“Mata” dunia internasional kini tertuju ke Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Dalam tiga hari terakhir ini, semua konten kreator TikTok dalam dan mancanegara tengah “demam” dengan tradisi dan budaya pacu jalur. Mereka meng-upload video pendek atraksi anak si Tukang Tari dalam tradisi pacu jalur di ranah Kuansing itu dengan musik iringan rap hingga menjadi viral.
KUANSING (RIAUPOS.CO) - TARIAN si Tukang Tari yang menggunakan pakaian khas Melayu Kuansing yang beraneka ragam dengan gemulai di atas sebuah jalur yang tengah melaju saat berpacu viral di media sosial dalam beberapa hari ini. Mulai TikTok, Instagram maupun Facebook. Tidak saja di-upload oleh para konten kreator dalam negeri, tetapi juga TikTok mancanegara.
Bahkan klub sepakbola juara Liga Champions Paris Saint Germain (PSG) ikut menampilkan tradisi pacu jalur Kuansing dengan tampilan utama atraksi si Tukang Tari.
Para pemain top dunia seperti Neymar dan rekan-rekannya terlihat menirukan gaya si Tukang Tari saat merayakan gol ke kandang lawan. Mulai dari memutar-mutar tangan, menari, mengipas-ngipaskan tangan hingga gaya menodongkan pistol yang diperagakan si Tukang Tari itu.
Video singkat penampilan si Tukang Tari saat pacu jalur menggunakan musik rap, membuat banyak penonton yang me-like dan komen menggunakan bahasa asing maupun Indonesia.
Penggemar pacu jalur asal Riau dan Kuansing yang melihat akun TikTok PSG ini, ramai-ramai memberikan komentar, kalau video yang mereka upload itu adalah tradisi asal Kabupaten Kuansing, Riau.
Hingga Kamis (3/7) malam, akun PSG yang menayangkan video si Tukang Tari Pacu Jalur Kuansing sudah mencapai 4,7 juta dengan 14,8 ribu orang yang komentar.
Viralnya video anak si Tukang Tari ini seperti ikut menyambut musim pacu jalur 2025. Tahun ini, tradisi pacu jalur genap berusia 122 tahun sejak dikenal khalayak ramai pada tahun 1903.
Tahun ini, Pemkab Kuansing lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) membagi empat rayon pacu jalur kecamatan.
Yakni pacu jalur Rayon I 13-15 Juni 2025 di Kecamatan Cerenti.
Rayon II tanggal 20-22 Juni 2025 di Hulu Kuantan. Rayon III tanggal 4-7 Juli 2025 di Pangean. Rayon IV akan dilangsungkan Kecamatan Kuantan Tengah 18-20 Juli 2025.
Kemudian pacu jalur iven kebudayaan 14-16 Agustus 2025 di Basrah Kecamatan Kuantan Hilir.
Puncak dari helatan tradisi pacu jalur ini akan dilangsung di arena perpacuan Tepian Narosa Telukkuantan pada 20-24 Agustus 2025. Pacu jalur yang menjadi tradisi Kuansing, bukan sekadar acara seremonial belaka. Tetapi memiliki makna yang dalam.
Sebagai simbol marwah desa, sebagai simbol kekompakan, sportivitas serta wadah silaturahmi antarmasyarakat Kuansing yang berasal dari desa-desa.
Di mana jalur yang dipacukan merupakan milik desa yang ikut berpacu.
Jalur diisi rata-rata 53-57 orang. Dalam isian anak pacuan jalur itu, ada si Tukang Tari, Timbo Ruang, dan Tukang Onjai.
Mereka memiliki peran masing-masing dan wajib ada bila jalur hendak ikut berpacu. Aksi viral anak ai Tukang Tari di TikTok kenamaan mancanegara dan dalam negeri itu, juga mencuri perhatian masyarakat Kuansing.
Mereka ikut bertanya-tanya siapa anak si Tukang Tari pada video jalur viral yang di-posting dalam akun TikTok PSG, terjawab sudah.
Beliau adalah anak si Tukang Tari Jalur Tuah Kori Dubalang Rajo dari Desa Pintu Gobang Kari Kecamatan Kuantan Tengah bernama Rayyan Arkan Dikha.
Si Tukang Tari yang akrab disapa Dikha, lahir di Desa Koto Kari, 28 September 2014. Dia baru naik kelas V SD Negeri 013 Pintu Gobang Kari.
Dia adalah putra dari pasangan Jupriono dan Rani Ridawati. Kepada Riau Pos, Dikha mengaku terkejut dan tidak menduga kalau aksinya menarik perhatian.
Namun, dia pun merasa bangga dan senang.
“Sudah saya lihat kemarin videonya di akun TikTok PSG. Rasanya senang sekali, bangga, dan tidak menyangka, “ ujar Dikha didampingi sang ibu bernama Rani.
Dikha sudah bergabung sebagai si Tukang Tari jalur desanya itu sekitar dua tahun terakhir atau ketika masih duduk di kelas III SD. Menjadi si Tukang Tari memang sudah menjadi keinginannya sedari kecil.
“Darah” anak jalur rupanya memang sudah ada. Sebab abang Dikha, Rakha yang sekarang menjadi atlet dari jalur desanya pernah menjadi si Tukang Onjai.
Lalu ayahnya, Jupriono atlet pacu Jalur Tuah Kori Dubalang Rajo yang berada di posisi kemudi (bagian belakang).
Meski masih berusia belia, Dikha mengaku tak ada rasa cemas saat menari-nari di atas jalur yang melaju berpacu.
Padahal, bila saja kehilangan keseimbangan, maka dia akan terpeleset jatuh ke Sungai Kuantan. Beberapa kali itu dialaminya.
Saat menari-nari dan hilang keseimbangan, tubuhnya jatuh ke Sungai Kuantan.
"Nggak cemas. Kalau jatuh ke Sungai Kuantan itu memang tergelincir dan hilang ke seimbangan,” kata Dikha.
Dikha mengaku atraksi menari itu tidak pernah diajarkan orang tuanya, pengurus jalur maupun orang lain.
Ia mengaku hasil kreasinya dengan belajar secara otodidak saat latihan pacu jalur di Sungai Kuantan bersama anak pacuan. Dia belajar dengan melihat gaya yang ada di postingan media sosial atau televise yang banyak.
“Ndak pernah dilatih, cuma belajar sendiri. Dengan melihat-lihat TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan lainnya. Lalu diperagakan saat latihan hingga perpacuan jalur di berbagai arena,” ujarnya.
Dia hanya berharap bisa menyuguhkan tarian yang menarik untuk anak pacuan jalur desanya itu sehingga suatu saat bisa meraih juara.
Orang tua Dikha, Rani pun merasa senang dengan viralnya video tarian putranya itu.
“Mudah-mudahan ini membawa berkah pada Dikha dan jalur desa kami,” ungkap Rani.
Dia pun mengaku atas viralnya video Dikha, mendapatkan berkah berupa donasi dari sponsor asal Bali sebesar Rp5 juta. Sayangnya Rani tidak ingat siapa yang memberikan donasi untuk putranya itu.
Dana itu diantarkan salah seorang konten kreator asal Kuansing pada mereka kemarin.
Pj Kepala Desa Pintu Gobang Kari Dadang Muttaqin menyebutkan, viralnya tarian Dikha juga mendatangkan semangat bagi anak pacuan.
Meski saat ini belum berhasil menorehkan gelar juara, mereka dengan semangat kebersamaan akan berupaya semaksimalnya untuk meraih prestasi.
Aksi tarian Dikha, kata Dadang, juga turut mendapat berkah dari Boat Dance Kita Group Jakarta yang menjadi sponsor jalur mereka dengan menyumbang dana Rp20 juta.
Saat ini, Jalur Tuah Kori Dubalang Rajo siap-siap mengikuti perpacuan jalur Rayon III di Kecamatan Pangean 4-7 Juli 2025.
Kepiawaian dalam menari di atas jalur juga terlihat dari aksi si Tukang Tari Jalur Rajo Tunggal Sahabat Bang Vea dari Desa Seberang Teluk Kecamatan Kuantan Tengah bernama Dilla Rindang.
Meski aksinya belum seviral Dikha, tetapi penampilan siswa Kelas III SMPN 1 Kuantan Tengah di arena perpacuan jalur Rayon II di Kecamatan Hulu Kuantan lalu, banyak memukau ribuan penonton yang melihat.
Di perpacuan jalur itu, Jalur Rajo Tunggal Sahabat Bang Vea berhasil meraih peringkat delapan. Aksi menarik yang dimainkan Rindang dan prestasi jalur yang cukup baik, membuat jalur ini dibidik PT Agrinas Palma Nusantara sebagai sponsornya.
Rindang yang didampingi Ketua Jalur Eka Rifanop Indra memaparkan kalau keterampilan yang dimilikinya juga diraih sama dengan Dikha, yakni secara otodidak.
“Menari jalur ini belajar sendiri Pak. Dari video-video jalur si Tukang Tari di YouTube, TikTok, dan lainnya. Lalu di praktikkan saat latihan jalur,” katanya.
Dia baru menjadi si Tukang Tari Jalur Rajo Tunggal pada tahun 2 ini atau baru enam bulan. Dan pacu jalur Rayon II di Kecamatan Hulu Kuantan lalu adalah aksi perdananya sebagai si Tukang Tari saat berpacu.
Sebelum “dipinang” sebagai Tukang Tari Jalur, pengurus jalur meminta izin pada orang tuanya.
Setelah mendapat izin pada orangtuanya, Andespa Antoni, Rindang pun mantap menjadi si Tukang Tari.
“Kalau musim pacu ini, Rindang selalu ikut turun dengan anak pacuan lain berlatih di Sungai Kuantan. Biasanya tiga sampai kali dalam satu pekan,” katanya.
Dia pun berharap, aksi tariannya bisa menghibur penonton menjadi penyemangat anak pacuan jalur desanya.
Meski saat latihan pacu jalur maupun bertanding, kemungkinan jatuh ke Sungai Kuantan hal yang sulit dihindarkan, Rindang tak ada rasa cemas dan ragu.
Dengan keterampilan berenang dan kekompakan anak pacu, semakin menguatkan mentalnya untuk menampilkan atraksi tarian jalur.
Saat jalur berhasil melewati jalur lawan, maka Rindang akan menampilkan tarian jalur dengan menggunakan kostum Melayu khas Kuansing.
Tarian jalur tangan mutar-mutar, salam hormat, todong pistol termasuk tarian favorit yang dilakoni si Tukang Tari.
Rindang mengaku paling gemar menggunakan kostum hitam-hitam atau putih-putih.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kuansing Drs Azhar MM pun kaget video pacu jalur Kuansing dengan framing utama anak si Tukang Tari viral di TikTok mancanegara dan TikTok konten kreator dalam negeri.
“Ini luar biasa. Pacu jalur viral hingga ke mancanegara. Dan kita tentu saja bangga dengan itu,” ujar Azhar.
Azhar mengatakan, kalau Dinas Budpar Kuansing tidak pernah memberikan video-video pacu jalur Kuansing ke pemilik konten-konten kreator mancanegara.
Bisa saja, mereka mendapatkannya dari YouTube yang memang banyak ragam dan jenis video pacu jalur di-upload oleh konten kreator.
Dalam mempromosikan tradisi dan budaya pacu jalur Kuansing, Dinas Budpar Kuansing memang aktif menyampaikan ke Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Parekraf) RI.
Biasanya, dalam pertemuan dengan duta-duta besar Kemenpatekraf RI selalu mempromosikan pariwisata unggulan Tanah Air yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), di mana pacu jalur sudah masuk dalam Top Ten KEN.
Selain itu, saat pembukaan pacu jalur Kemenpatekraf RI juga menyiapkan fotografer khusus untuk mengambil video dan foto pacu jalur sebagai bahan promosi keluar.
Biasanya, menjelang satu bulan helat pacu jalur di Tepian Narosa Telukkuantan, Kemenpatekraf sudah mempromosikannya.
Dinas Budpar Kuansing mewajibkan bagi setiap jalur yang akan ikut berpacu harus ada anak si Tukang Tari, selain Tukang Timbo Ruang dan Tukang Onjai.
Si Tukang Tari biasanya dilakoni anak-anak. Ini dimaksudkan untuk mengurangi berat beban dibagian depan jalur. Berbeda dengan Tukang Timbo Ruang dan Tukang Onjai, biasanya dilakoni oleh orang dewasa.
Namun seiring perkembangan, si Tukang Onjai juga sudah banyak dilakoni anak-anak Kuantan yang masih duduk di bangku SD atau SMP.(das)
Editor : Bayu Saputra