TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) terutama jenis solar masih terjadi pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Riau hingga Senin (21/9).
Di Kuantan Singingi (Kuansing), antrean terjadi di SPBU Sungai Kering, Kebun Nenas, Sitorajo, Koto Gunung, Logas, dan Koto Baru. Antrean terjadi hampir setiap hari. Walau terkadang ada yang sangat panjang dan ada sedikit berkurang. Namun tidak pernah berhenti.
Fakta ini diakui oleh Kepala Dinas Kopdagrin (Dinas Antrean BBM Berkepanjangan, Diduga Dibeli Pengecer Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian) Kuansing Masnur, kemarin. “Memang benar, nyaris tidak ada yang tak antre kendaraan mengisi BBM pada setiap SPBU di Kuansing,” ungkapnya.
Baca Juga: Polres Kuansing Tindak Aktivitas PETI di Muara Langsat, Dua Rakit Dimusnahkan
Padahal, dari hasil pemantauan petugas Kopdagrin dan pengecekan pasokan BBM di setiap SPBU yang ada, semua kuota BBM masuk sesuai pesanan SPBU ke depot Pertamina. Namun antrean setiap hari terjadi berlapis-lapis. Pengendara yang memerlukan harus ikut antrean berjam-jam.
Dari pengecekan di SPBU, kata Masnur, mereka tidak menemukan kejanggalan. Semua kendaraan ikut antrean dan mengisi BBM dengan menggunakan barcode my pertamina sesuai plat nomor kendaraan.
Namun ada beberapa hal yang menjadi perhatian Dinas Kopdagrin. Pertama, banyaknya ditemukan pom mini atau pedagang pengecer BBM yang menjual BBM dengan harga tinggi seperti Rp15.000 per liter untuk pertalite dan solar. Padahal harga jual di SPBU hanya Rp10.000 per liter untuk pertalite dan Rp6.800 per liter untuk solar.
Baca Juga: Alhamdulillah, Kuansing Diguyur Hujan Lebat Dinihari hingga Pagi
Selisih harga jual yang tinggi itu membuat warga tergiur menjadi penyuplainya BBM di pengecer. Sehingga mereka rela antre di SPBU berjam-jam dan setiap hari. “Namun kita tak bisa menertibkan itu. Sebab, masyarakat kampung yang perlu mengisi 2 liter tidak mungkin antre di SPBU berjam-jam. Sehingga mereka akan membeli BBM di pengecer yang ada di kampung,” ujarnya.
Hal ini, kata Masnur, bisa diperhatikan. “Mobil yang hari ini antre, besok dia antre juga. Kalau pemakaian pribadi dan normal dalam kota, isi full hari ini tak mungkin besok antre lagi. Minimal tiga hari baru isi lagi,” katanya.
Lalu fakta lain yang diperhatikan Dinas Kopdagrin, lanjut Masnur, ketika Polda dan Polres Kuansing melakukan operasi penertiban PETI selama dua pecan sebelum pacu jalur, tak ada antrean panjang. Namun sekarang bisa dilihat, aktivitas PETI sudah kembali beraktivitas di mana-mana.
Baca Juga: Satu Kafe Remang-Remang di Belakang Kawasan Komplek Pemkab Kuansing Ditutup
“Dugaan kami seperti itu. Kendaraan yang antre setiap hari di SPBU sebagian besar adalah kendaraan pelansir eceran. Kalau teknis pengisian tidak ada yang salah kami pantau dan stok sesuai kuota,” tegas Masnur.
Ditanya apakah antrean BBM akan berdampak pada harga sembako, bangunan dan lainnya. Masnur mengatakan, pasokan sembako ke Kuansing mayoritas datang dari luar seperti Sumatera Barat.
Sementara distribusi dari Sumatera Barat tidak ada kendala. Tidak ada anyrean panjang BBM di SPBU seperti di Kuansing dan Riau. Kenaikan harga sembako maupun barang bangunan, lebih dipengaruhi oleh pasokan yang berkurang akibat produksi produk yang berkurang. Sementara permintaan naik.
Baca Juga: Satu Bulan Masyarakat Kuansing Terpapar Kabut Asap, Ancam Kesehatan Masyarakat
Dinas Kopdagrin selalu mengingatkan pada pemilik atau pengelolaan SPBU yang ada agar mengikuti aturan yang ada. Petugas bagian administrasi di SPBU Sungai Jering, Mega Wahyuna mengatakan, pekan ini antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM terlihat berkurang. Baik solar maupun pertalite.
Ia melihat lebih dipengaruhi pasokan BBM yang masuk normal sesuai permintaan dan di SPBU lainnya juga tidak terjadi kendala pasokan. Sedangkan untuk pengisian, mereka menyesuaikan barcode dengan plat nomor kendaraan dan sesuai batas maksimal pengisian per hari kendaraan.(dac)
Editor : Arif Oktafian