Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pemeriksaan Laboratorium untuk Mendeteksi Pemicu Alergi (Hipersensitivitas)

Redaksi • Minggu, 16 Februari 2025 | 10:28 WIB

Dokter Spesialis Patologi Klinik
RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru
Dokter Spesialis Patologi Klinik
RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru


RIAUPOS.CO - Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi imunologi yang berlebihan atau tidak terkendali terhadap suatu zat atau antigen tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh.

Reaksi inidapat menyebabkan kerusakan jaringan dan berbagai gejala klinis, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan reaksi.

Secara umum, reaksi hipersensitivitas dibagi menjadi empat tipe berdasarkan mekanisme dan waktu terjadinya reaksi:

1. Hipersensitivitas Tipe I (Reaksi Anafilaksis atau Reaksi IgE)
* Mekanisme: Melibatkan imunoglobulin E (IgE) yang berikatan dengan sel mast dan basofil. Ketika tubuh terpapar kembali dengan alergen yang sama, terjadi pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, prostaglandin, dan leukotrien.
* Contoh: Alergi makanan, alergi debu, rinitis alergi, asma, dan anafilaksis.
* Gejala: Ruam kulit, gatal, pembengkakan, sesak napas, bahkan syok anafilaksis yang mengancam nyawa.


Apa Itu IgE dan Hubungannya dengan Atopi?
* IgE (Immunoglobulin E) adalah jenis antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh saat terpapar dengan alergen. Pada orang dengan kecenderungan atopi, tubuh menghasilkan lebih banyak IgE sebagai responster hadap alergen seperti debu, serbuk sari, atau makanan tertentu.

* Pada individu yang atopi, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang biasanya tidak berbahaya, menyebabkan peradangan dan gejala alergi.

* Tes IgE spesifik mengukur kadar IgE yang ditujukan untuk alergen tertentu (misalnya serbuk sari, debu rumah, makanan, atau hewan peliharaan).


Tes ini mengukur jumlah total IgE dalam darah, yang bisa memberikan gambaran umum tentang apakah seseorang memiliki kecenderungan alergi. Kadar IgE total yang tinggi dapat menunjukkan adanya atopi, meskipun tes ini tidak dapat menunjukkan spesifik alergen apa yang menyebabkan reaksi alergi.

l Kelebihan: Dapat menunjukkan apakah seseorang memiliki risiko lebih tinggi terhadap alergi, tetapi tidak memberikan informasi rinci tentang alergen penyebab.
l Kekurangan: Tidak cukup spesifik, karena kadar IgEtotal bisa meningkat pada kondisi lain selain alergi, seperti infeksi parasit atau penyakit lainnya.


B. Tes IgE Spesifik


Tes ini mengukur kadar IgE yang spesifik terhadap alergenter tentu, misalnya:
a. Serbuk sari (pohon, rumput, bunga)
b. Debu rumah atau tungau debu
c. Alergen makanan (misalnya kacang tanah, susu, telur)
d. Saliva atau kulit hewan peliharaan (kucing, anjing)
e. Jamur atau spora
f. Prosedur: Tes ini melibatkan pengambilan sampel darah untuk mengukur kadar IgE spesifik terhadap berbagai alergen. Hasilnya akan menunjukkan seberapa besar sensitivitas tubuh terhadap alergen tertentu.
g. Keuntungan: Dapat memberikan informasi lebih rinci tentang alergen yang menyebabkan reaksi alergi pada seseorang, yang memungkinkan penanganan lebih tepat (misalnya, penghindaran alergen atau imunoterapi).
h. Keterbatasan: Walaupun tes IgE spesifik dapat mengidentifikasi alergen penyebab, tidak semua reaksialergi melibatkan IgE (misalnya pada alergi tipe IV atau reaksi non-IgE).

Editor : Rindra Yasin
#pemeriksaan laboratorium #Hipersensitivitas #kesehatan