Demam Berdarah Dengue (DBD) atau yang akrab dikenal masyarakat sebagai demam berdarah masih menjadi salah satu penyakit endemik yang paling banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.
Sebagai salah satu episentrum utama di Asia Tenggara, faktor iklim dan lingkungan di negara kita sangat mendukung perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor perantara penyakit ini.
Di Indonesia, DBD masih menjadi masalah kesehatan serius dengan fluktuasi kasus yang sangat dipengaruhi oleh cuaca ekstrem, terutama saat musim hujan tiba.
Meskipun berbagai upaya pencegahan terus digalakkan, kepadatan penduduk dan kondisi lingkungan membuat kasus DBD masih terus bermunculan dengan angka yang signifikan.
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang memiliki empat serotipe, yakni DENV 1, 2, 3, dan 4, yang menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk betina. Nyamuk ini memiliki kebiasaan berkembang biak di air tergenang yang jernih seperti bak mandi, vas bunga, hingga ban bekas.
Peningkatan kasus biasanya melonjak drastis saat musim hujan karena banyaknya genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk bertelur. Kelembaban udara yang tinggi memperpanjang usia nyamuk, sementara suhu hangat mempercepat siklus hidup serta perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk itu sendiri, sehingga risiko penularan kepada manusia pun meningkat tajam.
Siapa saja berisiko terkena penyakit ini, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga akhir Oktober 2025, tercatat lebih dari 131 ribu kasus DBD di Indonesia dengan sebaran di 471 kabupaten/kota. Khusus untuk wilayah Riau, situasi ini patut menjadi perhatian bersama.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat sebanyak 1.471 kasus terjadi di 12 kabupaten/kota sejak Januari hingga April 2025, dengan angka kematian mencapai 17 orang. Angka kematian ini menjadi pengingat keras bagi kita semua untuk tidak meremehkan gejala awal penyakit ini.
Seseorang dapat terinfeksi virus dengue setelah digigit nyamuk pembawa virus, dengan masa inkubasi atau jeda waktu munculnya gejala berkisar antara 4 hingga 10 hari.
Gambaran klinis DBD sangat bervariasi dan memiliki perjalanan penyakit yang terbagi menjadi tiga fase utama, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Fase demam biasanya terjadi pada hari pertama hingga ketiga, ditandai dengan panas tinggi mendadak yang bisa mencapai 40 derajat Celcius, disertai sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, serta nyeri pada otot, sendi, dan tulang.
Gejala lain yang sering muncul adalah ruam kemerahan pada kulit. Fase yang paling berbahaya dan sering mengecoh pasien maupun keluarga adalah fase kritis, yang umumnya terjadi pada hari keempat hingga keenam.
Pada fase ini, demam pasien turun hingga suhu tubuh kembali normal atau bahkan lebih rendah, sehingga sering kali disalah artikan sebagai tanda kesembuhan.
Padahal, pada saat inilah risiko kegawatan mengancam akibat terjadinya kebocoran plasma darah yang hebat. Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai meliputi nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan spontan seperti mimisan ataugusi berdarah, kulit teraba dingin dan lembab, serta penurunan kesadaran.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan syok dan kegagalan sirkulasi darah yang fatal. Setelah melewati masa kritis ini, pasien akan memasuki fasebpemulihan atau konvalesen yang ditandai dengan membaiknya nafsu makan dan peningkatan frekuensi buang air kecil.
Untuk memastikan diagnosis dan mencegah komplikasi, pemeriksaan ke dokter sangat dianjurkan jika demam tinggi tidak turun dalam 2 hingga 3 hari, terutama jika disertai gejalal emas parah atau tanda perdarahan.
Pemeriksaan laboratorium seperti deteksi virus dengan NS1 dapat dilakukan di hari-hari awal, sementara pemeriksaan kadar hematokrit dan trombosit menjadi sangat krusial pada hari ketiga hingga ketujuh.
Pemantauan ketat pada fase ini bertujuan untuk mendeteksi penurunan trombosit dan kebocoran plasma sedini mungkin agar dokter dapat melakukan intervensi pencegahan syok.
Dalam hal penanganan di rumah, pasien demam berdarah sangat dianjurkan untuk istirahat total dan meningkatkan asupan cairan, baik berupa susu, jus, cairan isotonik, maupun oralit. Namun, jika muncul tanda bahaya seperti muntah persisten, nyeri peruthebat, atau jumlah urine yang mulai berkurang, pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat seperti IGD RS Awal Bros untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Kunci keselamatan pasien DBD terletak pada ketepatan diagnosis, tatalaksana dini, serta pemantauan klinis yang ketat sejak fase demam hingga fase kritis berlalu.
Upaya pencegahan penyakit ini tidak bisa hanya bergantung pada penanganan medis, tetapi harus dimulai dari lingkungan. Pemerintah terus menggalakkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan strategi 3M Plus, yaitu menguras penampungan air, menutup rapat tempat air, dan mendaur ulangbarang bekas.
Kata “Plus” meliputi langkah tambahan seperti menggunakan lotion anti nyamuk, memasang kelambu, melakukan fogging, hingga mengaktifkan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).
Langkah ini harus dilakukan secara kolektif oleh seluruh warga masyarakat, terutama di musim penghujan.
Selain pengendalian lingkungan, perlindungan diri kini dapat diperkuat dengan vaksinasi. Vaksin dengue tetravalent yang sudah tersedia di Indonesia mampu membentuk kekebalan tubuh terhadap keempat serotipe virus dengue sekaligus.
Vaksin ini direkomendasikan untuk kelompok usia 4 hingga 60 tahun. Pemberian vaksin diharapkan dapat melindungi individu dari infeksi berulang, mengurangi risiko rawat inap, serta mencegah terjadinya DBD derajat berat atau syok.
Kombinasi antara upaya pencegahan lingkungan melalui 3M Plus dan perlindungan biologis melalui vaksinasi diharapkan dapat menurunkan beban kasus dan menekan angka kematian akibat demam berdarah secara signifikan di masa depan.***
Editor : Bayu Saputra