Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Petani dan Pemilik Peron Sebut Harga Sawit Turun sejak Rencana Pemerintah Keluarkan Kebijakan BUMN Ekspor

Desriandi Candra • Senin, 25 Mei 2026 | 20:43 WIB
Pengumpulan tandan buah segar (TBS) Sawit di Veron Desa Pulau Kedundung Kecamatan Kuantan Tengah, Ahad (17/5/2026) pekan kemaren.(Desriandi Candra/Riaupos.co)
Pengumpulan tandan buah segar (TBS) Sawit di Veron Desa Pulau Kedundung Kecamatan Kuantan Tengah, Ahad (17/5/2026) pekan kemaren.(Desriandi Candra/Riaupos.co)

 

TELUKKUANTAN(RIAUPOS.CO) - Rencana Pemerintah Indonesia yang menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam lewat BUMN Ekspor terhadap komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit atau CPO, batu bara, dan paduan besi atau ferro alloy, yang selama ini menjadi sumber devisa penting bagi Indonesia langsung oleh Presiden RI, H Prabowo Subianto pada tanggal 20 Mei 2026 siang, langsung bereaksi di pelaku usaha perkebunan kelapa sawit dan petani.

Harga tandan buah segar (TBS) sawit terjadi perubahan. Peron atau pengumpul buah TBS sawit petani mengumumkan perubahan harga jual beli sawit di sejumlah WA grup Kuansing. Dari Rp3.320 per kg turun Rp160 per Kg sehingga harga jual sawit petani di tingkat peron pada Kamis (21/5/2026) menjadi Rp3.160 per kg.

Tetapi tidak sampai di situ, penurunan harga kembali terjadi pada Jumat (22/5/2026) malam, tauke peron kembali mengumumkan penurunan harga yang lebih besar yakni Rp650 per kg. Sehingga harga jual TBS sawit petani di tingkat petani pun anjlok menjadi Rp2.510 per kg.

 Baca Juga: Jelang Armuzna, Karom Jemaah Calon Haji Rohil Ingatkan Jaga Kesehatan

Harga ini bertahan hingga Senin (25/5/2026) sore. Menurut beberapa pemilik peron yang ditanyai Riaupos.co seperti, Pebri pemilik peron sawit di Desa Teberau Panjang Kecamatan Gunung Toar maupun Iwan pemilik peron Desa Pulau Kedundung Kecamatan Kuantan Tengah menyebutkan, penurunan harga beli ini terjadi atas reaksi pengumuman pemerintah soal rencana BUMN Ekspor itu.

"Sejak pengumuman Pak Presiden kemarin, ndak ada lagi. Harga turun terus. Di kami sudah turun Rp810 per kg," kata Iwan.

Mereka terpaksa membeli sawit petani dengan harga segitu di sebabkan pabrik kelapa sawit (PKS) jual terjadi penurunan harga. Yakni menjadi Rp2.700 per kg.

 Baca Juga: Banggakan Riau, Rohul Raih Penghargaan Nasional Revitalisasi Bahasa Daerah dari Mendikdasmen

Dengan harga beli seperti itu, mereka terpaksa juga menurunkan harga untuk mobilisasi buah, baik BBM maupun upah sopir.

"Kami berharap, kondisi ini segera membaik," ujarnya.

Ini pun diungkap Pebri. Penurunan harga sawit terjadi dipicu pengumuman pemerintah yang akan memberlakukan ekspor CPO satu pintu lewat BUMN Ekspor yang dibentuk.

"Sejak pengumuman itu, harga turun terus dari PKS. Makanya, daya beli kami ke petani juga turun. Karena ada biaya operasional yang harus mereka keluarkan," katanya.

Kebijakan pemerintah ini, mungkin tujuannya baik. Agar negara tidak curangi lagi. Tetapi terlalu cepat. Sementara teknis bagaimana tata kelolanya ke depan lewat BUMN Ekspor belum disiapkan dan dijelaskan. Sehingga pengusaha CPO dan pemilik PKS langsung bereaksi negatif. Karena khawatir bagaimana tata cara dan sistem mereka dengan pembeli luar. 

 Baca Juga: Bukit Sikumbang Park Padukan Wisata Alam dan Tradisi Batange di Kampar

"Tapi kalau ini sudah disusun dengan baik bagaimana teknisnya, di jelaskan  ke pengusaha dan Asosiasi, mungkin tidak seperti ini. Malah saya melihat, kalau serius dilakukan ada potensi harga sawit justru kedepan lebih tinggi di atas Rp3.300 per kg. Tapi harus di jelaskan bagaimana teknisnya juga, sehingga tidak terjadi spekulan harga," ujarnya.

Pebri berharap, pemerintah harus bertindak cepat sehingga pelaku usaha sawit seperti mereka dan petani tidak menanggung dampak paling besar dengan kebijakan itu.

Harga sawit yang terus turun, memang menjadi keluh kesah para petani sawit di Kuansing. Itu diungkapkan oleh petani sawit Kuansing Edi, Andi maupun Ahyang secara terpisah.

Mereka saat ditanya satu per satu, menggelengkan kepala. Tetapi sebagai petani mereka tidak bisa berbuat apa-apa. 

"Kita mau bagaimana lagi. Kita petani yang punca rencana pemerintah. Tetapi harusnya pemerintah juga melihat kebawah dan dampaknya seperti apa sebelum kebijakan dibuat," kata mereka.

 Baca Juga: JCH Kuansing Bertolak ke Arafah, Siap-siap Laksanakan Wukuf

Menurut Edi, penurunan harga sawit tidak diikuti dengan harga pupuk dan saprofi lainnya. Harga pupuk sekarang justru tinggi dan tidak turun sejak harga jual TBS sawit menembus Rp3.000 per kg April lalu hingga sekarang.

Untuk pupuk NPK Pak Tani sekarang Rp570.000 per karung. Lalu pupuk KCL Rp430.000 per karung. Urea Rp620.000 per karung. TSP Daun Rp780. 000 per karung, TSP Mahkota Rp770.000 per karung dan pupuk RP dijual Rp150.000 per karung.

"Dengan harga pupuk seperti itu yang tidak turun, harga sawit turun, petani kesulitan," tambah Andi.

Petani sawit Kuansing lainnya, Karyono yang dihubungi kembali menyebutkan, dengan kondisi seperti ini dia terpaksa menunda putaran pemanen sakitnya. Apalagi ada kabar, harga sawit masih akan terus turun.

"Minggu ini pas putaran panen sawit saya dari Senen ini sampai Jumat. Tapi dengan harga ini, kita tunda. Menunggu harga sedikit membaik. Apalagi masih ada kabar akan turun lagi," kata Karyono.

Dia berharap Dinas Perkebunan Riau dan Dinas Perkebunan Kuansing ikut pro aktif menyidak PKS-PKS.

"Kalau perlu panggil, buat kebijakan daerah. Karena nampak saya Disbun Kuansing belum ada reaksi apa-apa," kata Karyono.(dac)

Editor : Edwar Yaman
#Peron Sawit #Kebijakan BUMN Ekspor #harga sawit turun