TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), bersiap-siap untuk berangkat ke Arafah, Muzdalifa dan Mina (Armuzna), yang dijadwalkan Rabu 4 Juni 2025.
Menjelang keberangkatan itu, mulai Ahad (1/6/2025) tepat pukul 12.00 WAS, bus Shalawat (Salat Lima Waktu) yang menjemput dan mengantarkan jamaah berhenti beroperasi.
Bus kembali beroprasi tanggal 13 Dzulhijjah 1446 H, 9 Juni 2026, jemaah akan melakukan tawaf ifadah atau tawaf rukun haji, sa'i serta tahallul.
Hal ini disampaikan seorang JCH Kuansing, H Armadis SAg MPd, Ahad (1/6/2025) yang sekarang berada di Makkah.
Kasi Binmas Kemenag Kuansing ini menjelaskan, rukun haji adalah hal-hal yang wajib dilakukan dalam ibadah haji dan tidak boleh ditinggalkan.
Jika salah satu rukun tidak dilaksanakan, maka ibadah hajinya tidak sah. Rukun haji terdiri dari, ihram, yakni niat untuk melaksanakan ibadah haji dari miqat (tempat yang telah ditentukan).
Wukuf di Arafah. Berdiam diri di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dari tergelincir matahari (waktu zuhur) hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah.
Kemudian, tawaf ifadah. Kegiatan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali setelah kembali dari Arafah dan Muzdalifah. Ini adalah tawaf yang wajib dilakukan untuk menyempurnakan haji.
Kemudian, sa’i. Sa'i antara Shafa dan Marwah, berjalan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Tahallul (bebas dari larangan Ihram) yang ditandai dengan memotong rambut, minimal tiga helai. Tertib, melaksanakan rukun-rukun tersebut secara berurutan dan tidak boleh ditinggalkan.
Sedangkan wajib haji, amalan-amalan yang wajib dilakukan dalam ibadah haji. Jika salah satu dari wajib haji ditinggalkan, maka haji tetap sah, tetapi dikenai denda (dam) sebagai kompensasi.
Orang yang melaksanakan haji, pertama berniat ihram dari miqat. Memulai niat ihram dari tempat yang telah ditentukan sesuai daerah asal.
Kedua, mabit di Muzdalifah, yakni bermalam atau singgah sejenak di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah, pada malam 10 Dzulhijjah.
Ketiga, mabit di Mina. Bermalam di Mina pada malam-malam tasyrik (malam 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, sesuai lamanya tinggal).
Keempat, melempar jumrah. Melempar batu (jumrah) di tiga tempat jumrah ula, wustha, dan aqabah pada hari-hari tasyrik.
Kelima, tawaf wada’. Yakni tawaf perpisahan (wada’) sebelum meninggalkan Makkah. Ini wajib bagi jemaah haji yang bukan penduduk Makkah.
Keenam, menjaga larangan ihram. Tidak melakukan hal-hal yang dilarang saat ihram. Saperti berburu, mencukur rambut, memakai wangi-wangian, dan lainnya.
Sementara Ketua Rombongan I JCH Kuansing, Maswandi mengatakan, menjelang berangkat ke Arafah Rabu 4 Juni 2025, terdapat 17 jemaah Kuansing yang kondisi kesehatan kurang baik. Rata-rata jamaah lanjut usia. Sehingga saat melaksanakan tawaf dan sa'i, harus menggunakan kursi roda.
Secara keseluruhan jemaah Kuansing semua dalam kondisi baik, hanya ada beberapa yang kena serangan batuk dan pilek ringan. Tapi tidak menganggu pelaksanaan ibadah.
Untuk kegiatan tanazul, berlaku untuk jemaah yang sehat dan hotelnya berdekatan dengan kegiatan melontar jamarat untuk kloter 11, 12 ke atas. Sementara untuk kloter 10,9 dan berikutnya, tidak diizinkan.
Saat ini, dari informasi yang mereka terima, cuaca di Makkah Ahad (1/6/2025), 46 derajat Celcius. Bahkan nanti di Armuzna (Arafah, Muzdalifa dan Mina), cuaca bisa mencapai 51 derajat Celcius.
Makanya mereka menyarankan, selama di Armuzna agar tidak ke luar tenda bila tidak ada kegiatan yang urgent. (dac)
Editor : M. Erizal