Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Gondong dan Tumor Parotis Bisa Terlihat Mirip, Dokter RS Awal Bros Jelaskan Perbedaannya

Tim Redaksi • Minggu, 8 Maret 2026 | 14:22 WIB

dr. Eko Hamidianto, Sp.B, Subsp.KL (K)
dr. Eko Hamidianto, Sp.B, Subsp.KL (K)

Pembengkakan pada pipi sering kali dianggap sebagai gondongan oleh masyarakat. Padahal, tidak semua pembengkakan di area tersebut disebabkan oleh infeksi virus. Dalam beberapa kasus, benjolan di sekitar telinga atau bawah rahang juga dapat menjadi tanda adanya tumor pada kelenjar ludah yang disebut kelenjar parotis. Dokter spesialis menjelaskan bahwa memahami perbedaan antara gondong (parotitis) dan tumor parotis sangat penting agar masyarakat tidak terlambat mendapatkan penanganan yang tepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus gondong atau parotitis kembali menjadi perhatian di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat hingga November 2024 terdapat sekitar 6.593 kasus gondongan secara nasional, dengan sebagian besar terjadi pada anak usia sekolah dasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyakit yang sering dianggap ringan ini masih menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.

Kelenjar parotis sendiri merupakan kelenjar ludah terbesar yang terletak di bagian depan dan bawah telinga. Kelenjar ini berfungsi memproduksi air liur yang membantu proses pencernaan sekaligus menjaga kesehatan rongga mulut. Letaknya yang sangat dekat dengan saraf wajah (nervus fasialis) membuat gangguan pada kelenjar ini dapat memengaruhi ekspresi wajah, seperti tersenyum atau menutup mata.

Parotitis atau gondong merupakan peradangan pada kelenjar parotis yang paling sering disebabkan oleh virus mumps dari kelompok paramyxovirus. Penularannya terjadi melalui droplet ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Selain infeksi virus, peradangan pada kelenjar parotis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, sumbatan pada saluran kelenjar ludah, atau penyakit autoimun seperti sindrom Sjögren.

Gejala khas gondongan adalah pembengkakan pada satu atau kedua sisi pipi yang sering disertai demam, nyeri saat mengunyah, serta rasa tidak nyaman di sekitar telinga. Pada anak-anak, sebagian besar kasus bersifat ringan dan biasanya dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar 7 hingga 10 hari. Namun pada remaja dan orang dewasa, gondongan dapat menimbulkan komplikasi seperti radang testis (orchitis), meningitis aseptik, hingga gangguan pendengaran.

Pencegahan utama penyakit gondong adalah melalui vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella). Vaksin ini terbukti mampu menurunkan angka kejadian gondongan secara signifikan di berbagai negara. Imunisasi biasanya diberikan pada usia sekitar 15 bulan dan dilanjutkan dengan dosis kedua pada usia 4 hingga 6 tahun.

Meski gondongan sering menjadi penyebab pembengkakan pada pipi, tidak semua pembengkakan di area tersebut disebabkan oleh infeksi. Dalam beberapa kasus, benjolan yang muncul di sekitar telinga atau bawah rahang dapat merupakan tumor pada kelenjar parotis. Tumor parotis merupakan pertumbuhan sel abnormal pada kelenjar ludah yang dapat bersifat jinak maupun ganas.

Sekitar 80 persen tumor parotis bersifat jinak, dengan jenis yang paling sering ditemukan adalah adenoma pleomorfik. Tumor jinak biasanya tumbuh perlahan dan muncul sebagai benjolan di pipi atau bawah telinga tanpa rasa nyeri. Kondisi ini umumnya hanya terjadi pada satu sisi wajah. Namun sekitar 20 persen tumor parotis bersifat ganas, seperti karsinoma mucoepidermoid atau karsinoma adenoid cystic, yang dapat tumbuh lebih cepat dan sering disertai gejala seperti nyeri, kesulitan membuka mulut, hingga kelemahan pada otot wajah akibat gangguan saraf fasialis.

Menurut dr Eko Hamidianto, Sp.B, Subsp.KL(K), dokter spesialis bedah dengan subspesialisasi kepala leher di RS Awal Bros Group, masyarakat perlu lebih waspada terhadap pembengkakan pada pipi atau bawah telinga yang tidak kunjung hilang. Ia menjelaskan bahwa meskipun gondongan merupakan penyebab yang cukup sering, benjolan yang menetap juga dapat menjadi tanda adanya tumor pada kelenjar parotis.

“Jika pembengkakan berlangsung lebih dari dua minggu, terasa semakin membesar, atau disertai kelemahan pada wajah, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebabnya,” jelas dr Eko.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG), CT scan, atau MRI pada kelenjar ludah. Selain itu, pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus atau Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) juga dapat dilakukan untuk mengetahui jenis sel pada benjolan tersebut.

Penanganan kedua kondisi ini juga berbeda. Pada parotitis yang disebabkan oleh virus, pengobatan umumnya bersifat suportif seperti istirahat yang cukup, konsumsi cairan yang adekuat, serta pemberian obat pereda nyeri. Antibiotik dapat diberikan apabila terdapat infeksi bakteri sekunder. Sementara itu, tumor parotis umumnya memerlukan tindakan operasi yang disebut parotidektomi untuk mengangkat jaringan tumor. Pada kasus tumor ganas, terapi tambahan seperti radioterapi dapat direkomendasikan sebagai bagian dari pengobatan.

Di rumah sakit dengan fasilitas diagnostik lengkap seperti RS Awal Bros Group, evaluasi oleh dokter spesialis serta pemeriksaan radiologi memungkinkan penegakan diagnosis yang lebih cepat dan akurat pada pasien dengan keluhan benjolan di sekitar kelenjar ludah. Deteksi dini menjadi kunci penting dalam menentukan keberhasilan penanganan, terutama pada kasus tumor parotis.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua pembengkakan pipi adalah gondongan. Edukasi mengenai pentingnya vaksinasi, kewaspadaan terhadap benjolan yang tidak biasa, serta pemeriksaan medis sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi dan memastikan penanganan yang tepat.***

Oleh : Dokter Spesialis Bedah, Konsultan Bedah Kepala dan Leher RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, dr. Eko Hamidianto, Sp.B, Subsp.KL (K)

 

Editor : Bayu Saputra
#rs awal bros #tumor parotis #rs awal bros pekanbaru #tumor