Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Lestarikan Lahan yang Sempit, Hobi Jadi Cuan dan Menginspirasi

Monang Lubis • Minggu, 14 Juni 2026 | 12:02 WIB
Suherman, warga Paritbaru, Desa Langkai, Kecamatan Siak, Siak Kota menunjukkan jenis-jenis buah anggur yang ada di kebun samping rumahnya, belum lama ini.
Suherman, warga Paritbaru, Desa Langkai, Kecamatan Siak, Siak Kota menunjukkan jenis-jenis buah anggur yang ada di kebun samping rumahnya, belum lama ini.

 SIAK (RIAUPOS.CO) - Inovasi yang tak henti dilakukan, percobaan yang dilakukan secara terus menerus selama 5 tahun terakhir. Kediaman Suherman, di Desa/Kampung Langkai, Dusun Paritbaru, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, ramai dikunjungi waga.

Suherman berhasil membudidayakan anggur, dengan buah yang cukup banyak dari varietas berbeda. Ada shine muscat, tamaki, jupiter, sansekerta, baikonur dan heliodor.

Renyahnya anggur sansekerta dan harumnya jupiter kini bisa ditemukan di kebun anggur milik Suherman.

Suherman memulainya dari hobi, dia membudidayakan beberapa jenis anggur sejak 5-6 tahun lalu, hasilnya hanya dinikmati keluarganya saja. Dan kini dia mulai menuai hasil dari kerja kerasnya.

Belakangan video dan foto-foto tentang ranumnya buah anggur hasil tangan dingin Suherman menjadi pembicaraan di media sosial dan warung kopi.

Baca Juga: Tambang Emas Ilegal Masih Marak, Kali Ini Polsek Kuantan Tengah Tertibkan 14 Unit PETI di Desa Munsalo Kopah

Belum saatnya dipanen, warga sudah sibuk hendak membeli, warga penasaran, seperti apa rasa buah dataran tinggi ini. Suherman belum menjualnya. Akhirnya, warga hanya bisa berfoto di rindangnya pohon anggur dengan buah yang menjuntai dengan beragam jenis dan varian rasa. 

Suherman mempersilakan Riau Pos memetik dua tangkai anggur, jenis sansekerta dan jupiter, sambil mengangsurkan gunting kecil.

Baca Juga: Guru Besar IPB Prof Bambang Hero Sebut Perusakan Mangrove Ancam Kedaulatan dan Keamanan Global

“Silakan dicoba,” kata Suherman, sambil menunjuk jupiter yang disukai anak anak.

Sansekerta lebih besar dan sangat renyah dan manis. Berbeda jauh cita rasanya dengan yang ada di pasaran.

Meski berbiji, namun tak menghalangi kenikmatannya saat dikunyah, benar benar fresh karena memang baru dipetik. 

Sedangkan jupiter, terasa lembut dan harum di mulut. 

“Inikan buah yang hidup di dataran tinggi, tapi jika tekun merawatnya, bisa hidup dan berbuah di dataran rendah seperti Siak ini,” jelas Suherman.

Satu pohon minimal bisa menghasilkan 5 sampai 10 kilogram, dan setahun bisa sampai 3 kali panen.

“Dari panen pertama dan kedua harus ada jeda sebulan atau dua bulan, agar batang batangnya mendapatkan nutrisi terlebih dahulu, baru dipersiapkan untuk kembali berbuah,” terang Suherman.

Jika tanpa jeda, selain hasilnya tidak maksimal, pohon bisa kering dan mati karena  dipaksa, sementara nutrisi yang didapatkannya belum maksimal.

Budidaya anggur ini, memerlukan perawatan ekstra, harus mendapatkan sinar matahari, tapi tidak boleh kena sinar matahari langsung. Makanya dibuat green house seperti ini.

“Awalnya bibit dari Jogjakarta, harganya sampai Rp500 ribu. Sekarang kami di Siak sudah ada komunitas namanya Komunitas Pengangguran Siak,” ungkap Suherman.

Melalui komunitas ini, dan sering diskusi, untuk Siak saja ada tiga pembudidaya anggur, ada juga di Kecamatan Bungaraya. 

Anggur ini, ada batang primernya, sekunder dan tertier. Terhubung ke tanah dan besar ini, batang primer, sedangkan yang sekunder terhubung langsung ke batang tertier yang merambat ada buahnya ini.

“Saya saat ini menggunakan sambung drafting, sambung sisip, dan sambung pucuk,” jelas Suherman.

Karena sudah tahu teknisnya, dan hasilnya terlihat, Suherman kini sedang membudidayakan anggur di samping kebunnya sendiri.

Kebun anggur yang dibangun di samping kebunnya itu, Suherman bekerja sama dengan Badan Usama Milik Kampung (BUMKam).

“Kami membuat budidaya anggur untuk dijadikan agrowisata, bila perlu ada kafenya,” kata Suherman.

Ada 24 batang pohon anggur dengan green house yang lebih luas kini terus dijaga dan dirawatnya.

Jika ini sudah jadi, anak anak sekolah bisa datang ke sini untuk belajar cara menanam dan membudidayakan anggur, sekaligus sebagai langkah menjaga lingkungan agar tetap lestari.

Atas kemampuannya, Suherman pernah juga diminta menjadi pembicara, menjelaskan tentang bagaimana teknis budidaya anggur ini.

“Saya  enggak bisa bicara di depan publik, jadi saya tolak. Saya bisa menjelaskan kalau ditanya seperti ini. Perbendaharaan kata saya belum banyak, mungkin saya perlu belajar lagi,” terang Suherman.

Suherman tidak muluk muluk, dia ingin ilmunya dapat bermanfaat untuk orang banyak, dan hasil kerja kerasnya ini dia dedikasikan untuk keluarga, yang telah mendukungnya saat merintis. 

Semua ada prosesnya, disebutkan Suherman, saat berproses jangan mudah menyerah, terus gali dan tekuni, insya Allah pada satu titik, akan ketemu selanya, buah dari ketekunan itu.

Suherman membuka diri untuk siapapun yang ingin belajar, sebab anggur dapat tumbuh dilahan sempit, yang penting telaten.(nda)

Editor : Bayu Saputra
#perani anggur #lingkungan #buah #anggur