Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tahukah Anda! Makan Makanan yang Dibakar Secara Terus Menerus Bisa Picu Kanker, Simak Penjelasannya

Redaksi • Jumat, 2 Mei 2025 - 08:38 WIB
ilustrasi makanan yang dibakar
ilustrasi makanan yang dibakar

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Makanan yang dibakar memang lezat dan menggugah selera, tetapi konsumsi berlebihan bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan.

Apalagi bagian makanan yang gosong, mengandung zat karsinogenik yang dapat meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Namun, dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, Anda tetap bisa menikmati makanan bakar dengan lebih aman.

Dilansir dari laman YouTube Tirta PengPengPeng, proses pembakaran makanan dapat menghasilkan zat berbahaya yang berpotensi memicu kanker. Zat tersebut berasal dari bagian makanan yang gosong atau hangus akibat suhu tinggi.

Memang tidak semua makanan yang dibakar otomatis menyebabkan kanker, namun kandungan senyawa karsinogenik di dalamnya patut diwaspadai.

Makanan yang dimasak dengan cara dibakar, terutama yang menghasilkan bagian gosong atau kehitaman, mengandung senyawa bernama Heterocyclic Aromatic Amines (HAA) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH).

Dua zat ini dikategorikan sebagai karsinogen, yaitu senyawa yang dapat memicu perkembangan sel kanker dalam tubuh.

1. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH)
PAH terbentuk dari lemak atau minyak yang menetes ke bara api atau pemanggang panas, lalu menguap dan menempel pada permukaan makanan.

Senyawa ini sering ditemukan dalam makanan yang dibakar, terutama pada bagian yang berwarna hitam pekat atau gosong. PAH telah dikaitkan dengan risiko kanker paru-paru, kulit, dan kandung kemih.

2. Heterocyclic Aromatic Amines (HAA)
HAA terbentuk ketika daging, ayam, atau ikan dimasak pada suhu tinggi dalam waktu lama. Proses ini menyebabkan reaksi kimia antara asam amino, kreatin, dan panas, yang kemudian menghasilkan senyawa HAA.

Jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan terus-menerus, zat ini dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker usus besar dan kanker lambung.

Meskipun makanan yang dibakar dapat berbahaya, bukan berarti Anda harus sepenuhnya menghindarinya. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko paparan zat karsinogenik:

1. Rendam Daging Sebelum Dibakar
Merendam daging dalam bumbu marinasi sebelum dibakar dapat membantu mengurangi pembentukan HAA. Bumbu yang mengandung cuka, lemon, atau rempah-rempah tertentu dapat memperlambat reaksi kimia yang menghasilkan zat berbahaya.

2. Hindari Konsumsi Bagian yang Gosong
Bagian makanan yang berwarna hitam pekat atau hangus mengandung konsentrasi HAA dan PAH yang tinggi. Jika Anda tetap ingin menikmati makanan bakar, sebaiknya buang bagian gosongnya dan konsumsi bagian yang masih aman.

3. Perbanyak Konsumsi Sayur dan Buah
Mengimbangi konsumsi makanan yang dibakar dengan sayur dan buah yang kaya antioksidan dapat membantu tubuh melawan efek buruk dari senyawa karsinogenik. Antioksidan dalam makanan sehat ini dapat membantu mengurangi risiko kerusakan sel akibat zat berbahaya.

4. Gunakan Teknik Memasak yang Lebih Sehat
Alih-alih memanggang atau membakar langsung di atas api, cobalah metode memasak yang lebih sehat seperti memanggang dengan oven atau memasak dengan teknik sous-vide sebelum dibakar sebentar. Teknik ini dapat mengurangi produksi senyawa karsinogenik.

5. Gunakan Pemanggang yang Bersih
Sisa-sisa pembakaran yang menempel pada pemanggang dapat meningkatkan risiko terbentuknya PAH. Pastikan selalu membersihkan alat pemanggang setelah digunakan untuk menghindari kontaminasi pada makanan berikutnya.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
#karsinogen #picu kanker #Makanan dibakar