putih tuan rumahnya, sehingga sel darah putih yang berfungsi untuk pertahanan tubuh tidak dapat mempertahankan imunitas atau kekebalan tubuh anak tersebut. Anak mudah terjadi infeksi yang awalnya hanya batuk sampai sesak nafas dan yang awalnya hanya demam biasa sampai demamnya berat hingga infeksi otak.
Jadi sel darah putih yang mengganas ini harus diketahui apa namanya, karena leukemia banyak jenisnya. Klasifikasinya berdasarkan akut dan kronis. Terdapat dua jenis leukemia akut yaitu Acute Myeloblastic Leukemia (AML) dan Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL), keduanya menempati urutan terbanyak leukemia.
Baca Juga: Layanan Kesehatan Anak Terintegrasi RS Siloam Sriwijaya
Kalau leukemia kronis yaitu Chronic Myeloblastic Leukemia (CML) juga banyak terjadi pada anak.
Untuk usia termuda yang terserang penyakit leukemia ini yang pernah ditangani bayi berusia empat bulan, dapat didiagnosis melalui sumsum tulang, sebelum mengetahui penyakitnya harus melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu. Harus periksa darahnya juga diperiksa produsen darah tersebut yakni sumsum tulang. ‘’Kita memeriksa sumsum tulang yang dikenal dengan Bone Marrow Puncture (BMP), di situlah baru diketahui jenis penyakit leukemianya. Tatalaksana atau terapi pengobatan disesuaikan dengan jenis leukemianya,’’ jelas dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi-Onkologi Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru ini.
Beberapa faktor risiko dapat menjadi penyebab leukemia pada anak. Faktor risiko yang pertama karena genetik, yang kedua karena radiasi, yang ketiga karena zat kimia.
“Misalnya daerah yang polusi udaranya tinggi, dapat mencetuskan tumbuhnya sel ganas itu menjadi salah satu penyebab leukemia,’’ papar dr Cece Alfalah SpA (K) ini.
Sebenarnya untuk pencegahan kalau disebabkan faktor genetik tidak mungkin dapat dihindari. Dapat saja untuk genetik tidak tumbuh usahakan ke diri kita yang benar-benar alami seperti sayuran alami, buah-buahan alami, kemudian makanan juga alami jangan ada terpengaruh oleh zat kimia yang memudahkan sel tumor tumbuh. Seperti keluarga minta sakit sedikit rontgen, paparan radiasi seperti itu tidak boleh harus kita hindari yang perlu saja.
Penyakit leukemia dapat dideteksi, prinsipnya dengan adanya keturunan kita dapat mengetahuinya sejak dini. ’Dapat kita melihat daya tubuh anak kita rendah sedangkan anak lain bagus dan sehat. Anak sering demam berulang, sering sakit karena sel darah putih itu untuk pertahanan tubuh. Sel darah putih ini ditekan oleh sel darah putih yang ganas, makanya sel darah putih yang normal ini tertekan tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai imunitas atau sebagai perlindungan anak kita. Jadi anak kita rentan infeksi sehingga perlu dilakukan pemeriksaan darah skrining untuk memeriksa hemoglobin, leukosit, trombosit kemudian gambaran darah tepi. Cukup dari darah, dari situ baru dilakukan pemeriksaan lanjut.
Prognosis artinya bagaimana ke depannya dengan penyakit anak itu sesuai dengan klasifikasinya. Untuk pengobatan AML perlu dilakukan cangkok sumsum tulang, di Indonesia pengobatan AML belum memuaskan karena belum ada cangkok sumsum tulang.
Kemudian untuk ALL, dia respon dengan obat kemoterapi. Terdapat ALL dengan risiko tinggi dan risiko standar. Risiko tinggi artinya ALL berisiko untuk berulang, setelah dikemoterapi bagus nanti tumbuh lagi sel kankernya. Kalau ALL dengan risiko standar, ini yang paling banyak ditemukan pada anak. Pada penyakit kanker tidak ada kata sembuh, yang ada adalah remisi, artinya sel kanker tidak ada didalam tubuh. Inilah yang survival bertahan lebih dari lima tahun.
Untuk orangtua khususnya para ibu yang mengawasi, memonitor pertumbuhan dari anak diimbau tolong diperhatikan anak yang mempunyai faktor risiko keturunan atau warisan apapun kankernya tidak hanya leukemia, dapat kanker pankreas, kanker hati, harus waspadai pada anak tersebut dapat terjadi leukemia. Kita memonitor anak kita apabila sering sakit dibandingkan dengan anak yang lainnya, ada pendarahan, tampak pucat tolong dilakukan cepat pemeriksaan ke dokter ahli hematologi anak. Dengan mengenali penyakit anak lebih dini otomatis untuk pengobatan lebih cepat sehingga pemulihan lebih baik.***