Banyak orang menganggap gusi berdarah saat menyikat gigi sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, kondisi ini bisa menjadi sinyal awal dari masalah kesehatan yang jauh lebih serius, mulai dari infeksi jaringan gigi hingga komplikasi penyakit sistemik seperti diabetes dan gangguan jantung.
“Gusi yang sehat seharusnya tidak mudah berdarah. Bila kondisi ini terjadi berulang, itu bukan hal normal dan perlu segera diperhatikan,” tegas drg. Mutiara Harvia Dewi, Sp.Perio, dokter gigi spesialis periodonsia RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru.
Gusi berdarah sendiri adalah kondisi keluarnya darah dari jaringan gusi yang dapat terjadi saat menyikat gigi, menggunakan benang gigi (flossing), makan makanan keras, atau bahkan secara spontan tanpa sebab yang jelas. Penyebab paling umum adalah penumpukan plak dan karang gigi yang memicu peradangan pada jaringan gusi, kondisi yang dalam dunia medis dikenal sebagai gingivitis.
Jika dibiarkan, gingivitis dapat berkembang menjadi periodontitis, infeksi serius pada jaringan penyangga gigi yang berisiko menyebabkan gigi goyang hingga tanggal. Selain faktor kebersihan mulut, sejumlah kondisi sistemik juga dapat menjadi pemicu, antara lain kekurangan vitamin C, penyakit diabetes melitus, kelainan darah, hingga konsumsi obat-obatan tertentu.
Yang membuat kondisi ini kerap terlambat ditangani adalah absennya rasa sakit pada tahap awal. Mutiara menjelaskan bahwa tubuh sebenarnya sudah memberikan sinyal peringatan sebelum gusi mulai berdarah, hanya saja tanda-tanda ini sering dianggap sepele.
“Gusi merah, bengkak, sensitif, bau mulut, atau munculnya karang gigi adalah sinyal awal yang kerap luput dari perhatian. Pada tahap awal, peradangan gusi biasanya tidak disertai rasa sakit, sehingga banyak orang tidak menyadari ada masalah,” ujarnya.
Karena tidak nyeri, seseorang bisa membiarkannya berlarut-larut hingga kerusakan jaringan sudah terlanjur parah.
Gusi berdarah dapat dialami siapa saja tanpa batasan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia. Namun, risiko meningkat signifikan pada beberapa kelompok. Perokok aktif termasuk yang paling rentan karena kandungan zat dalam rokok mengganggu aliran darah ke jaringan gusi sekaligus mempercepat pembentukan karang gigi. Penderita diabetes juga perlu waspada sebab kadar gula darah yang tidak terkontrol memperburuk kondisi jaringan gusi. Ibu hamil pun tidak luput dari risiko ini karena perubahan hormonal selama kehamilan meningkatkan sensitivitas gusi, begitu pula dengan orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
Di masyarakat, beredar anggapan bahwa gusi berdarah semata-mata disebabkan oleh kekurangan vitamin C. drg. Mutiara meluruskan: vitamin C memang berperan penting dalam menjaga kekuatan jaringan gusi dan proses penyembuhan luka, namun penyebab paling utama gusi berdarah tetap adalah penumpukan plak dan karang gigi. “Mengonsumsi suplemen vitamin C tanpa menjaga kebersihan mulut tidak akan menyelesaikan masalahnya,” tegasnya. Vitamin C hanyalah faktor pendukung, bukan solusi tunggal.
Bila dibiarkan tanpa penanganan, gusi berdarah bukan sekadar masalah rongga mulut. Infeksi yang berkembang di jaringan periodontal dapat memicu komplikasi yang lebih luas: gusi turun, bau mulut kronis, gigi goyang hingga lepas, diabetes yang semakin sulit dikendalikan, hingga peningkatan risiko penyakit jantung dan infeksi sistemik tertentu. drg. Mutiara berbagi satu pengalaman klinis yang patut menjadi perhatian. Seorang pasien datang dengan keluhan gusi berdarah secara spontan, dalam jumlah banyak, dan disertai bengkak selama beberapa hari. Setelah pemeriksaan darah dilakukan, ternyata perdarahan tersebut bukan berasal dari masalah gusi semata, melainkan merupakan gejala dari penyakit demam berdarah dengue.
“Itulah mengapa gusi berdarah yang tidak sesuai dengan penyebab lokal harus segera dievaluasi lebih lanjut,” tegasnya.
Kabar baiknya, sebagian besar kasus gusi berdarah bisa dicegah. Langkah paling mendasar adalah menyikat gigi dengan benar setidaknya dua kali sehari menggunakan sikat berbulu lembut (soft bristle), karena bulu sikat yang terlalu keras justru dapat melukai jaringan gusi. Kebiasaan flossing atau membersihkan sela gigi dengan benang gigi juga tidak kalah penting.
Banyak orang menghentikan flossing ketika gusinya berdarah, padahal perdarahan itu justru pertanda bahwa flossing memang dibutuhkan, bukan tanda bahaya. Dari sisi nutrisi, asupan vitamin C, vitamin D, kalsium, dan protein membantu menjaga kekuatan jaringan gusi, sementara konsumsi gula berlebihan, soda, alkohol, dan rokok terbukti memperburuk kondisi gusi dalam jangka panjang. Penggunaan obat kumur antiseptik dapat membantu sebagai pelengkap, namun tidak boleh menggantikan sikat gigi dan sebaiknya atas anjuran dokter karena penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan berisiko menimbulkan efek samping.
Baca Juga: Tak Disangka, 5 Makanan dan Minuman Ini Bermanfaat untuk Kesehatan Otak, Selain Ikan serta Sayuran Hijau, Ada Kopi dan Teh REDAK
Mutiara menegaskan bahwa pemeriksaan ke dokter gigi sebaiknya dilakukan setiap enam bulan sekali meskipun tidak ada keluhan, karena banyak masalah gusi berkembang diam-diam tanpa rasa sakit. Ia juga menyarankan agar segera berkonsultasi apabila gusi berdarah terjadi berulang tanpa luka yang jelas, perdarahan tidak berhenti dalam waktu singkat, disertai gusi bengkak atau gigi yang terasa goyang, maupun ketika kondisi ini muncul bersamaan dengan gejala lain seperti demam atau kelelahan ekstrem.
“Jangan tunggu sampai sakit. Semakin dini ditangani, semakin kecil risiko kerusakan yang permanen,” pungkasnya.***
Editor : Arif Oktafian