Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Deteksi Dini Pendengaran pada Bayi dan Anak

Redaksi • Minggu, 28 Desember 2025 | 13:35 WIB
dr. Hidayatul Fitria, Sp.THT-KL
dr. Hidayatul Fitria, Sp.THT-KL

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - APAKAH bayi dan anak Anda tuli, lakukan pemeriksaan sejak bayi baru lahir sehingga kita bisa mengetahui bagaimana kondisi pendengaran anak dan mengambil langkah-langkah yang tepat. Untuk mengetahui gangguan pendengaran secara dini pada bayi dan anak-anak maka dilakukan skrining pendengaran, yang diprioritaskan untuk bayi dan anak yang berisiko mengalami gangguan pendengaran.

Menurut Dokter Spesialis THT Rumah Sakit Awal Bros Sudirman Pekanbaru dr Hidayatul Fitria Sp THT, tes ini penting dilakukan, karena apabila anak dibiarkan tumbuh dengan gangguan pendengaran yang tidak dapat terdeteksi, risiko gangguan kemampuan bicara pada anak juga semakin tinggi.

Tes pendengaran yang digunakan adalah otoacoustic emission (OAE). OAE adalah skrining pendengaran untuk menilai sela rambut yang terdapat di rumah siput (koklea). Tes yang menggunakan alat berbentuk headset ini dapat mengukur getaran suara dalam liang telinga.

Secara sederhana, OAE bekerja sebagai stimulan juga receiver. Stimulus yang dipancarkan melalui headset tersebut kemudian ditangkap oleh sel rambut dengan sebelumnya telah terlebih dahulu menggetarkan gendang telinga dan melalui tulang pendengaran.

Stimulus yang tertangkap oleh sel rambut ini kemudian mengahsilkan getaran yang kembali ditangkap oleh receiver. Setelah getaran diterima oleh receiver, barulah dapat diputuskan mengenai baik atau tidaknya fungsi koklea berdasarkan perbedaan amplitudo yang telah diterima.

 Biasanya, gangguan pada sel rambut terjadi pada bayi-bayi dengan kondisi prematur, tingkat bilirubi tinggi, meningitis, riwayat toxoplasmosis, rubella, cytomegavirus, dan herpes pada kehamilan dan faktor genetik.

Pada bayi-bayi dengan kondisi demikian, skrining OAE adalah tes yang harus dilakukan untuk mendeteksi kemampuan mendengarnya. Namun tes ini juga dianjurkan untuk dilakukan meski dengan tanpa kondisi tersebut, bahkan pada bayi yang baru berusia 2 hari.

 ‘’Pemeriksaan OAE banyak dilakukan di rumah sakit pada bayi yang baru lahir, sebagai    screening awal adanya gangguan pendengaran atau tidak. Di banyak negara maju, screening    bayi sudah menjadi keharusan tanpa kecuali, dikenal dengan istilah Universal Newborn Screening. OAE Screener dilengkapi dengan speaker dan mikrofon mini yang dibalut dengan sumbat dari bahan lembut (eartip) speaker akan menghantarkan stimuli ke dalam liang telinga akan direspons oleh cochlea, yang mana hantarannya akan dideteksi oleh mikrofon dan diukur oleh screener,’’ ujar Fitria.

 Idealnya OAE dilakukan saat bayi berusia 2 hari atau sebelum satu bulan. Bila hasilnya bayi dalam kondisi normal (pass), Anda bisa lega karena tidak ada masalah dengan pendengaran bayi. Namun bila rumah siput mengalami gangguan maka hasilnya adalah refer.

Jika demikian, sebaiknya lakukan tes pendengaran kembali dalam waktu tiga bulan.

Ada beberapa tes yang dilakukan yakni tes timpanometer. Alat ini bermanfaat untuk menentukan kondisi gendang telinga (misalnya terdapat kekakuan)  maupun ruangan telinga tengah-di balik gendang telinga, misalnya terdapat cairan di ruangan tersebut.

Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA). Pemeriksaan ini berguna untuk melihat reaksi sistim saraf pendengaran dan batang otak (brainstem) pada saat dilalui oleh rangsangan bunyi.

Saat ini dikenal berbagai jenis pemeriksaan BERA dengan jangakuan frekuensi yang berbeda. Pada anak di atas usia 3 bulan, pemeriksaan BERA dilakukan dengan pemberian obat penenang ringan agar anak tertidur. Alat elektroda dipasang di telingan bayi kemudian diputarkan suara.

Alat akan merekam gelombang otaks ebagai respons suara. Tes ini bisa mendeteksi kerusakan di cochlea, sistem saraf pendengaran dan jalur auditori di stem batang otak. Tes ini dilakukan saat bayi dalam keadaan tidur. Bila dari tes BERA ditandai ada kelainan, bayi disarankan mengikuti tes pendengaran yang lebih detail.

Usia bayi tidak lebih dari 3 bulan ketika dia melakukan tes lanjutan. Evaluasi hilangnya pendengaran dan menentukan tipe serta penyebab hilangnya pendengaran. Jika ternyata ditemukan bayi kehilangan pendengaran, alat Bantu dengar dan terapi bisa idmulai untuk membantu bayi belajar mendengar dan berbicara.

 Auditory Steady State Response (ASSR). Alat ini mampu memeriksa 8 frekuensi (4 frekuensi pada masing-masing telinga) pada saat yang sama (simultan), sehingga dapat menghasilkan perkiraan audiogram (grafik rentang frekuensi dan intensitas suara) yang dapat didengar balita.

‘’Rumah Sakit Awal Bros hanya memberikan rekomendasi ASSR kepada pasien karena rumah sakit tidak menjual alat ini,’’ terang Fitria.***

Editor : Bayu Saputra
#skrining pendengaran #rs awal bros #awal bros #OAE1a #skrining pendengaran bayi