TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) -- Bulan Ramadan sudah di depan mata. Semua masyarakat muslim di dunia termasuk Kabupaten Kuantan Singingi, siap-siap menyambut kedatangannya. Bulan istimewa dalam satu tahun.
Namun biasanya, ada beberapa tradisi atau kebudayaan yang tampak dilakukan masyarakat menyambut bulan Ramadan. Tradisi itu, sudah dilakukan turun temurun hingga sekarang.
Begitu pula di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), negeri jalur. Negeri ini, memiliki beberapa tradisi yang lazim dilakukan masyarakat menyambut Ramadan atau bulan puasa. Beberapa diantaranya, ziarah kubur (makam), membersihkan masjid-masjid hingga mandi balimau.
Tradisi ini bisa dilihat merata disemua kecamatan di Kuansing. Mulai Kecamatan Hulu Kuantan sampai Cerenti dan Singingi Hilir. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Kuansing, Drs Azhar MM, ziarah kubur atau ziarah malam, biasanya dilakukan secara bersama-sama dan serentak di dalam satu desa ataupun kaum.
Tujuannya di samping membersihkan makam keluarga, juga merupakan ikhtibar bahwa manusia perlu mengingat suatu saat semuanya juga akan menghadap Sang Maha Pencipta.
Di samping itu, ziarah kubur ini juga dimanfaatkan untuk bersilaturrahmi sesama peziarah, saling maaf-memaafkan mau menghadapi puasa. Di mana, rasanya tidaklah mungkin orang satu persatu datang ke rumah-rumah warga lainnya untuk saling maaf-memaafkan. Tetapi di sini, pada saat ziarah kubur, senja warga di desa atau kampung, berkumpul dan bertemu. "Inilah momen saling berjumpa dan maaf-memaafkan," kata Azhar.
Begitu pula dengan kegiatan membersihkan masjid-masjid maupun surau-surau dan musala. Dilakukan satu atau dua hari menjelang bulan Ramadan.
Makna dari itu adalah, agar saat beribadah orang menjadi nyaman dan khusuk beribadah. Baik salat berjamaah maupun ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadan. Momen itu, juga menjadi wadah untuk bersilaturahmi sesama warga muslim.
Kemudian, tradisi lainnya, mandi balimau. Ini juga tradisi ataupun kebiasaan masyarakt Kuansing menyambut bulan Ramadan. Mandi balimau bermakna memasuki bukan Ramadan mesti harus suci lahir dan batin. Makanya mandi balimau selalu diniatkan untuk membersihkan diri lahir dan batin menyambut Ramadan.
"Makanya kalau orang tua-tua kita dulu, menyambut Ramadan mandinya di Kuantan. Membawa perlengkapan mandi dan rempah-rempah wangi. Itu diniatkan kita bersih lahir dan batin saat akan berpuasa di bulan Ramadan," paparnya.
Makanya, kebiasan dulu sekarang menjadi tradisi mandi balimau di Kabupaten Kuansing. Tradisi mandi balimau ini, masih dilakukan masyarakat di Sungai Kuantan, atau sungai-sungai besar dan anak sungai yang mengalir di kecamatan dan desa-desa di Kuansing.
Tahun 2025 ini, untuk mempertahankan tradisi ini, pemerintah mensuport dan mendorong tradisi ini dengan mengambil nilai positifnya, silaturrahmi, ikhtibar, bersih lahir dan batin. Menjadikannya sebagai kalender iven pariwisata Kuansing setiap tahunnya menjelang Ramadan.
Tahun ini, Dinas Budpar Kuansing menetapkan lokasi mandi balimau di Kecamatan Singingi. Rencananya kegiatan mandi balimau akan dibuka oleh Bupati dan Wakil Bupati Kuansing, namun karena keduanya mengikuti dan segera mengikuti retreat kepada daerah di Magelang, kemungkinan akan diwakili Pj Sekda atau Asisten. Namun yang terpenting, tradisi-tradisi menyambut Ramadan tetap terjaga dan lestari.
Wakil Bupati Kuansing H Muklisin mengapresiasi dengan keterlibatan semua komponen masyarakat Kuansing dalam menjaga tradisi dan budaya menyambut Ramadan. Baik bersih-bersih masjid, ziarah kubur hingga mandi balimau.
"Budaya kita di Kuansing tetaplah harus kita pertahankan, kita lestarikan dan kita kembangkan supaya tidak tergerus oleh kemajuan zaman. Karena itu salah satu khasanah bangsa," kata Muklisin.
Namun pada tahun ini, Bupati dan dirinya tidak bisa ikut berbaur bersama masyarakat Kuansing dalam kegiatan-kegiatan tradisi dan budaya Kuansing menyambut datangnya bulan Ramadan. Ini dikarenakan, mereka berdua harus mengikuti retreat kepala daerah dan wakil kepala daerah di Magelang.
Makanya nanti dia meminta Pj Sekda dan OPD yang ada bisa hadir dan mewakili mereka. "Kami berdua mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Semoga kita semua yang muslim diberikan kesehatan, keberkahan bisa melaksanakan puasa di bulan suci Ramadan dengan lancar dan penuh keberkahan," ujar Wabup Muklisin.
Ketua LAMR Kabupaten Kuansing, Pebri Mahmud berpandangan soal tradisi ziarah kubur, membersihkan masjid dan mandi balimau. Petuah adat mengatakan "Tadogak ke urang nan hiduik, dijalang rumah tanggonyo, Tadogak ke urang nan mati, ditengok pondam pakuburannyo".
Petuah ini diimplikasikan dalam kehidupan masyarakat adat dalam bentuk ziarah kubur. Waktunya bervariasi sesuai kebiasaan masyarakar adat setempat. Tradisi ini salah satu cara untuk memperkuat hubungan silaturrahmi antar masyarakat adat. Ada yang melaksanakannya sebelum bulan puasa dan ada yang melaksanakan setelah lebaran.
Atau diistilahkan dengan "Hari bayiak bulan bayiak". Tentunya tradisi ini sangat baik, dan perlu dijaga. Namun kegiatan yang dilakukan harus mengacu kepada syariat, jangan pula bertentangan dengan ajaran agama.
Tradisi membersihkan masjid sebelum Ramadan, sangat baik sekali, dan disitulah ajang bercengkerama bersama jiran tetangga, kerabat dan sesama jemaah masjid. Sehingga ibadah dibulan suci memiliki nuansa yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Tradisi mandi balimau, pada hakekatnya adalah mensucikan diri sebelum memasuki bulan Ramadan. Tentu perlu dikontrol, jangan sampai tradisi mandi balimau itu merusak tujuannya. Kembalikan ke filosofi awalnya "Mensucikan diri," ujarnya.
Editor : Rinaldi