PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kondisi kabut asap yang makin parah menyelimuti Kota Pekanbaru beberapa waktu terakhir. Kondisi udara yang menurun tanpa disadari berdampak langsung bagi kesehatan, khususnya kesehatan paru dan pernapasan.
Dijelaskan oleh dokter spesialis paru dari RS Awal Bros Panam, dr Fajar Agung Prayogo SpP hal tersebut dikarenakan, normalnya kandungan oksigen di atmosfer itu hanya 21 persen. Dengan ada yang kabut asap di udara Pekanbaru ini akan mengurangi persentase oksigen di udara sehingga sangat rentan terhadap kelompok-kelompok tertentu.
"Nah kelompok-kelompok tersebut adalah beberapa pasien yang sudah memiliki riwayat permasalahan di paru maupun pernapasan. Seperti asma maupun penyakit saluran pernapasan yang lainnya ataupun penyakit jantung pembuluh darah anak-anak, orang usia lanjut, lansia, wanita hamil dan orang-orang yang merokok," paparnya.
Baca Juga: Pegadaian Kanwil II Pekanbaru dan Pemkab Sijunjung Perkuat Sinergi Pengembangan Geopark
Adapun dampak atau efek dari paparan kabut asap ini bagi kesehatan paru dan pernapasan terbagi menjadi efek jangka panjang dan juga jangka pendek.
"Untuk jangka pendek bisa dikategorikan lagi menjadi efek berat dan ringan. Kalau yang ringan seperti iritasi, keluhan pernapasan seperti batuk pilek yang bisa diobati dengan sendirinya. Ataupun asien asma dan yang memiliki riwayat Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang akhirnya mengalami fase serangan yang harus mendapat perawatan dari fasiltias kesehatan seperti klinik maupun rumah sakit," ungkapnya.
Sedangkan efek jangka panjang sendiri bisa menimbulkan efek infeksi dan non infeksi. Untuk efek infeksi bisa terjadi pnemonia yang diakibatkan paparan dari asap kabut asap yang terus-menerus terhadap saluran pernapasan maupun paru. Sehingga sistem kekebalan paru bisa turun dan bakteri-bakteri di udara dapat menginfeksi paru.
Baca Juga: Wako Agung Tegaskan Tak Ada Lagi Penahanan Ijazah Siswa karena Tunggakan Biaya di Pekanbaru
Efek lainnya ialah bisa terjadi penurunan fungsi paru yang sangat kronik. "Ini bisa terjadi pada pasien yang sebelumnya tidak ada riwayat asma atau PPOK, karena paparan dari asap tersebut yang berkepanjangan, akhirnya bisa menjadi asma atau menjadi PPOK," lanjutnya.
Paparan asap yang terus-menerus dalam jangka panjang juga bisa meningkatkan risiko kanker paru serta meningkatkan risiko terjadi Fibrosis paru atau suatu keadaan baru menjadi lebih kaku.
Untuk itu, dokter yang hobi olahraga padel ini pun membagikan tips khususnya untuk kelompok rentan agar bisa terhindar dari dampak paparan asap.
Baca Juga: Akselerasi Produktivitas Usaha Kelompok Perempuan Okura, Tim PkM Unri Hibahkan Alat Produksi
Tips pertama ialah menghindari atau mengurangi aktivitas di luar rumah. "Jika memang harus melakukan aktivitas di luar rumah, harus menggunakan masker," ujarnya.
Tips kedua ialah disarankan untuk memperbanyak minum air putih.
Tips ketiga ialah jangan mengabaikan gejala ringan, khususnya untuk masyarakat yang mempunyai gejala penyakit paru maupun jantung. "Jika terjadi gejalan ringan segera kontrol ke dokter paru atau jantung untuk dicek. Jangan menyepelekan gejala ringan," pesannya.
Baca Juga: Ketua DPRD Riau Minta Pertamina Cari Solusi Konkret Antrean Solar di SPBU
Tips keempat ialah menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta makan-makanan bergizi. Perbanyak buah dan sayur yang sudah dicuci bersih dan diolah dengan baik.
Tips kelima ialah upayakan polusi udara tidak masuk dalam rumah. Caranya ialah dengan menutup jendela dan pintu. "Kalau bisa diupayakan menggunakan air purifier untuk menyarimg udara," lanjutnya.
Tips keenam ialah melindungi tempat atau wadah penampungan air minum dan makan dari paparan asap.
Baca Juga: Investasi Hilirisasi Menguat, GIFA dan METEC Indonesia 2026 Siapkan Teknologi untuk Industri Logam
Tips ketujuh ialah berhenti merokok. Kondisi udara yang penuh kabut asap ditambah kebiasaan merokok bisa memperparah permasalahan paru dan pernapasan.
Saat ini dikatakannya sudah banyak pasien yang datang dengan keluhan terkait paparan kabut asap. Diharapkan, kabut asap bsia segera berlalu dan kondisi udara berada di level sehat sehingga tidak membahayakam masyarakat.(azr)
Editor : M. Erizal