Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pahami Gejala Penyakit Hemofilia, Diagnosisnya Masih Rendah di Indonesia

Redaksi • Rabu, 17 Juli 2024 | 04:45 WIB

Hari Hemofilia Sedunia
Hari Hemofilia Sedunia
JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Penyakit hemofilia di Indonesia masih belum bisa ditangani dengan cepat karena rendahnya diagnosis. Imbasnya, penanganan hemofilia pun menjadi tidak optimal. Diketahui bahwa hemofilia adalah suatu kondisi di mana perdarahan sulit berhenti. Pada kondisi yang lebih berat, pasien hemofilia dapat mengalami perdarahan spontan (perdarahan yang terjadi tanpa diketahui penyebab jelasnya) serta perdarahan setelah cedera atau pembedahan.

Ketua ad interim Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Dr dr Novie Amelia Chozie SpA(K) mengatakan, hemofilia di Indonesia masih tergolong kurang terdiagnosis (underdiagnosed), dan biasanya pasien cenderung baru didiagnosis setelah terjadi perdarahan berat.

Ia menerangkan, penyakit yang banyak diidap oleh laki-laki ini diperkirakan telah terjadi pada 27.000 pasien hemofilia di Indonesia. Namun, sampai dengan tahun 2021, hanya sekitar 3.000 pasien yang terdiagnosis dan tercatat dalam Annual Report 2021 oleh World Federation of Haemophilia.

Menurut dr Novie, hemofilia merupakan kelainan bawaan berupa perdarahan yang terjadi seumur hidup akibat kekurangan faktor pembekuan dalam darah. Penyakit ini membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat agar pasien dapat memiliki kehidupan yang normal.

"HMHI berkomitmen untuk meningkatkan perawatan hemofilia di Indonesia, mulai dari diagnosis dini hingga pengobatan dan rehabilitasi. Bagi kami, sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan serta kapasitas dari para tenaga kesehatan di Indonesia mengenai diagnosis dan dan tatalaksana hemofilia yang komprehensif serta melibatkan multidisipin," tuturnya.

Pada saat yang sama, ia mengatakan bahwa edukasi terhadap masyarakat dan pasien untuk lebih waspada terhadap gejala-gejala hemofilia penting. Gejalanya yaitu cenderung mudah mengalami memar di permukaan kulit, perdarahan yang sulit berhenti, serta terdapat darah pada urin dan feses. "Semakin cepat hemofilia didiagnosis dan ditangani, semakin optimal pengobatan yang dapat diberikan," pungkas dr Novie.

Baca Juga: Bisa Dicoba, Inilah Cara Sederhana Mencegah Risiko Terkena Kanker

Menanggapi hal itu, HMHI telah menggelar Kongres Nasional (KONAS) ke-7 pada tanggal 13-14 Juli 2024 lalu. Sebuah acara 3 tahunan yang menjadi langkah penting dalam upaya meningkatkan tatalaksana hemofilia di Indonesia. Mereka mengangkat tema "Equitable Access for Improving Diagnosis and Optimal Hemophilia Care and Other Bleeding Disorders in Indonesia".

"Melalui KONAS ini, kami berharap dapat meningkatkan pengetahuan dan kapasitas tenaga kesehatan dalam diagnosis, pengobatan, dan rehabilitasi pasien hemofilia," Ketua Panitia Kongres Nasional HMHI, Dr dr Elmi Ridar SpA(K). Dokter Elmi menyebut Kongres Nasional HMHI yang ke-7 ini diharapkan juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pasien, industri kesehatan, dan masyarakat umum untuk penanganan hemofilia di Indonesia.

Di sisi lain, Head of Patient Value Access PT Takeda Indonesia Shinta Caroline memaparkan bahwa sebagai salah satu mitra yang mendukung terselenggaranya Kongres Nasional HMHI ke-7, mengaku menyadari bahwa hemofilia memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan pasien dan masyarakat. "Untuk itu, Takeda berkomitmen menyediakan pengobatan berkualitas tinggi bagi para pasien hemofilia di Indonesia dengan membuka akses seluas-luasnya terhadap obat-obatan inovatif kami," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com

 

Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

 

Editor : RP Rinaldi
#diagnosis #rendah #hemofilia