Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Paghet Segagah Kelapapati Laut Jadi Pusat Riset Internasional

Abu Kasim • Minggu, 15 Juni 2025 | 10:30 WIB
Proses pembibitan mangrove oleh Kelompok Konservasi Paghet Kelapapati Laut.
Proses pembibitan mangrove oleh Kelompok Konservasi Paghet Kelapapati Laut.

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Kondisi pulau Bengkalis yang dikelilingi laut lepas maupun selat menjadi ancaman tersendiri bagi Pulau Bengkalis yang terkilis oleh abarasi yang tak terkendali. Bahkan kondisi terbaru, menjamurnya usaha tambak udang secara besar-besaran, juga menjadikan pulau ini semakin terancam.

Di tengah kondisi itu, ada sejumlah komunitas pencinta alam, yang terus melakukan aksi penyelamatan lingkungan. Seperti konservasi hutan mangrove yang dilakukan oleh Kelompok Konservasi Paghet Kelapapati Laut. Di mana pohon mangrove merupakan pepohonan, yang tumbuh di pesisir laut dan memiliki fungsi mencegah terjadinya abrasi.

Pada peringatan Hari Pohon Internasional yang diperingati setiap 21 November, kelompok Konservasi Mangrove Paghet Segagah Kelapapati, Kecamatan saat ini sudah dilindungi menjadi pusat penelitian dan riset.

Lokasi Konservasi Mangrove di Segagah Kelapapati Laut kondisinya saat ini sudah mulai dijaga dengan baik. Bahkan melalui dukungan dana desa, kondisi jalan masuk ke lokasi konservasi sudah mulai dilakukan aspal. Namun untuk sampai dilokasi ke bibir pantai yang berhadapan dengan selat Bengkalis masih jalan lanah, yang baru saja dilakukan perbaikan.

Di lokasi juga terlihat, adanya pembibitan mangrove, serta penanaman bibit mangrove disepanjang jalan menuju kawasan konservasi.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa Kelapapati Syafrudin mengatakan, warga Kelapapati Kecamatan Bengkalis secara swadaya dibantu pemerintah desa, terus merevitalisasi hutan bakau parit segagah seperti pembibitan dan penanaman pohon bakau di pesisir wilayah tersebut.

“Ya, lahan mangrove atau kayu bakau yang ada sekitar 10 hektar ini tidak boleh di tebang sembaragan dan kita pertahankan keasliannya, namun kita juga punya lahan tebang sulam. Disini ada bakau yang asli tumbuh alami dan ada juga yang ditanam kembali oleh masyarakat,” ujar Yong Udin, sapaan akrab Syafrudin.

Sementara itu, Ketua Kelompok Konservasi Ekowisata Mangrove Paghet Segagah, Rio Fernandes, juga menyebutkan, kawasan bakau di Paghet Segagah menjadi pusat penelitian. Beberapa waktu lalu, mendapat kunjungan riset Internasional dari London, England beberapa tahun lalu.

“Ya, kita sempat kedatangan tim mangrove aliansi project dari London, Inggris. Menurut mereka lokasi mangrove kita ini sudah sesuai dengan teori yang akan mereka ajarkan, sehingga mereka sepakat menjadikan lokasi kita sebagai lokasi studinya dan mereka melakukan beberapa riset disini,” jelasnya.

Di sisi lain, dalam melestarikan Kelompok Konservasi Mangrove Parit Segagah melakukan penanaman 1.000 bibit pohon mangrove atau bakau di Desa Kelapapati, Kabupaten Bengkalis, yang sampai saat ini masih berlangsung. Aksi penanaman bibit bakau ini melibatkan aparat, komunitas dan puluhan pelajar setempat.

Rio Fernandes mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencegah abrasi, mengurangi pemanasan global dan mendukung pengembangan menjadi kawasan wisata yang dapat menciptakan multiplier effect untuk masyarakat sekitar.

“Upaya rehabilitasi bakau ini sudah kami rintis sejak 2012 melalui dukungan dari Kepala Desa Kelapapati waktu itu,” kata Rio.

Ia menerangkan, inisiatif membentuk gerakan rehabilitasi mangrove seiring terjadinya pencurian dan perambahan mangrove yang dianggapnya telah merusak wilayah pesisir di Kelapapati.

“Penyebab pencurian dan perambahan akibat lahan-lahan tersebut ditinggalkan oleh pemiliknya. Padahal Desa Kelapapati merupakan kampung besar dan ramai orang. Tetapi orang-orang luar yang mengambil bakau kesini,” jelasnya.

Mengawali kegiatan konservasi pada 2012 lalu, mereka melakukan kampanye peduli lingkungan dengan memasang baliho di tepi pantai Kelapapati. Baliho itu berisikan larangan penebangan pohon bakau.

Setelah melakukan rehabilitasi bakau di Kelapapati, Rio mengungkapkan bahwa saat ini hutan bakau yang dulu dirambah kini sudah terjadi penghijauan dan peningkatan sedimentasi.

“Ya, saat ini lopak-lopak (kubangan) yang dulu sekarang sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Menurutnya, akar-akar mangrove yang kuat membantu menahan sedimen dan mencegah pengikisan pantai oleh ombak laut. Penanaman bakau juga membantu memperluas garis pantai dan meningkatkan kestabilan tanah. Atas kerja keras ia dan kelompoknya, hutan bakau seluas 14 hektare di Kelapapati sudah jadi daya tarik bagi orang luar. Bahkan, biota-biota seperti ikan, kerang, siput, lokan dan sepetang juga sudah mulai terlihat di hutan bakau Kelapapati.

“Pernah jadi pusat studi mangrove action project dari Inggris selama dua minggu dan dihadiri 40 NGO,” jelasnya.

Kemudian, kata Rio, berdasarkan hasil riset dari Universitas Riau pada 2020, hutan bakau di Kelapapati menghasilkan karbon sebanyak 195,13 ton per hektar. Ia menguraikan hasil riset tersebut bahwa dari 14 hektar bakau di Kelapapati memiliki nilai ekonomi serapan karbonnya sebesar Rp268.372.455,28 per tahun atau Rp29.819.161,7 per hektar per tahun.(nda)

Editor : Bayu Saputra
#mangrove bengkalis #hutan bakau #mangrove #cegah abrasi #Ekowisata Berkelanjutan