RENGAT (RIAUPOS.CO) - Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) mengimbau agar tetap waspada terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Karena penyakit DBD yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti tetap berkembang biak pada musim kemarau.
Selain itu, kasus DBD tertinggi sepanjang tahun 2026 juga terjadi pada musim kemarau yakni pada bulan Agustus kemarin. Di mana, penyakit DBD sepajang bulan Agustus 2026 mencapai 69 kasus.
Demikian disampaikan Plt Kepala Diskes Inhu Indrawansyah SE MSI. "Salah satu upaya untuk mengantisipasi terserang DBD tetap mengedepankan hidup bersih dengan menggalakkan 3M plus," ujar Indrawansyah, Ahad (20/9).
Baca Juga: Disfungsi Ereksi Tak Lagi Monopoli Pria Lanjut Usia, RS Awal Bros Ingatkan Bahaya Diam-Diam Ini
Dijelaskannya, nyamuk Aedes Aegypti tetap berkembang biak di tempat penampungan air bersih buatan manusia yang tidak tergantung pada hujan, seperti bak mandi, ember, dispenser, dan pot tanaman. Bahkan, suhu udara yang panas pada musim kemarau dapat mempercepat proses metabolisme dan perkembangbiakan nyamuk.
Makanya, kasus DBD tetap bisa muncul dan bahkan meningkat saat musim kemarau. "Saat kemarau, warga sering lebih banyak menampung cadangan air di rumah. Jika dibiarkan terbuka bisa menjadi sarang nyamuk," ungkapnya.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Dorong Peningkatan Mutu Layanan Faskes
Untuk itu harapnya, mencegah penyebaran nyamuk dapat dilakukan dengan menguras tempat penampungan air secara rutin. Kemudian, menutup rapat wadah penyimpanan air dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air serta menggunakan losion anti nyamuk.
Berdasarkan data pada Diskes Inhu lonjakan kasus DBD dari Januari hingga Agustus 2026 mencapai 235 kasus. Peningkatan kasus tertinggi terjadi saat musim kemarau pada Agustus 2026 dengan akumulasi 69 kasus.
Baca Juga: Cuaca Sedang Panas Terik, Jaga Kelembapan Kulit Wahah Anda, Begini Caranya
Trend penularan pada Januari-Februari tercatat sebanyak 18 kasus, 15 kasus pada Maret, 28 kasus pada April, 19 kasus pada Mei, 37 kasus pada Juni, dan 31 kasus pada Juli. "Lonjakan drastis pada Agustus sebanyak 69 kasus terbanyak berada di wilayah kerja Pangkalan Kasai," terangnya.(kas)
Editor : Arif Oktafian