Musim kabut asap yang kerap melanda wilayah Riau dan sekitarnya setiap tahun bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan ibu hamil dan janin di dalam kandungan. Menurut dr. Alfiyanto Utama, M.Ked(OG), Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, paparan asap pada ibu hamil terjadi ketika seorang wanita yang sedang mengandung menghirup udara yang tercemar, baik dari asap rokok, vape, kebakaran lahan dan hutan, kendaraan bermotor, maupun asap kayu bakar, dalam jangka waktu singkat maupun lama. Ia mengingatkan bahwa jenis asap yang paling perlu diwaspadai oleh ibu hamil di Riau adalah asap kebakaran lahan dan asap rokok, karena keduanya paling sering dan paling intens dijumpai di lingkungan sekitar.
Alfiyanto menjelaskan bahwa ibu hamil termasuk kelompok yang jauh lebih rentan terhadap dampak polusi udara dibandingkan orang dewasa pada umumnya. Selama kehamilan, konsumsi oksigen tubuh meningkat sekitar 20 persen dan volume udara yang dihirup per menit melonjak hingga 40–50 persen, sehingga zat beracun dan partikel polutan yang masuk ke dalam tubuh menjadi jauh lebih banyak. Ditambah lagi, sistem kekebalan tubuh ibu hamil mengalami penyesuaian alami agar tidak menolak janin, yang membuatnya lebih mudah terserang infeksi saluran pernapasan. Akibatnya, saat kualitas udara memburuk, ibu hamil berisiko mengalami kekurangan oksigen, iritasi saluran pernapasan atas, kerusakan plasenta, peningkatan tekanan darah atau preeklampsia, hingga hambatan perkembangan janin.
Baca Juga: Optimalkan Perawatan Luka Ringan, Ini Kata Apoteker Dr apt Lusy Noviani
Menurut dokter yang berpraktik di RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru ini, dampak paparan asap terhadap kehamilan bisa sangat besar dan dalam kondisi tertentu berakibat fatal, baik bagi ibu maupun janin. Gangguan yang paling sering muncul meliputi batuk, sesak napas, dan iritasi tenggorokan akibat infeksi saluran pernapasan atas, hipertensi kehamilan, risiko komplikasi pada janin, hingga peradangan rahim yang dapat memicu kontraksi dini. Ia memaparkan, secara biologis, kandungan karbon monoksida dalam asap mengikat hemoglobin darah ibu sehingga jumlah oksigen yang sampai ke janin berkurang drastis. Nikotin dan zat kimia berbahaya lainnya menyempitkan pembuluh darah di plasenta sehingga janin kekurangan asupan nutrisi penting, sementara zat polusi memicu peradangan yang dapat merusak jaringan plasenta. Kondisi-kondisi ini pada akhirnya dapat memicu kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, cacat bawaan, bahkan keguguran.
Baca Juga: IVS dan VSI Riau Edukasi Manfaat Makanan Vegan
Alfiyanto menambahkan, tingkat keparahan dampak ini juga berbeda antara paparan asap yang bersifat singkat dan yang terjadi terus-menerus, terutama dari sisi akumulasi racun dalam tubuh dan risiko komplikasi jangka panjang. Ia menegaskan, tidak ada tingkat paparan asap rokok yang aman selama kehamilan, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, sehingga ibu hamil yang tinggal serumah dengan perokok tetap berada dalam risiko yang sama nyatanya.
Dokter spesialis obgyn RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru ini menyarankan, saat kualitas udara memburuk, langkah paling penting yang harus dilakukan ibu hamil adalah menghindari aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam rumah dengan menutup akses udara luar seperti pintu, jendela, dan ventilasi, serta menggunakan alat pembersih udara bila memungkinkan. Bagi ibu hamil yang tetap harus bekerja di luar rumah, dr. Alfiyanto menganjurkan penggunaan masker N95 atau KN95, atau masker tiga lapis yang menutup rapat hidung dan mulut apabila masker N95 sulit didapatkan, membatasi durasi aktivitas di luar ruangan, serta menjaga hidrasi dan nutrisi tubuh. Ia juga menyarankan konsumsi makanan kaya vitamin C seperti buah beri dan sitrus, sayuran hijau yang kaya vitamin E dan antioksidan, ikan berlemak aman sumber omega-3, serta kacang-kacangan, untuk membantu tubuh melawan efek buruk polusi. Air putih minimal 2 hingga 2,5 liter per hari, teh hijau dalam jumlah wajar, dan air kelapa murni juga disarankan untuk menjaga hidrasi dan membantu mengeluarkan partikel polusi yang terhirup.
Alfiyanto mengingatkan ibu hamil dan keluarga untuk waspada terhadap sejumlah tanda bahaya yang mengharuskan pemeriksaan medis segera setelah terpapar asap, seperti sesak napas, nyeri dada, mengi, dan batuk terus-menerus, gerakan janin yang tiba-tiba berkurang atau berhenti, kram perut hebat atau kontraksi dini, perdarahan atau keluarnya cairan dari jalan lahir, serta gejala neurologis seperti pusing hebat, mata berkunang-kunang, lemas, mual muntah berlebihan, hingga pingsan yang dapat menandakan keracunan gas karbon monoksida. Sebagai pesan penutup, Alfiyanto Utama mengajak seluruh ibu hamil dan keluarga di Riau untuk lebih waspada menghadapi kabut asap dan polusi udara, termasuk mengurangi paparan asap rokok di lingkungan rumah, demi menjaga kesehatan ibu dan buah hati yang merupakan anugerah yang harus dijaga sepenuh hati.***
Oleh : Dokter Spesialis Obgyn RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, dr. Alfiyanto Utama M.Ked(OG), Sp.OG
Editor : Bayu Saputra