RIAUPOS.CO - Sejak dahulu, kunyit sudah lama jadi andalan di dapur dan bahan jamu masyarakat Indonesia.
Khasiat kunyit secara turun temurun dipercaya bisa meredakan berbagai keluhan, dari nyeri sendi hingga gangguan pencernaan.
Seiring populernya gaya hidup sehat, klaim tentang kunyit kian beragam mulai dari menurunkan peradangan, mengatasi migrain, sampai mencegah kanker dan alzheimer.
Baca Juga: Liga Champions: Diego Simeone Sebut Manchester United Masih Menciptakan Bahaya bagi Atletico Madrid
Hanya saja, benarkah manfaat kunyit tersebut benar-benar didukung penelitian? Dan klaim mana yang masih sebatas harapan?
Para ahli menilai jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak, terutama bila dibedakan antara kunyit sebagai bumbu dan kurkumin sebagai suplemen.
Bukti praklinis pada sel dan hewan menunjukkan kurkumin, senyawa aktif kunyit, bersifat antiinflamasi dan antioksidan, seperti dilansir dari laman The Ohio State University.
Baca Juga: Murid SDIT Rabbani Pasirpengaraian Melaju ke Tingkat Nasional OMI 2026
Studi pada manusia pun semakin banyak, penggunaan kurkumin secara teratur berpotensi memperbaiki kadar gula darah, kolesterol, trigliserida, dan indeks massa tubuh.
Kurkumin juga dikaitkan dengan perbaikan gejala kolitis ulseratif, berkurangnya iritasi kulit pada pasien kanker payudara yang menjalani radioterapi, serta menurunnya serangan jantung pada pasien pasca operasi bypass.
Bukti paling banyak terdapat pada nyeri sendi. Tinjauan atas 11 meta analisis menyimpulkan kurkumin signifikan menurunkan nyeri dan kekakuan serta memperbaiki fungsi pada osteoartritis.
Baca Juga: Hakim Vonis Empat Terdakwa Korupsi KUR BUMN Rumbai 18 Bulan Penjara
Penelitian lain menyebut tidak ada perbedaan hasil berarti antara kunyit dan obat antiinflamasi nonsteroid pada tiga studi yang membandingkannya.
Walau menjanjikan, sebagian besar hasil penelitian belum bisa begitu saja diterapkan pada kunyit di dapur.
Penelitian juga menyebutkan mengkonsumsi suplemen kurkumin, bukan kunyit utuh. Bubuk kunyit hanya mengandung sekitar 2 persen kurkumin, sedangkan suplemen bisa mencapai 95 persen.
Baca Juga: Gandeng Maybank, Arista Expo 2026 Hadirkan Promo Bebas Cicilan selama 6 Bulan hingga Bunga 0 Persen
Penelitian dalam Journal of Medicinal Chemistry pada 2017, menyebutkan kurkumin tidak stabil dan sulit diserap tubuh, serta tidak menemukan uji tersamar yang sukses membuktikan khasiatnya sebagai obat.
Klaim kunyit dapat mencegah atau mengobati kanker dan Alzheimer pun belum memiliki bukti klinis yang cukup kuat.
Kunyit sebagai bumbu aman dikonsumsi beberapa sendok teh per hari, kecuali bagi yang alergi.
Baca Juga: Bagansiapiapi Diguyur Hujan sejak Dini Hari hingga Siang, Kabut Asap Berkurang, Muncul Genangan Air
Suplemen berbeda, kurkumin dapat memperkuat efek obat pengencer darah seperti aspirin dan klopidogrel.
Penderita kanker sensitif hormon serta ibu hamil dan menyusui tidak dianjurkan memakainya tanpa arahan dokter.
Supaya penyerapannya lebih baik, padukan kunyit dengan lemak dan lada hitam, misalnya dalam golden milk, tumisan, atau campuran nasi.
Baca Juga: Disdikpora Kampar Instruksikan Sekolah Terdampak Kabut Asap Gelar Pembelajaran Tatap Muka
Kunyit bukan obat ajaib, manfaat akan muncul bila disertai pola makan kaya buah dan sayur serta olahraga rutin. Dan jangan lupa untuk konsultasi ke dokter atau tenaga kesehatan.
Editor : M. ErizalSumber : jawapos.com