PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dampak asap akibat karhutla yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda akan menimbulkan gangguan pernapasan yang semakin terasa. Terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia dan orang yang telah memiliki penyakit paru dan saluran napas seperti asma, TB, PPOK, Kanker paru, sinusitis, rhinitis.
Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Provinsi Riau, Dr dr Indra Yovi Sp.P (K) mengatakan, dampaknya akan semakin lebih terasa dan semakin berat beriring dengan semakin tingginya kosentrasi PM 2,5 pada kandungan asap karhutla.
Peningkatan Kasus ISPA dan bronkitis baik rawat jalan dan rawat inap meningkat signifikan pada bulan agustus dan september ini dibandingkan bulan Mei-Juni-Juli.
Baca Juga: Langgar Ketentuan, Imigrasi Pekanbaru Deportasi WN Malaysia
“Pemprov, Pemkab dan Pemko se-Riau sebaiknya sudah mulai melakukan pemetaan untuk mempersiapkan Rumah Oksigen/Tenda Oksigen yang nantinya bisa diperuntukkan untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan oksigen,” katanya.
Distribusi masker secara masif dan edukasi pentingnya pemakaian masker harus lebih ditingkatkan. Pemerintah tidak boleh ragu membuat keputusan yang bijak terutama dalam melarang kegiatan outdoor pada kondisi seperti sekarang.
“Termasuk juga selalu mengevaluasi PJJ bagi sekolah, dan jangan ragu memperpanjang PJJ seandainya kondisi udara masih pada level berbahaya untuk kesehatan,” ujarnya.
Baca Juga: Tujuh Pejabat Polres Kuansing Berganti, Ini Pesan Kapolres Hidayat Perdana
Dengan kondisi kabut asap seperti ini, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker. Masker yang paling direkomendasikan adalah masker N95, karena dapat menyaring polutan asap kebakaran hutan yang ukurannya PM 2,5.
“Masker yang paling direkomendasikan yakni masker N95. Tetapi minimal pakai masker bedah biasa untuk kondisi sekarang sudah cukup, karena masker N95 kadang susah didapat dan harganya relatif mahal,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga merekomendasikan pemakaian air purifier di dalam ruangan, bila asap masuk ke dalam rumah bisa dibersihkan sehingga tidak terjadi indoor pollution.
Baca Juga: Timnas 3x3 U17 Kawin Gelar Juara Asia Tenggara, Pemain Didominasi Jebolan DBL
“Aktifitas olahraga di luar rumah seperti bersepeda ataupun jogging dengan kondisi sekarang sebaiknya ditunda,” sebutnya.
Dengan kondisi seperti sekarang ini, masyarakat juga dihimbau untuk minum air putih yang cukup. Hal tersebut sangat diperlukan untuk menghindari dehidrasi dan tenggorokan kering.
“Masyarakat kami imbau untuk dapat menjaga kesehatan, seperti minum air putih yang cukup. Serta makan makanan yang sehat dan bergizi,” imbaunya.
Baca Juga: Kualitas Udara Kuansing Bertahan di Level Tidak Sehat
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mengimbau kelompok rentan terutama lansia dan orang-orang yang punya masalah atau penyakit paru dan saluran napas sebaiknya menghindari aktifitas diluar rumah.
“Kelompok rentan seperti lansia, mereka yang memiliki penyakit paru sebaiknya menghindari aktivitas diluar rumah,” katanya. (sol)
Editor : M. Erizal