TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Komisi DPRD Kabupaten Kuansing, Rabu (20/5/2026) siang, turun melakukan peninjauan ke pabrik kelapa sawit (PKS) milik PT Pancaran Cahaya Sedjati (PCS) yang berada di Desa Logas Hilir Kecamatan Singingi.
Tim Komisi II di pimpin langsung Ketua Komisi II Fedrios Gusni, Wakil Ketua Komisi II Hengky Prima Hidayat, Sekretaris Komisi II Dasver Librian, serta anggota Komisi II Hardiamon, Yusliadi,
Di PKS PT PCS, Komisi II DPRD Kuansing diterima Manager PT PCS Posma Hutabarat didampingi Bagian Legal Riki Taher, Humas PT PCS Lukman Hadi Datuk Mongung serta beberapa staf lainnya. Nampak hadir juga Kepala Desa Logas Heriawan, Kepala Desa Logas Hilir Rasidi, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Kabid Tata Lingkungan Gunawan Nurdianto dan beberapa tokoh masyarakat lainnya.
Baca Juga: Kemenkum Riau dan BHP Medan Perkuat Sinergi Pengampuan dan Perwalian Bersama Pengadilan Tinggi Riau
Di pertemuan itu, Fedrios Gusni bersama anggota Komisi II DPRD Kuansing yang hadir menyebutkan kalau kedatangan mereka ke PKS PT PCS ini terkait keluhan dan informasi masyarakat Desa Logas Hilir yang mereka terima.
Di mana warga yang berada di aliran Sungai Libuai Desa Logas Hilir menduga kalau banjir bersama lumpur saat hujan beberapa hari lalu disebabkan kolam PT PCS yang jebol. Sehingga rumah mereka banyak bekas lumpur dan beberapa peralatan rumah tangga serta motor rusak.
"Karena itu kami kesini untuk melihat secara langsung. Bagaimana fakta sebenarnya," kata Fedrios.
Baca Juga: BNN Kota Dumai Tegaskan Rehabilitasi Pecandu Narkoba Tak Dipungut Biaya
Di PKS PT PCS, Komisi II DPRD Kuansing melihat secara langsung area lokasi PKS PT PCS dan rumah warga yang terdampak banjir luapan Sungai Libuai.
Di lokasi terlihat, kalau air yang meluap itu bukan limbah PKS PT PCS. Tetapi disebabkan hujan yang pekan lalu lebat ditambah PT PCS tengah melakukan pengupasan lahan baru yang berada di atas Sungai Libuai.
Saat hujan lebat turun, air bercampur tanah menggenang ke bawah menuju Sungai Libuai dan mengalir hilir ke rumah warga. Akibatnya terendam termasuk Selasa (19/5/2026) sampai Rabu (20/5/2026) dini hari.
Di hadapan warga yang terdampak banjir luapan Sungai Libuai, Komisi II akan mengusulkan ke Pemkab untuk melakukan normalisasi Sungai Libuai. Sebab sudah terjadi pendangkalan dan penyempitan.
Baca Juga: Kementan Gerak Cepat Stabilkan Harga Ayam Hidup, Asosiasi Peternak Siap Kawal di Lapangan
Meski bukan disebabkan oleh air kolam limbah pabrik yang jebol, Fedrios mengingatkan agar perusahaan ikut menjaga lingkungan dan berbaur dengan masyarakat tempatan.
"Perusahaan perlu juga memperhatikan masyarakat tempatan, seperti menyalurkan CSR-nya. Sembako atau memotong hewan kurban untuk masyarakat. Aliran Sungai ini juga mengalir ke Kelurahan Muara Lembu," ujarnya.
Dari data yang mereka terima ada 15 rumah warga Desa Logas Hilir yang terkena luapan banjir Sungai Libuai dan delapan yang parah. Susilawati dan Delila dua warga Desa Logas Hilir yang terdampak banjir Sungai Libuai di lokasi saat kunjungan Komisi II DPRD Kuansing mengatakan, kalau pemukiman mereka selalu menjadi langganan banjir kalau hujan lebat akibat luapan sungai Libuai.
Tetapi kemarin, genangan air sungai Libuai sudah bercampur lumpur masuk ke rumah mereka.
"Memang selalu banjir kalau hujan lebat, tapi tidak seperti kemaren dan malam tadi. Air masuk bercampur lumpur ke ruman. Ini akibat air dari area perusahaan," ujarnya.
Imbauan agar perusahaan menjaga dan memperhatikan lingkungan saat berinvestasi juga diingatkan oleh Plt Kadis DLH Kuansing Delis Martoni. Mereka juga meminta pada para anggota DPRD Kuansing yang hadir ke kawasan rumah mereka untuk memperhatikan dan mencari solusinya.
Manager PKS PT PCS Posma Hutabarat didampingi Bagian Legal perusahaan Riki Taher maupun Humas PT PCS Lukman Hadi menjelaskan, perusahaan selalu mengikuti anjuran pemerintah daerah maupun DPRD Kuansing.
Selain PKS, perusahaan juga berencana mengembangkan Cocopit dan Karbon Aktif. Lahan itu sedang dimatangkan.
Tetapi Posma menegaskan kalau air luapan banjir Sungai Libuai bukanlah air kolam limbah yang jebol. Itu juga ditegaskan oleh Bagian Legal Perusahaan Riki Taher. Seperti yang sudah dilihat di lokasi, air bukan dari kolam limbah pabrik yang jebol. Tetapi karena hujan yang cukup lebat. Kondisi itu mungkin juga ditambah kalau saat ini, di lokasi perusahaan sedang dilakukan pematangan lahan untuk pengembangan Cocopit dan karbon aktif.
"Kami memang sedang melakukan pengupasan lahan. Dari perbukitan di dataran untuk pengembangan Cocopit dan karbon aktif. Kebetulan hujan, maka air hujan membawa tanah ke Sungai Libuai. Akibatnya, air bercampur tanah masuk ke rumah warga,"sebut Riki.
Perusahaan, kata Riki, sudah membuat saluran atau drainase ke arah Sungai Libuai. Tetapi tersumbat oleh tanah yang jatuh saat pengupasan.
"Maka ketika sumbatan tanah dibuka, air bercampur tanah. Ditambah hujan,"ujarnya.
Perusahaan, lanjut Posma merasa ikut terpanggil dengan kondisi itu. Makanya hari ini, perusahaan menyalurkan bantuan sembako pada warga yang terdampak banjir.(dac)
Editor : Edwar Yaman