Hemoroid atau wasir dan fistula ani merupakan dua gangguan kesehatan di sekitar anus yang kerap dianggap sebagai penyakit yang sama. Padahal, keduanya memiliki penyebab, gejala, dan metode penanganan yang berbeda.
Dokter Spesialis Bedah Emergensi dan Traumatologi RS Awal Bros, dr. Rohman Sungkono, Sp.B-ET, FINACS, menjelaskan bahwa penanganan kedua penyakit tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan masing-masing pasien.
Tidak semua kasus wasir membutuhkan operasi. Begitu pula fistula ani yang memerlukan pendekatan berbeda berdasarkan bentuk dan jalur saluran abnormal yang terbentuk di sekitar anus.
“Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan metode penanganan. Pemilihan tindakan harus mempertimbangkan derajat penyakit, kondisi pasien, serta risiko komplikasi yang mungkin terjadi,” ujar dr. Rohman.
Baca Juga: Asap Karhutla Masih Tebal Berdampak Buruk Bagi Kesehatan, Ini 4 Imbauan Kemenkes
Wasir atau hemoroid terjadi ketika bantalan jaringan pembuluh darah di dalam atau sekitar anus mengalami perubahan patologis. Kondisi ini dapat menimbulkan perdarahan, benjolan, rasa tidak nyaman, hingga jaringan yang menonjol keluar dari anus.
Gejala yang umum dialami pasien antara lain keluarnya darah merah segar saat buang air besar (BAB), benjolan di sekitar anus, rasa mengganjal, iritasi, serta kesulitan menjaga kebersihan area tersebut.
Baca Juga: Perhatian! Mengunyah Es Batu Bisa Sebabkan Risiko Gigi Retak dan Patah, Jangan Sepelekan
Tingkat keparahan wasir, terutama hemoroid interna, dibagi menjadi empat derajat. Pada derajat awal, wasir dapat menimbulkan perdarahan tanpa benjolan yang keluar. Sementara pada derajat lanjut, benjolan dapat menonjol saat BAB, membutuhkan bantuan tangan untuk dimasukkan kembali, atau menetap di luar anus.
Untuk kasus ringan hingga sedang, penanganan dapat dimulai dengan memperbaiki pola hidup. Pasien dianjurkan meningkatkan konsumsi serat dari buah dan sayuran, memenuhi kebutuhan cairan, menghindari mengejan berlebihan, serta tidak berlama-lama duduk di toilet.
Dokter dapat mempertimbangkan tindakan medis seperti rubber band ligation, yaitu pemasangan gelang karet khusus pada jaringan hemoroid untuk menghentikan aliran darah ke jaringan tersebut.
“Pada kondisi tertentu, diperlukan tindakan operasi, terutama apabila wasir sudah menimbulkan prolaps yang bermakna, berukuran besar, atau tidak membaik dengan penanganan sebelumnya,” ujarnya.
Metode Modern Membantu Menentukan Pilihan Terapi
Perkembangan teknologi medis menghadirkan beragam pilihan penanganan wasir, mulai dari prosedur rawat jalan hingga tindakan bedah dengan teknik yang lebih beragam.
Beberapa metode yang dapat dipertimbangkan meliputi hemoroidektomi atau pengangkatan jaringan hemoroid, teknik stapler, ligasi pembuluh darah dengan bantuan Doppler, serta laser hemorrhoidoplasty.
Menurut dr. Rohman, laser hemorrhoidoplasty merupakan prosedur yang menggunakan energi laser untuk membantu mengecilkan jaringan hemoroid tanpa pengangkatan jaringan secara luas. Pada pasien yang sesuai, metode ini berpotensi mengurangi nyeri setelah tindakan dan mempercepat pemulihan.
Namun, pemilihan metode tidak dapat disamaratakan. Setiap teknik memiliki manfaat, keterbatasan, risiko kekambuhan, dan pertimbangan biaya yang berbeda.
“Pada wasir dengan prolaps berat atau komponen eksternal yang besar, misalnya, operasi pengangkatan jaringan dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai. Karena itu, konsultasi dan pemeriksaan dokter diperlukan sebelum menentukan tindakan,” jelasnya.
Fistula Ani Berbeda dengan Wasir
Berbeda dengan wasir, fistula ani merupakan terbentuknya saluran abnormal yang menghubungkan bagian dalam anus atau rektum dengan kulit di sekitar anus.
Kondisi ini paling sering berawal dari infeksi kelenjar anal yang menyebabkan abses atau kumpulan nanah. Setelah abses mengalir atau menjalani tindakan drainase, saluran abnormal terkadang tetap terbentuk dan menyebabkan cairan atau nanah keluar berulang.
Gejalanya dapat berupa lubang kecil di sekitar anus, keluarnya cairan secara terus-menerus atau berulang, nyeri, pembengkakan yang hilang timbul, hingga demam apabila terjadi infeksi kembali.
Fistula ani perlu mendapatkan pemeriksaan medis karena salurannya dapat memiliki cabang atau melintasi otot sfingter, yaitu otot yang berperan mengontrol keluarnya gas dan tinja.
Jika penanganan tidak mempertimbangkan struktur otot tersebut, pasien berisiko mengalami gangguan kontinensia atau kesulitan menahan buang air besar.
Penanganan Fistula Mengutamakan Penyembuhan dan Fungsi Otot
Penanganan fistula ani bertujuan mengatasi saluran abnormal dan sumber infeksi sekaligus mempertahankan fungsi otot sfingter.
Pada fistula sederhana dengan jalur rendah, dokter dapat mempertimbangkan fistulotomi, yakni membuka saluran fistula agar luka dapat sembuh dari bagian dasarnya.
Sementara itu, fistula yang lebih kompleks membutuhkan pertimbangan khusus. Pilihannya antara lain pemasangan seton, prosedur LIFT (ligation of the intersphincteric fistula tract), advancement flap, serta metode berbantuan alat seperti VAAFT (video-assisted anal fistula treatment) dan FiLaC (fistula laser closure).
LIFT dilakukan dengan mengikat dan memutus saluran fistula pada bidang di antara otot sfingter. Adapun VAAFT menggunakan alat khusus untuk melihat bagian dalam saluran fistula, sedangkan FiLaC memanfaatkan energi laser untuk membantu menutup saluran tersebut.
Teknik-teknik yang mempertahankan otot sfingter dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu, terutama jika pemotongan otot berisiko mengganggu kemampuan menahan gas dan tinja.
Meski demikian, metode yang lebih modern tidak otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua pasien. Hasil penanganan tetap dipengaruhi oleh kompleksitas fistula, adanya cabang atau abses, riwayat operasi, dan kondisi kesehatan pasien.***
Oleh : Dokter Spesialis Bedah Emergensi dan Traumatologi RS Awal Bros, dr. Rohman Sungkono, Sp.B-ET, FINACS
Editor : Bayu Saputra