TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) -- Permukaan air Sungai Kuantan terus mengalami perubahan sejak sepekan pacu jalur usai. Bahkan, Kamis (4/9/2025), dari pantauan Riaupos.co di Tepian Narosa Teluk Kuantan, kondisi fisik air sungai Kuantan semakin keruh. Seperti teh susu.
Permukaan air jauh mengalami perubahan sejak operasi penertiban aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang dilakukan sebelum pacu jalur.
Perubahan fisik air Sungai Kuantan itu, juga dilakukan pengukuran baku mutu air jam per jam oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuansing dengan menggunakan alat pengukuran kualitas air On-Limo yang dipasang di pinggir Sungai Kuantan dekat Hutan Kota Pulau Bungin, Teluk Kuantan.
Dari data real yang dicatat stasiun On-Limo, Kamis (4/9/2025) di pukul 11.00 WIB, angka parameter TSS (total suspended solids-total padatan tersuspensi) di angka 85mg/liter.
Ini melebihi angka maksimal parameter air permukaan sebagaimana yang diatur dalam PP nomor 22 tahun 2021 tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yakni 50mg/liter.
Tetapi pada pukul 12.25 WIB, sedikit mengalami penurunan diangka 43mg/liter.
"Kondisinya berubah-ubah. Dan kita terus mengamatinya jam per jam," ungkap Kepala DLH Kuansing Deflides Gusni lewat Pejabat Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan, Fahrima Yandi menjawab Riaupos.co.
Sementara pada Rabu (3/9/2025) pukul 23.00 WIB, kualitas air Sungai Kuantan mencapai diangka 83.09mg/liter.
Sedang pada Kamis (4/9/2025) dinihari pada pukul 01.00 WIB, tercatat diangka 69,2 mg/liter.
Parameter kualitas air Sungai Kuantan terus berubah-ubah naik turun. Tetapi kenaikannya melebihi ambang batas baku mutu air.
Setelah mengamati parameter kualitas air Sungai Kuantan dalam beberapa hari lalu hingga hari ini, DLH Kuansing menyimpulkan air sungai tidak layak lagi digunakan untuk mandi, mencuci pakaian apalagi untuk minum.
"Jadi kesimpulannya, air Sungai Kuantan sekarang tidak layak lagi untuk mandi, mencuci dan lainnya," kata Yandi.
Baca Juga: Sungai Kuantan Sudah Layak untuk MCK
Sebetulnya, kata Yandi, secara kasat mata bisa diamati kondisi air Sungai Kuantan apakah layak untuk mandi atau tidak. Karena jauh berubah. Kekeruhan itu disebabkan karena partikel tersuspensi/mengapung di air sebelum akhirnya mengendap ke dasar sungai.
"Kalau pencemaran semakin banyak masuk, maka air akan semakin keruh," kata Yandi.
Perubahan air Sungai Kuantan ini kuat dugaan karena sudah mulainya aktivitas PETI di kawasan hulu Sungai Kuantan yang telah ramai terpublis di sejumlah media sosial.
Kondisi ini bahkan membuat Bupati Kuansing H Suhardiman Amby yang ditemui Riaupos.co Rabu (3/9/2025) berang.
Dia meminta agar semua aktivitas PETI di bagian hulu Sungai Kuantan untuk dihentikan. Karena tidak saja membuat masyarakat Kuansing yang rugikan tetapi juga masyarakat Kabupaten Inhu dan Inhil yang masih satu aliran sungai.
Editor : Rinaldi