Pasien pasca persalinan dengan metode sectio caesaria (sesar) seringkali mendatangi dokter dengan keluhan nyeri punggung bawah yang mengganggu. Hampir seragam, pasien menceritakan bahwa pusat rasa sakit berada tepat di area bekas suntikan anestesi spinal yang dilakukan saat operasi.
Karena lokasi nyeri yang spesifik ini, pasien meyakini bahwa keluhan tersebut adalah dampak langsung atau efek samping dari suntikan bius itu sendiri. Namun, secara medis, anggapan ini tidak benar atau sangat kecil kemungkinannya.
Fakta medis yang sebenarnya terjadi berkaitan erat dengan proses panjang kehamilan itu sendiri. Selama sembilan bulan mengandung, beban tulang belakang ibu bertambah secara bertahap dan mencapai puncaknya di trimester akhir.
Pertumbuhan janin memaksa terjadinya perubahan fisik drastis pada ibu, mulai dari pertambahan berat badan ibu, beban massa janin, hingga perubahan postur tulang belakang yang cenderung melengkung ke belakang (ekstensi) demi menyeimbangkan perut yang membesar.
Kombinasi ketiga faktor ini memberikan tekanan mekanik yang jauh lebih berat pada tulang belakang dibandingkan kondisi sebelum hamil.
Bagian tulang belakang yang paling terdampak oleh tekanan masif ini adalah sendi facet dan bantalan tulang belakang (discus intervertebralis).
Meskipun kedua struktur ini bersifat elastis, beban berlebih yang terus menerus dapat menyebabkan cedera berupa sobekan halus. Proses cedera ini seringkali berjalan perlahan tapi pasti, dan sebenarnya sudah menimbulkan ketidaknyamanan sejak masa kehamilan.
Namun, rasa nyeri tersebut sering diabaikan karena dianggap sebagai keluhan wajar ibu hamil. Setelah persalinan usai dan berat badan mulai turun, beban memang berkurang, namun cedera pada struktur tulang belakang tersebut masih tertinggal dan menimbulkan nyeri.
Karena momen medis terakhir yang diingat pasien pada area punggung adalah suntikan anestesi spinal, maka secara psikologis pasien mengaitkan nyeri sisa kehamilan tersebut dengan prosedur suntikan.
Padahal, keluhan nyeri punggung serupa juga sangat umum ditemukan pada ibu yang melahirkan secara normal, yang membuktikan bahwa penyebab utamanya adalah beban biomekanik, bukan jarum suntik.
Masalah pada sendi facet ini adalah keluhan umum yang bahkan bisa terjadi di usia muda akibat berbagai penyebab
Kabar baiknya, keluhan ini dapat diatasi dengan hasil yang memuaskan melalui terapi intervensi nyeri. Prosedur ini bukanlah operasi bedah, melainkan metode injeksi presisi tinggi seperti blok saraf atau terapi regeneratif untuk peremajaan sendi.
Dilakukan dengan panduan alat pencitraan canggih seperti USG dan fluoroskopi (C-Arm), terapi ini mampu menangani sumber nyeri secara akurat. Oleh karena itu, jika ibu pasca persalinan mengalami nyeri punggung yang membandel, sangat disarankan untuk tidak mengabaikannya agar tidak berkembang menjadi nyeri hebat di kemudian hari.***
Editor : Arif Oktafian