TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Petani kelapa sawit swadaya atau mandiri di Kuansing, mulai sedikit bergairah. Pasalnya, dalam tiga hari belakangan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit berangsur-angsur naik sedikit demi sedikit.
Perubahan harga sawit di tingkat petani ini terlihat berangsur naik setelah adanya penjelasan pemerintah tentang pemberlakukan BUMN Ekspor di tahun 2027 bersama para pelaku eksportir CPO.
Ditambah penjelasan dari Wamentan Sudaryono dan Asosiasi Kelapa Sawit yang mengingatkan pemilik pabrik kelapa sawit (PKS) tidak membeli harga dibawah harga acuan masing-masing daerah.
Baca Juga: Dari Hasil Audit, Inspektorat Temukan Mark-Up Harga Seragam di 31 SMAN di Riau
Di Kuansing, harga pembelian kelapa sawit naik sejak tangal 28 Mei 2026. Pemilik veron sawit atau toke penampung buah sawit petani, membeli dengan harga Rp 2.580 per Kg atau naik Rp70 per Kg dari harga pada 25 Mei 2026 Rp2.510 per Kg.
Kemudian harga pembelian kelapa sawit petani kali naik pada Sabtu (30/5/2026) sebesar Rp120 per Kg, sehingga harga sawit menjadi Rp2.700 per Kg. Dan Ahad (31/5/2026) harga sawit naik lagi sebesar Rp60 per Kg sehingga harga sawit petani sekarang di tingkat peron menjadi Rp2.760 per Kg.
"Alhamdulillah, harga sawit sudah mulai berangsur-angsur naik. Lumayan lah dari minggu kemarin," kata Hepi Meizon petani Desa Pulau Kedundung Kecamatan Kuantan Tengah dan Karyono petani di Desa Pantai Kecamatan Kuantan Mudik, Senin (1/6/2026).
Baca Juga: Pemko Pekanbaru Mulai Rapikan Kabel Fiber Optik
Menurut Hevi Meizon, meski sudah berangsur-angsur naik, ia berharap harga sawit bisa kembali tembus diangka Rp3.000 an per Kg. Sebab dengan harga Rp2.760 per Kg di tingkat veron belum berimbang dengan harga pupuk yang mahal dan belum turun. Harga pupuk saat ini Rp570.000 per karung sampai Rp780.000 per karung.
"Kalau harga sawit masih diangkat Rp2.760 per Kg dengan pupuk yang tinggi segitu, masih belum padan dengan pendapatan petani. Kecuali harga pupuk bisa ditekan turun juga," katanya.
Mereka tidak bisa menyalahkan toke peron. Sebab, toke peron membeli buah petani berdasarkan harga beli sawit di PKS. "Kalau PKS membeli dengan harga rendah, tentu toke peron membeli setelah mengurangi biaya operasional mereka. Karena ada selisih harga di PKS dan peron dan tidak mungkin sama," katanya.
Baca Juga: Peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Pekanbaru; Umat Buddha Jalani Ritual Mandi Buddha Rupang
Menurutnya, pemerintah perlu juga memikirkan bagaimana bisa membantu petani swadaya atau mandiri. Minimal pupuk dan saprodi. Karena para petani mandiri dengan usahanya juga sudah mampu membuka lapangan kerja. Seperti tenaga panen, perawatan dan pemupukan.
Ini pun diungkapkan Karyono petani sawit swadaya di Desa Pantai. "Dengan harga yang turun kemarin, saya terpaksa menunda pemanenan dan baru mulai panen lagi karena harga sudah sedikit lumayan. Sebab kalau terlalu lama menunda, buah akan banyak brondol dan busuk di batang. Dan itu tidak baik," ujarnya.
Saat ini, dari beberapa pabrik kelapa sawit (PKS) yang di tanyanya di sekitar areal perkebunan sawit miliknya, baru berani mengambil buah sawit petani Rp3.060 per Kg sampai Rp3.065 per Kg. Beda sebelum tanggal 20 Mei 2026 yang rata-rata PKS mengambil buah Rp3.500 per Kg sampai Rp3.600 per Kg.
Baca Juga: Injourney Airports Bandara SSK II Berbagi dengan Masyarakat Sekitar
Karyono pun berharap, pemerintah lewat Kementerian Pertanian, provinsi hingga pemerintah kabupaten ikut melakukan pengontrolan daya beli sawit peti di tingkat PKS.
Dua pemilik peron sawit di Kuansing, Pebri dan Iwan yang dimintai tanggapannya mengakui kalau harga baru naik tiga kali dalam pekan ini, atau sekitar Rp250 per Kg. Sehingga dari harga Rp2.500 per Kg sekarang sudah menjadi Rp2.760 per Kg.
Mereka membeli harga sawit petani mengacu pada harga sawit di tingkat PKS. Di tingkat PKS harga beli baru Rp 3.060 per Kg. Dari harga beli di PKS itu, setelah mengurangi biaya operasional termasuk transportasi maka harga sawit petani di tingkat peron baru Rp2.760 per Kg. "Kita sama-sama berharap, harga sawit kembali pulih seperti semula," ujar mereka. (dac)
Editor : M. Erizal