Sambut HUT Ke-81 RI, Pemerintah Desa Penyengat dan Forum Perangkat Desa Tanam 5.000 Mangrove

Monang Lubis • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:46 WIB
Semua pihak yang ikut melakukan penanam mangrove di Dusun III Mungkal, Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak, foto bersama, Jumat (14/8/2026).
Semua pihak yang ikut melakukan penanam mangrove di Dusun III Mungkal, Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak, foto bersama, Jumat (14/8/2026).
 
SIAK (RP) - Penyelamatan terhadap daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) menjadi sangat penting, terutama wilayah pesisir yang rentan dengan abrasi.

Menjaganya agar tetap lestari, Kepala Desa Penyengat Abok Agustinus, membawa perangkatnya, menanam bakau atau mangrove  di Dusun III Mungkal, Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak.

Tak ada jalur darat, untuk bisa sampai ke sana, menggunakan kapal bermesin dengan jarak tempuh 1,5 sampai 2 jam. Melelahkan, tapi semua memiliki semangat yang sama, menjaga Indonesia.

Baca Juga: Penguatan Kesiapsiagaan dan Langkah Nyata Pencegahan Karhutla, Ini Imbauan APHI Riau bagi Anggota

Sebagai kecintaannya kepada Indonesia, Abok dan perangkatnya menyambut Hari Kemerdekaan ke-81 RI dengan menanam mangrove, karena di sana tempat hidup biota laut, dan bernilai ekonomis masyarakat pesisir.

“Untuk 1 hektare kawasan pesisir, diperlukan sedikitnya 10 ribu bibit mangrove siap tanam. Untuk penanaman, Jumat (15/8), kami membawa 5.000 batang,” terang Kades Abok.

Jumlah ini akan ditambah, dan penanaman dilakukan secara berkelanjutan, berkejaran dengan waktu dari abrasi.

Semangat warga ditunjukkan melalui kreativitas. Masing masing warga menyemai buah mangrove. Buah mangrove dapat diubah menjadi bibit siap tanam melalui proses pemilihan buah matang, penyemaian di dalam polybag berisi lumpur atau tanah pesisir, dan perawatan rutin selama 2 hingga 3 bulan, hingga tunas serta akar utamanya tumbuh kuat.

Baca Juga: PLN dan Masyarakat Tanam Mangrove di Pesisir Bengkalis untuk Perkuat Ketahanan Lingkungan

“Meski kamj punya pembibitan sendiri, setiap rumah warga juga membuat pembibitan mandiri, sehingga jika diperlukan akan menyumbangkan bibitnya untuk ditanam bersama,” ungkap Kades Abok.

Semua mengalir begitu saja, karena memiliki keinginan yang sama yaitu menjaga bibir pantai dari abrasi dengan terus menerus menanam mangrove untuk diwariskan ke anak cucu. 

Menjaga agar Pelabuhan Dusun III Mungkal tidak terus abarasi, makanya Kades Abok dan perangkat gerak cepat menanam mangrove.

“Kami dibantu perangkat dan warga Dusun III Mungkal, serta mahasiswa UIN Suska Riau yang sedang KKN di kampung kami,” jelas Kades Abok.

Pertama tama pelepah nipah sepanjang 1 meter ditanjapkan. Pelepah yang ditanjapkan secara beraturan ini, menjadi tanda di sana bibit akan ditanam.

Selanjutnya bibit diletakkan di samping pelepah nipah yang ditancapkan, kemudian dengan menggunakan kayu yang ujungnya runcing, dibuat lubang. Kayu runcing itu biasa disebut tajak. Setelah ditajak, bibit mangrove dimasukkan ke dalam lubang, polybag diletakkan di atas pelepah nipah, tanda bibit sudah ditanam.

Hanya dalam 2 jam, semua bibit mangrove selesai ditanam, dan rapih, tidak asal asalan, karena menggunakan teknis yang akurat.

Disebutkan Kades Abok, mangrove sangat penting, karena berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi dan badai.

Mangrove juga menjadi tempat tinggal dan berkembang biak bagi ikan serta hewan laut, menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar untuk melawan perubahan iklim, serta mendukung ekonomi warga pesisir.

Artinya, setelah ditanam seperti ini, mangrove akan dirawat dan dijaga agar tumbuh besar.

“Kami menjaga abrasi bibir pantai dengan menanam mangrove Dengan menanam mangrove di bibir pantai, mencegah abrasi, alam menjadi lestari, dan Indonesia terjaga,” ucap Kades Abok.

Semua biaya penanam ini, mulai dari bibit, transportasi, konsumsi dilakukan secara swasadaya, karena keinginan bersama menjaga pesisir untuk Indonesia.(nda)

Editor : Bayu Saputra
mengrove riau penyengat siak desa penyengat cegah abrasi