TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Tugu Adipura di kawasan Jalur Dua-simpang SMKN 1 Telukkuantan terlihat elok. Tugu Adipura ini menjadi monumental, kalau Kota Telukkuantan, Kabupaten Kuansing pernah menggema di tingkat nasional.
Telukkuantan menjadi kota kecil terbersih di Indonesia. Predikat ini disandang Telukkuantan selama dua kali. Yakni pada tahun 2017.dan tahun 2023 lalu.
Kini cita-cita untuk kembali bisa menorehkan prestasi itu, seperti mimpi bisa diraih. Lihat saja, hingga Sabtu (11/4/2026) pagi menjelang siang, sampah terlihat menumpuk di mana-mana.
Baca Juga: Pembicaraan Kontrak Mikel Arteta Ditunda di Tengah Upaya Arsenal Meraih Gelar Juara
Di ruas jalan Pasar Modern, di simpang Pasar Lumpur, di jejeran ruko ruas jalan jalur dua SMKN 1 Telukkuantan-simpang empat Desa Sawah dan beberapa titik lainnya di kawasan Telukkuantan.
Ada yang menumpuk di pinggiran jalan, dan ada yang menumpuk di tong sampah. Tetapi belum diangkat. Bahkan sampah-sampah itu sudah ada sejak Kamis (8/4/2026) kemarin. Kondisi ini menandakan pengelolaan sampah yang tidak serius dan masih semrawut.
Dengan potret itu, tentu saja tidak akan ada peluang bagi kota Telukkuantan. Apalagi untuk tahun 2025, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Februari 2026 lalu sudah mengumumkan hasil penilaian tahun 2025. Tak ada, nama Kuansing sebagai peraih predikat Adipura atau malah Piala Adipura. Di Sumatera hanya Kota Padang yang meraih sertifikat Adipura.
Baca Juga: Karhutla Nihil, OMC di Riau Masih Tetap Dilanjutkan
Fakta ini pun diakui oleh Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuansing Delis Martoni.
"Untuk tahun 2025, kita belum berhasil meraihnya. Di Sumatera hanya Kota Padang yang meraih sertifikat Adipura tapi bukan Piala Adipura," ungkap Delis Martoni.
Delis Martoni mengatakan, penilaian Adipura dari KLH sekarang sangat ketat. Banyak item yang dinilai. Mulai dari pengelolaan, partisipasi masyarakat hingga anggaran yang disiapkan.
"Makanya kalau Kuansing ingin kembali meraih Adipura, perlu kerja keras bersama, perlu perlu kesadaran bersama," katanya.
Saat ini, tim kebersihan DLH Kuansing berjumlah 201 orang. Enam unit dum truk, delapan Kaisar dan satu L300. Dengan jumlah armada sebanyak itu, untuk mengangkut sampah dalam kota Teluk Kuantan 30 ton sehari, belum lah memadai.
Begitu juga dengan soal anggaran. Per tahun DLH diberikan anggaran Rp10 miliar per tahun. Anggaran itu sudah termasuk semua kebutuhan di DLH, termasuk pengelolaan sampah dan gaji petugas. Sementara sebetulnya, KLH menganjurkan anggaran pengelolaan sampah minimal 3 persen per tahun dari total APBD. "Kalau APBD kita sekitar Rp1,4 triliun, untuk pengelolaan sampai itu sekitar Rp40 miliar. Ini kita belum sanggup," ujarnya.
Begitu juga dengan gaji petugas kebersihan, masih jauh dari semestinya yakni Rp1,2 juta per bulan di tahun 2026. Sebelumnya, hanya Rp1.050.000, per bulan. Maka DLH selalu menyampaikan dalam pembahasan APBD agar gaji DLH di tambah, saran dan prasarana sampah fi tambah sehingga bisa lebih maksimal. Kondisi keuangan saat ini yang masih efisiensi membuat usulan-usulan itu belum bisa dipenuhi.
Makanya DLH Kuansing berharap adanya partisipasi aktif semua masyarakat. Tidak membuang sampah sembarangan, menyediakan tong sampah di rumah-rumah sehingga akan memudahkan petugas meengakutnya.
Tetapi faktanya bagaimana, kata Delis, sampah dibuang sembarangan hingga ke jalan, dan hanya sedikit masyarakat yang menyediakan tong sampah di rumahnya.
Solusi lain yang tengah digagas DLH Kuansing dalam pengelolaan sampah, dengan melibatkan kecamatan. "Mufah-mudahan minggu depan sudah kita coba untuk wilayah Kuantan Tengah," ujarnya.
Ia berharap, masyarakat Kuansing terutama Teluk Kuantan yang menjadi pusat ibu kota, bisa dibangun kesadarannya.(dac)
Editor : Edwar Yaman