Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Restorasi Mangrove Desa Teluk Pambang Jadi Perhatian Internasional

Abu Kasim • Minggu, 12 Juli 2026 | 14:32 WIB
Rombongan YKAN melakukan pengecekan tanah untuk menanamkan ulang pohon mangrove di Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, belum lama ini. YKAN UNTUK RIAU POS
Rombongan YKAN melakukan pengecekan tanah untuk menanamkan ulang pohon mangrove di Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, belum lama ini. YKAN UNTUK RIAU POS

 BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Deretan pohon mangrove yang tumbuh rapat membentang di sepanjang aliran Sungai Kembung, Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Rimbunnya pepohonan hijau yang kini menjadi benteng alami pesisir itu bukanlah pemandangan yang hadir begitu saja. Di baliknya terdapat proses panjang restorasi, pendampingan masyarakat, serta komitmen menjaga alam yang telah berlangsung selama lima tahun.

Setiap akar mangrove yang menjulur ke perairan menjadi penanda keberhasilan upaya pemulihan ekosistem yang dilakukan masyarakat bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Kini, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga mulai menjadi perhatian dunia karena dinilai berhasil memadukan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Keberhasilan itu menjadi salah satu fokus dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang rutin dilakukan YKAN setiap tiga bulan. Bersama Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Teluk Pambang, tim meninjau langsung perkembangan kawasan restorasi sekaligus memastikan seluruh program berjalan sesuai target.

Riau Partnership Coordinator YKAN, Fadil Nandila, mengatakan kawasan mangrove Desa Teluk Pambang telah menarik perhatian internasional berkat keberhasilannya membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan mangrove dan menghentikan penebangan secara sembarangan.

Menurutnya, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengukur dampak nyata program restorasi sekaligus menjadi dasar perbaikan apabila ditemukan kendala di lapangan.

“Dengan adanya kegiatan monev ini kita ingin melihat apakah ada dampak perubahan positif terhadap perkembangan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan LPHD Desa Teluk Pambang. Dari situ kita dapat memitigasi apa yang perlu diperbaiki, dibenahi, maupun dipertahankan. Itulah tujuan kami turun langsung ke lapangan,” ujar Fadil.

Baca Juga: Tim Satgas Terpadu PETI Utamakan Upaya Pendekatan, Penertiban di Tambang Emas Ilegal Jadi Jalan Terakhir

Bagi YKAN, keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari tumbuhnya kembali hutan mangrove. Lebih dari itu, kawasan konservasi juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan.

Karena itu, YKAN terus mendorong penguatan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), termasuk KUPS Srikandi Kuliner Biota Mangrove. Kelompok ini diarahkan membangun rantai usaha berbasis hasil hutan mangrove dengan melibatkan perempuan dari berbagai latar belakang.

Baca Juga: Siapkan TPS Baru Antisipasi Ledakan Sampah

“Kita ingin ada rantai bisnis, mulai dari perempuan suku asli hingga perempuan multi-etnis yang nantinya mengolah berbagai produk kuliner berbahan hasil mangrove. Selain itu, kawasan ini juga memiliki potensi untuk pengembangan madu, budidaya kepiting bakau, hingga ekowisata,” jelasnya.

Semangat yang sama juga terlihat dari masyarakat Desa Teluk Pambang. Ketua LPHD Teluk Pambang, Indra Sukmawan, mengatakan berbagai kegiatan restorasi terus dilakukan secara rutin, mulai dari perbaikan parit sekunder, penyulaman tanaman, pembibitan, penanaman, pemantauan, hingga perlindungan kawasan restorasi.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan menjaga kelestarian mangrove. Karena itu, LPHD tidak hanya fokus pada kegiatan rehabilitasi, tetapi juga memberikan pelatihan keterampilan usaha melalui pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.

“Kami rutin berdiskusi bersama masyarakat dan kelompok mangrove agar seluruh kegiatan restorasi dan perlindungan dapat dilakukan secara bersama-sama. Dengan begitu, kelestarian lingkungan tetap terjaga dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” kata Indra.Ia berharap pendampingan dari YKAN terus berlanjut sehingga masyarakat semakin percaya diri dalam mengelola kawasan mangrove secara mandiri.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Teluk Pambang yang diwakili Sekretaris Desa, Marhadi, menyampaikan apresiasi atas komitmen YKAN dalam mendampingi masyarakat.

Menurutnya, kehadiran YKAN tidak hanya memperkuat upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa.

“Keberadaan tim YKAN sangat membantu masyarakat menjaga hutan mangrove bersama pemerintah desa dan LPHD. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di sini juga memberikan manfaat bagi pelaku UMKM. Kami berharap Desa Teluk Pambang dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” ujarnya.

Usai pemaparan perkembangan program, rombongan melanjutkan peninjauan ke sejumlah titik kawasan restorasi mangrove. Di bawah rindangnya tegakan mangrove yang kini tumbuh sehat, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga konservasi mampu menghadirkan harapan baru bagi ekosistem pesisir.

Kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut turut dihadiri Coastal Resilience Senior Manager YKAN Mariski Nirwan, Director of Development YKAN Ratih Loekito, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkalis Pulau yang diwakili Kepala Tata Usaha Bustami, Bhabinkamtibmas AS Depari, anggota LPHD, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Teluk Pambang.(nda)

Editor : Bayu Saputra
#mangrove desa teluk pambang #Restorasi Mangrove #mangrove #bengkalis