PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - RS Awal Bros kembali menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala ruam kulit yang berkembang cepat, terasa nyeri, dan disertai dengan keluhan sistemik. Kondisi yang tampak ringan seperti ruam dapat menjadi gejala awal dari Sindrom Stevens-Johnson (SSJ), suatu reaksi hipersensitivitas berat yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan kulit dan selaput lendir. Kasus ini membutuhkan penanganan medis secara intensif dan tidak dapat dianggap remeh.
Dokter Spesialis Dermatologi dan Estetika RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, dr Laura Sendy Simamora SpDVE menjelaskan, SSJ merupakan kondisi serius yang berisiko tinggi, meski tergolong langka. Pasien dengan SSJ dapat mengalami lepuhan luas pada kulit, nyeri hebat, dan luka pada mulut, mata, hingga area genital.
Jika tidak ditangani dengan cepat, SSJ bisa berkembang menjadi Toxic Epidermal Necrolysis (TEN), yakni bentuk lebih parah dengan tingkat kerusakan kulit lebih dari 30 persen luas tubuh. Dalam banyak kasus yang ditangani di RS Awal Bros, gejala awal SSJ seringkali menyerupai flu seperti demam dan nyeri tenggorokan, diikuti ruam yang menyebar cepat dan menimbulkan nyeri yang membedakannya dari alergi biasa yang cenderung gatal.
Pemicu SSJ yang paling sering ditemukan di RS Awal Bros adalah reaksi terhadap penggunaan obat-obatan, terutama antibiotik seperti sulfonamida dan penisilin, obat antikejang seperti karbamazepin dan lamotrigin, serta obat asam urat seperti allopurinol.
Reaksi ini dapat muncul satu hingga tiga minggu setelah penggunaan obat. Infeksi virus seperti herpes atau pneumonia juga tercatat sebagai faktor pemicu tambahan. Selain itu, faktor genetik seperti HLA-B1502 dan HLA-B5801 yang umum ditemukan di Asia Tenggara berperan besar dalam meningkatkan risiko reaksi berat terhadap obat-obatan tersebut.
Banyak pasien yang datang ke RS Awal Bros dalam kondisi sudah berat karena mengira ruam yang muncul hanyalah akibat alergi ringan. Padahal, ruam SSJ memiliki karakteristik yang berbeda dan lebih agresif.
Tim medis RS Awal Bros menegaskan bahwa ruam yang terasa nyeri, disertai demam, dan menjalar dengan cepat perlu mendapatkan evaluasi medis segera. Diagnosis biasanya dilakukan secara klinis dan dapat diperkuat melalui biopsi kulit jika diperlukan.
Penanganan SSJ di RS Awal Bros dilakukan secara terpadu dengan pendekatan multidisiplin. Langkah awal yang sangat penting adalah penghentian segera terhadap obat pemicu. Pasien umumnya memerlukan perawatan rawat inap dengan pengawasan ketat karena risiko kehilangan cairan dan infeksi sangat tinggi.
Perawatan yang diberikan meliputi terapi cairan, nutrisi, pengelolaan nyeri, perawatan luka kulit dan mukosa, serta pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi lanjutan. Hingga kini belum ada terapi tunggal yang dapat secara langsung menyembuhkan SSJ, sehingga penanganan dilakukan secara suportif dan disesuaikan dengan kondisi klinis pasien.
dr Laura Sendy menyampaikan bahwa edukasi masyarakat tentang bahaya ruam kulit yang berpotensi menjadi sindrom berat seperti SSJ sangat penting untuk menekan angka keterlambatan penanganan.
RS Awal Bros secara aktif menyelenggarakan edukasi internal dan eksternal sebagai bagian dari komitmen dalam meningkatkan literasi kesehatan publik. Pasien yang pernah mengalami SSJ juga dihimbau untuk mencatat riwayat obat yang pernah menyebabkan reaksi dan menginformasikan kepada setiap tenaga medis yang merawat di masa mendatang. Pencegahan kekambuhan menjadi bagian integral dari pemulihan pasien.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RS Awal Bros terus mengembangkan layanan spesialis yang terintegrasi, termasuk layanan dermatologi yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium, unit perawatan luka, dan monitoring farmasi klinis. dr Laura Sendy Simamora merupakan bagian dari tim dokter spesialis kulit RS Awal Bros yang berpengalaman dalam menangani kasus dermatologi kompleks, termasuk reaksi obat berat dan kondisi sistemik seperti SSJ.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, RS Awal Bros menghadirkan layanan medis berbasis keahlian, teknologi, dan edukasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas keselamatan pasien.**
Editor : Bayu Saputra