Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022 – International Agency for Research on Cancer (WHO), lebih dari 9,7 juta jiwa meninggal akibat kanker secara global setiap tahun. Di Indonesia, kanker paru menempati posisi kedua kasus terbanyak setelah kanker payudara dengan angka kematian mencapai sekitar 30.843 jiwa per tahun. Kasus ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dengan perbandingan tiga banding satu dibanding perempuan.
Tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru di Indonesia adalah keterlambatan diagnosis. Lebih dari 85 persen pasien datang dalam stadium lanjut, yaitu stadium IIIB atau IV, sehingga peluang kesembuhan menurun signifikan. Data RSUP Persahabatan Jakarta bahkan menunjukkan peningkatan kasus baru lebih dari lima kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Di Provinsi Riau, melalui data Electronic Data Processing RSUD Arifin Ahmad, tercatat 462 kasus kanker paru pada tahun 2022 dan meningkat menjadi 500 kasus pada tahun 2023, menandakan urgensi skrining dan deteksi dini sebagai langkah pertahanan utama.
Kanker paru merupakan keganasan yang berasal dari epitel bronkus dan berkembang akibat pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali. Beberapa faktor risiko tidak dapat dihindari seperti usia di atas 40 tahun, jenis kelamin tertentu yang lebih rentan, riwayat kanker dalam keluarga, serta riwayat penyakit paru kronik. Namun sebagian besar faktor risiko lainnya dapat dikendalikan, sehingga perubahan gaya hidup berperan besar dalam pencegahan.
Merokok masih menjadi faktor yang paling dominan, karena lebih dari 80 hingga 90 persen kasus kanker paru berkaitan dengan paparan rokok. Satu batang rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia dan setidaknya 70 di antaranya bersifat karsinogenik. Paparan berulang menyebabkan kerusakan jaringan paru, peradangan kronis, gangguan sistem imun, hingga perubahan genetika sel yang akhirnya berkembang menjadi kanker. Perokok pasif memiliki risiko yang hampir sama, sehingga lingkungan bebas asap rokok sangat penting dalam mengurangi bahaya.
Risiko kanker paru juga meningkat pada individu dengan paparan zat karsinogen di lingkungan kerja. Pekerja tambang yang terpapar asbes atau debu silika, pekerja industri metalurgi yang berhubungan dengan arsenik, kromium atau nikel, serta mereka yang sering terpapar gas buang diesel memiliki peluang lebih tinggi mengalami kerusakan paru jangka panjang. Paparan gas radon dalam tambang bawah tanah juga diketahui menjadi pemicu kanker paru. Menggunakan alat pelindung diri dan melakukan evaluasi kesehatan rutin menjadi upaya pencegahan yang signifikan.
Polusi udara semakin memperbesar risiko. Partikulat halus seperti PM2.5 yang berasal dari kendaraan bermotor, industri dan pembakaran fosil dapat masuk hingga ke jaringan paru terdalam. Gas nitrogen dioksida, ozon, sulfur dioksida, serta polusi dalam ruangan seperti asap rokok atau pembakaran kayu meningkatkan peradangan dan kerusakan sel secara bertahap. Menjaga kualitas udara tempat tinggal, memilih lingkungan bersirkulasi baik dan membatasi paparan polusi menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan paru.
Gejala kanker paru pada tahap awal sering tidak terdeteksi atau hanya menyerupai infeksi pernapasan biasa, sehingga banyak pasien terlambat datang berobat. Batuk terus menerus yang tidak kunjung membaik, batuk berdarah, nyeri dada, sesak napas, infeksi paru yang berulang, hingga penurunan berat badan drastis tanpa penyebab yang jelas adalah tanda peringatan yang harus segera diperiksakan. Diagnosis lebih awal meningkatkan peluang keberhasilan terapi secara signifikan.
Penatalaksanaan kanker paru saat ini dilakukan secara multidisiplin. Pembedahan merupakan pilihan utama pada stadium awal. Pada stadium lanjut, terapi sistemik seperti kemoterapi dan terapi target diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan molekuler untuk memperpanjang survival. Radioterapi digunakan baik untuk tujuan paliatif seperti mengurangi sesak dan nyeri metastasis maupun untuk tujuan kuratif dalam kondisi tertentu. Kemajuan dalam modalitas terapi memungkinkan pasien memiliki kualitas hidup yang lebih baik selama proses pengobatan.
Pencegahan menjadi kunci utama dalam menurunkan angka kanker paru. Berhenti merokok merupakan langkah terbesar dalam menekan risiko. Pemeriksaan kesehatan paru secara berkala, terutama bagi individu dengan faktor risiko tinggi, sangat dianjurkan. Menghindari polusi, meningkatkan ventilasi ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan sesuai kebutuhan dapat memberikan perlindungan jangka panjang. Edukasi mengenai bahaya kanker paru juga perlu diperluas agar masyarakat lebih sadar terhadap deteksi dini dan perlunya skrining.
Jika terdapat kecurigaan kanker paru, pemeriksaan skrining perlu segera dilakukan agar diagnosis tidak terlambat. Rekomendasi IASTO-PDPI 2023 membagi dua pendekatan yaitu skrining untuk individu sehat berisiko tinggi dan deteksi dini untuk mereka yang sudah merasakan gejala pernapasan ringan. Pemeriksaan dapat meliputi rontgen dada, CT Scan paru, analisa dahak, bronkoskopi, hingga biopsi sesuai indikasi diagnostik.
Jangan menunda pemeriksaan ketika gejala muncul. Nafas adalah hidup dan menjaga paru berarti menjaga masa depan. RS Awal Bros menghadirkan layanan skrining dan konsultasi kanker paru yang lengkap dengan dukungan dokter spesialis onkologi toraks berpengalaman. Informasi jadwal dokter, pendaftaran dan fasilitas pelayanan dapat diakses melalui aplikasi halo awal bros, website resmi awalbros.com atau melalui call center 1500088 untuk kemudahan mendapatkan layanan.***
Editor : Bayu Saputra