Pepatah mengatakan tajam pisau karena diasah. Semakin sering kita belajar, semakin banyak ilmu yang dimiliki. Begitulah yang dilakukan Alifa Wahdini sejak kecil. Sudah dikenalkan dengan dunia public speaking sejak masih muda, membuatnya terbiasa tampil didepan umum hingga sekarang. Kemampuan itupun diperdalamnya dengan mempelajari teori, teknik, dan praktik yang lebih serius dibangku SMA.
“Awalnya terbiasa berbicara di depan umum karena mengikuti kegiatan muhadharah dan adanya kesempatan berbicara di depan kelas. Saat SMP makin sering mengikuti kegiatan pidato dan presentasi. Lanjut di SMA Alifa aktif dalam organisasi dan dipercaya menjadi ketua organisasi. Itulah yang membuat Alifa semakin terbiasa berbicara didepan banyak orang, memimpin rapat, menyampaikan pendapat, hingga menjalin komunikasi dengan pihak eksternal,” jelas Alifa mengenai awal mulanya ia mendalami public speaking.
Seiring berjalannya waktu, Alifa juga semakin sering dipercaya menjadi master of ceremony (MC) dalam berbagai kegiatan sekolah. Dari situ, Alifa belajar bagaimana mengatur intonasi, membangun kepercayaan diri, berinteraksi dengan audiens, dan menyampaikan pesan dengan baik. Menariknya sebagian besar proses belajar tersebut dilakukan secara otodidak.
Memasuki dunia perkuliahan, Alifa memilih untuk mendalami dunia jurnalistik dengan memilih Program Studi Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi broadcasting dan penyiaran. Diakui Alifa, meskipun karya jurnalistik dan buku memiliki karakteristik yang berbeda, keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan untuk mengolah informasi dan menyampaikannya kepada orang lain. Itulah yang membuat Alifa merasa dunia jurnalistik sangat menarik untuk dipelajari.
Baca Juga: Raysha Amelia Rizona, Siap Kepakkan Sayap di Dunia Model
”Alifa sudah cukup sering mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu kompetisi yang paling menantang bagi Alifa adalah International Pitching Competition yang diselenggarakan di Malaysia dalam rangka Internasional Student Mobility Program ( ISEP). Kompetisi ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena Alifa harus bersaing dengan peserta dari berbagai negara dan menggunakan bahasa Inggris selama proses presentasi,” jelasnya.
Yang membuat kompetisi ini semakin menantang adalah karena peserta tidak langsung melakukan pitching. Sebelumnya, Alifa dan peserta lainnya harus mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat dengan tinggal langsung di desa yang menjadi lokasi program. Di sana, Alifa melakukan observasi, berinteraksi dengan masyarakat, serta mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada. Dari hasil riset tersebut, Alifa kemudian menyusun sebuah solusi yang relevan untuk dipresentasikan dalam sesi pitching. “Ini pengalaman baru selama Alifa berkompetisi,” tambahnya.
Hebatnya, dari kompetisi yang menantang itu, Alifa tetap berhasil meraih medali emas, Best Pitcher Award, dan Best Design Award. Pengalaman yang mengajarkan banyak hal bagi Alifa. Bagaimana membuat riset yang kuat, penyampaian yang efektif, dan memahami kebutuhan masyarakat secara langsung menjadi ilmu baru baginya.
Apa yang Alifa raih saat ini tidak lepas dari dukungan dan doa orang tua, terutama ayahnya. Ke depannya, Alifa ingin terus belajar dan meng-upgrade diri di bidang komunikasi, jurnalistik, dan pendidikan. Alifa berharap bisa menjadi profesional yang tidak hanya berkembang secara pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat. Selain itu, Alifa juga ingin menciptakan ruang bagi lebih banyak anak muda untuk berani berbicara, berkarya, dan membawa perubahan.
“Karena bagi saya, kita tidak harus sempurna untuk memberi manfaat. Yang terpenting adalah terus bertumbuh dan tetap berguna bagi sesama,” tutup Alifa.***
Laporan: SITI AZURA
Editor : Arif Oktafian