Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Inilah Bahaya Kurang Tidur Terhadap Kesehatan Mental dan Otak, Bikin Depresi hingga Sulit Mengingat

Redaksi • Kamis, 4 Juli 2024 | 01:20 WIB
Ilustrasi kurang tidur.
Ilustrasi kurang tidur.

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kebiasaan kurang tidur karena akivitas berlebih, menyebabkan efek samping seperti kelelahan fisik dan kelelahan.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine, kurang tidur dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental hingga 2,5 kali lipat.

Studi yang melibatkan 273.695 orang dewasa di Amerika Serikat ini, melibatkan mereka yang berusia antara 18 dan 64 tahun.

Selama 14 hari, subjek penelitian mengaku tidur kurang dari enam jam setiap hari. Hubungan antara kurang tidur dan kesehatan mental seringkali kompleks.

Misalnya, dalam kasus di mana seseorang mengalami insomnia, yang hanya memperburuk kondisi mental mereka. Sebaliknya, stres dapat menyebabkan kurang tidur.

Hubungan antara kurang tidur dengan kesehatan otak adalah ketika otak tidak memiliki cukup waktu untuk tidur, itu disebut kurang tidur. Ini terjadi ketika seseorang tidur kurang dari enam jam setiap malam.

Dikutip dari hellosehat dan Halodoc, inilah beberapa bahaya dari kurang tidur bagi kesehatan mental dan otak.

1. Stres

Kurang tidur dapat meningkatkan produksi hormon kortisol. Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang meningkat saat tubuh merasa terancam atau tertekan.

Peningkatan ini dapat terjadi karena tidur yang tidak mencukupi mengganggu ritme alami tubuh dan menyebabkan ketegangan yang berlebihan.

Ketika kurang tidur, tubuh dan otak cenderung lebih sensitif terhadap berbagai pemicu stres. Ini bisa membuat tubuh merasa lebih tegang, mudah marah, atau cemas dalam situasi yang biasanya dapat dihadapi dengan lebih tenang jika tidur cukup.

2. Gangguan mood

Aktivitas amigdala yang meningkat akibat kurang tidur dapat memiliki dampak signifikan terhadap pengaturan emosi dan perilaku seseorang.

Amigdala adalah bagian dari sistem limbik di otak yang berperan penting dalam pengenalan dan respons terhadap emosi, terutama emosi negatif seperti rasa takut, cemas, dan marah.

Peningkatan aktivitas amigdala dapat menyebabkan reaksi emosional yang berlebihan terhadap stimulus-stimulus sehari-hari.

Misalnya, lebih rentan merasa tersinggung atau menunjukkan sikap agresif pada hal-hal yang sebenarnya tidak sepatutnya menimbulkan reaksi seperti itu.

Ketika amigdala terlalu aktif karena kurang tidur, kemampuan otak untuk mengendalikan emosi juga dapat terpengaruh.

Ini dapat mengarah pada kesulitan dalam menjaga ketenangan dan merespons secara proporsional terhadap situasi yang menantang.

3. Depresi

Kurang tidur dapat memperburuk gejala depresi, sekaligus depresi dapat menyebabkan gangguan tidur yang lebih serius.

Orang yang mengalami depresi cenderung sulit tidur atau mengalami tidur yang tidak memuaskan dan dapat memperburuk kondisi tidur mereka secara keseluruhan.

Depresi dapat menyebabkan seseorang hanya merasakan emosi negatif, seperti kesedihan yang mendalam dan kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari, termasuk tidur.

Kondisi ini dapat mengganggu pola tidur yang sehat, menyebabkan insomnia atau tidur yang tidak nyenyak.

4. Gangguan kecemasan

Ketika seseorang kurang tidur, otak cenderung mengalami kelelahan yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk berpikir jernih.

Hal ini dapat menyebabkan pikiran menjadi cenderung negatif dan mudah berpikir buruk dalam berbagai situasi. Ini juga dapat meningkatkan kecenderungan untuk merasakan kecemasan.

Kurang tidur dapat meningkatkan risiko serangan panik pada individu yang sudah memiliki gangguan kecemasan.

Selain itu, gangguan tidur seperti tidur yang terputus-putus atau mimpi buruk juga dapat menjadi gejala tambahan yang memperburuk kecemasan.

5. Memperburuk ADHD

Kurang tidur dapat memperburuk gejala ADHD, termasuk kesulitan untuk fokus, impulsivitas, dan hiperaktivitas.

Ini karena kurang tidur mempengaruhi kemampuan otak untuk berkonsentrasi dan mengatur impuls, yang merupakan tantangan utama bagi individu dengan ADHD.

Kurang tidur menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, termasuk kesulitan dalam pemrosesan informasi, mengingat hal-hal penting, dan membuat keputusan yang baik.

Ini dapat meningkatkan tantangan sehari-hari yang dihadapi individu dengan ADHD dalam menyelesaikan tugas dan mematuhi aturan.

6. Sulit mengingat

Memori adalah kemampuan otak untuk menyimpan, mengingat, dan mengambil kembali informasi. Proses ini melibatkan dua jenis utama, yaitu memori jangka pendek dan memori jangka panjang, yang keduanya memiliki peran yang berbeda dalam pengolahan informasi sehari-hari.

Memori jangka pendek berfungsi untuk menyimpan informasi sementara yang dibutuhkan untuk aktivitas segera, seperti mengingat nomor telepon sementara atau alamat yang baru diperoleh.

Memori jangka panjang adalah tempat penyimpanan informasi yang lebih permanen. Ini mencakup pengetahuan tentang dunia, kebiasaan, keterampilan, dan ingatan pribadi.

Proses merekam informasi ke dalam memori jangka panjang terjadi melalui konsolidasi selama periode waktu yang lebih lama, termasuk selama tidur.

Tidur diperlukan untuk memungkinkan otak untuk memproses dan memperkuat ingatan, sehingga tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan memori jangka panjang.

7. Brain fog

Istilah "brain fog" merujuk pada kondisi di mana seseorang merasa pikirannya kabur atau bingung, sulit untuk berkonsentrasi, mengambil keputusan, atau memproses informasi dengan jelas.

Kondisi ini sering kali mirip dengan sensasi kelelahan, tetapi efeknya bisa lebih serius dan berlangsung lebih lama pada individu yang mengalami kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan brain fog termasuk kurang tidur, stres kronis, ketidakseimbangan hormon, pola makan yang tidak sehat, dan kondisi medis tertentu seperti depresi atau gangguan kecemasan.

Dalam konteks kurang tidur, brain fog terjadi karena otak tidak mendapatkan cukup istirahat dan pemulihan yang diperlukan untuk menjalankan fungsi kognitif dengan optimal.

Sumber: JawaPos.com

Editor : M. Erizal
#insomnia #kurang tidur #susah tidur #Tidak Bisa Tidur