PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Praktik penjagalan sekaligus penjualan daging anjing ilegal di Jalan Harapan Raya, Kelurahan Sail, Pekanbaru, terjadi baru-baru ini. Hal itu lantas membuat masyarakat gempar, mengingat hal tersebut bukanlah yang biasa terjadi di Kota Bertuah.
Selain haram menurut agama Islam, konsumsi daging anjing nyatanya juga tidak diperbolehkan menurut hukum internasional karena melanggar kesejahteraan hewan. Bagi yang tetap mengkonsumsi, ancaman kesehatan pun siap mengintai. Mulai dari rabies, risiko cacing pita hingga hipertensi.
Hal tersebut dibenarkan oleh Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Rumah Sakit Awal Bros, yakni dr Nurhasanah SpGK. Konsumsi daging anjing dapat membayakan kesehatan. Salah satunya dapat mengakibatkan orang yang mengkonsumsi tertular penyakit rabies.
"Bahayanya ialah 90 persen infeksi rabies ditularkan dari anjing. Sisanya monyet dan kucing. Ternyata penularan rabies itu bukan hanya dari gigitan hewan yang terinfeksi, ternyata dari dagingnya pun juga bisa," jelasnya kepada Riaupos.co.
Selama proses penjagalan, anjing juga bisa berisiko menggigit dan menularkan infeksi rabies kepada manusia. Selain itu, bahaya lainnya ialah, ternyata di daging anjing juga bisa mengandung cacing pita. Cacing pita sendiri berbahaya untuk kesehatan. Walaupun sudah dimasak, namun, risikonya tetap ada.
Efek lainnya ialah, mengkonsumsi daging anjing dapat meningkatkan risiko terinfeksi kolera hingga terkontaminasi bakteri ecoli.
Dari segi gizi, kandungan gizi yang terdapat dari daging anjing juga memberikan dampak yang membahayakan bagi tubuh. "Jika dikaji dari kandungan natrium dan lemaknya, daging anjing jauh lebih tinggi daripada protein hewani yang biasa kita makan, contohnya ayam, telur maupun sapi," lanjutnya.
Sebagai perbadingan, dr Nurhasanah menjelaskan bahwa natrium yang terkandung dalam 100 gram daging anjing adalah 1604 miligram. Sementara natrium yang terkandung dalam daging sapi tanpa lemak 397mg dan ayam direntang di bawah 100mg per 100 gram.
"Efek natirum pada kesehatan berhubungan dengan tekanan darah. Sebagaimana kita tahu, natrium itu menarik air. Kalau dikonsumsi berlebihan risikonya bisa hipertensi," jelasnya lagi.
Sementara itu, dari segi lemak, dalam 100 gram daging anjing per terkandung 20,2 gram lemak. Sementara dalam 100 gram daging sapi, terkandung 7,5 gram dan 100 gram daging ayam hanya 3,6 gram hingga 4,5 gram lemak.
"Lemaknya tinggi. Risiko mengkonsumsi makanan lemak tinggi terutama lemak jenuh tentu berefek tidak baik bagi kesehatan. Khususnya berisiko pada pembuluh darah dan risiko peningkatan kolestrol. Kalau kolestrol meningkat risikonya bisa penyakit jantung, ginjal, stroke. Intinya ke arah penyakit cardio vascular yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah," paparnya.
Artinya, secara umum dokter berhijab ini melihat bahwa konsumsi anjing secara kesehatan memang tidak baik. "Makanya kalau menurut saya, balik lagi ke pengajaran kita, daging anjing itu haram. Kita yakini saja, sesuatu yang haram pasti lebih banyak mudaratya daripada manfaatnya. Ternyata setelah dikaji memang lebih banyak mudaratnya," terangnya.
Namun, mengapa konsumsi daging anjing bisa merebak saat ini?
Menurutnya, merebaknya konsumsi daging anjing bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor ekonomi dan budaya.
Hal itu dinilai bisa memicu masyarakat mengkonsumsi daging anjing. Selain karena faktor ekonomi, menurutnya faktor budaya juga berpengaruh pada hal itu.
Misalnya ia menjelaskan bahwa di daerah Solo, mengkonsumsi anjing sebagai jamu dianggap bisa memberikan energi, khususnya bagi vitalitas kebugaran. "Bahkan saya juga terkejut ada masyarakat muslim yang mengkonsumsi padahal tahu itu haram. Mungkin karena kepercayaan dan budaya," lanjutnya lagi.
Padahal menurutnya, hal tersebut belum teruji secara klinis. Masih sebatas kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat saja. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk bijak memilih sumber makanan yang sehat dan bergizi.
Menurutnya, mencari makanan sehat tidak harus mahal. "Di sekitar kita banyak yang murah dan bergizi, contohnya ikan, telur, tahu, tempe. Seandaiya memakan daging anjing karena murah, kita balik lagi, pilihan yang murah juga banyak selain daging anjing," tegasnya.
Selain itu, bijak memilih makanan menurutnya bukan hanya dari harga, tapi kandungan. "Konsumsilah makanan yang aman. Kalau faktor kepercayaan perlu dijui secara klinis. Yang jelas, secara kesehatan yang sudah teruji daging anjing tidaklah lebih baik dari protein hewani lainnya," pesannya. Ia berharap, kesadaran masyarakat untuk bijak memilih makanan bisa terus meningkat. Sehingga ikut meningkatkan kesehatan masyarakat.
Editor : Rinaldi