Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

"Patah Hati" Berbuah Rezeki

Rindra Yasin • Minggu, 6 Juni 2021 | 10:18 WIB
Tsuki-Taiyo Cosplay Team saat meraih juara penyisihan ICGP 2018 di Medan.
Tsuki-Taiyo Cosplay Team saat meraih juara penyisihan ICGP 2018 di Medan.

(RIAUPOS.CO) - TAMAT kuliah dan melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan swasta, Rahmat Eko Prabowo patah hati karena tak diterima bekerja. Niatnya pun dibulatkan, menyeriusi hobi costume play (cosplay) yang ditekuni sebagai sumber rezeki. Kini, Bowo, begitu dia akrab disapa khusus menjadi costume maker untuk pemesan dari luar negeri hingga ke Amerika Serikat.

Meski baru serius menekuni cosplay di tahun 2012, bagi Bowo sejak kecil dia sudah terinspirasi oleh karakter-karakter superhero asal Negeri Sakura Jepang yang jadi tontonan anak-anak di masanya. Berbekal gambaran tentang Satria Baja Hitam, bakat Bowo kecil dalam dunia cosplay sudah terlihat dengan membuat kostum dari kertas.

Cosplay di Indonesia mulai booming sekitar tahun 2006 lalu. Di Pekanbaru, komunitas dan kelompok penghobi cosplay sudah terlihat di tahun 2012. Di tahun inilah pria kelahiran 1996 dan berdomisili di Tangkerang Timur Kecamatan Tenayan Raya ini terpesona melihat satu gelaran cosplay di salah satu mal di Pekanbaru.

“Dulunya kecil karena gak tahu bahan-bahan, buatnya dari kertas. Buat figur-figur kecil. Tahun 2012, ada komunitas cosplay namanya Sinwa buat acara. Aku lihat mereka perform.  Keren juga,» kenang lulusan salah satu perguruan tinggi di Padang ini kepada Riau Pos, Sabtu (5/6).

Dari keterpesonaan itulah Bowo mencari-cari referensi tentang dunia cosplay dan bagaimana membuat kostum cosplay sendiri. “Dicari-cari dari Google dan YouTube. Cari bahan bakunya, belajar buat sendiri. Akhirnya sekarang jadi pendapatan utama,” ujarnya.

Dalam dunia cosplay, dari pengalaman Bowo ada beberapa jenis yang digandrungi oleh pecintanya. Di antaranya adalah harajuku, yaitu style cosplay yang terinspirasi dari manga dengan gaya yang berbeda beda. Kemudian armour, yaitu cosplay dengan kostum full satu badan. Contohnya Iron Man dan Hulkbuster dari Avengers Cinematic Universe.

Kemudian semiarmor, yakni cosplay dengan mengandalkan karakter make up dan divariasikan dengan armour yang menempel. Contohnya Kamen Rider, Power Ranger.  Selanjutnya anime, yaitu cosplay dengan menirukan karakter anime Jepang.

Lalu tokuhatsu, cosplay yang berkiblat pada penggunaan efek khusus film live action dan kostum superhero. Terakhir, monster. Jenis cosplay yang biasa digunakan di perfilman. Membuat kostum menyerupai monster di dalam film seperti Predator dan Alien. Ini merupakan salah satu pencapaian tertinggi cosplayer.

Dari beragam jenis cosplay ini, Bowo awalnya membuat kostum dalam karakter tokusatsu. Setahun lamanya dari 2012 hingga 2013 dia membuat kostum cosplay untuk dirinya sendiri. “Penjualan mulai 2013. Tahun 2012 itu belum ikut komunitas. Baru 2013 baru dan sudah mulai ada pelanggan,” urainya.

Bowo masih ingat, pertama kali dia mendapatkan pembeli atas kostum karyanya adalah dengan datang pembeli dari Dumai. Kala itu karyanya yang rutin ditampilkan di Facebook diminati. Datanglah orang yang menanyakan apakah bisa mengerjakan pesanan kostum.

“Kita beranikan diri bisa. Otodidak saja belajar buatnya. Yang pertama dipesan itu Kamen Rider. Ukuran satu badan. Bahannya buat pakai busa hati. Lebih kuat dari styrofoam,” ungkapnya.

Sejak tahun 2013 hingga 2015, berbekal pelanggan yang puas atas karyanya, Bowo pun kebanjiran pesanan. Saat itu masih berasal dari dalam negeri. Yakni paling jauh dari Samarinda dan rata-rata berasal dari Jakarta serta Pekanbaru sendiri.

Keasyikan mengerjakan kostum cosplay ini terhenti di tahun 2015. Sepanjang tahun itu, Bowo yang baru memasuki bangku kuliah harus fokus belajar di awal perkuliahan.

“Tapi tetap buat untuk pribadi,” ingatnya.

Ingar bingar cosplay sendiri kemudian meredup di tahun 2020. Pandemi Covid-19 yang mewabah membuat tak ada acara yang bisa digelar. Para cosplayer pun mengubah fokus. Dari hanya membuat kostum untuk diri sendiri menjadi menerima order dari orang lain.

Untuk Bowo, dia terakhir mengikuti acara di tahun 2018. Karena tahun 2019 dia fokus menyelesaikan kuliah. Tahun 2020 usai menamatkan kuliah dia mengadu nasib dengan mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan.

Dalam kondisi pandemi di tahun 2020, mencari pekerjaan bagi Bowo terasa sulit. Bahkan, pada satu titik dia harus patah hati. Dia mengenang, saat itu dia sudah melamar pekerjaan di salah satu perusahaan swasta. Dirinya dijanjikan tinggal menandatangani kontrak kerja. Namun, panggilan kerja tak kunjung datang. “Katanya lulus dan tinggal teken kontrak, tapi kena tikung sama orang dalam,” kenangnya.


Sejak saat itulah, dia memutar otak. Dalam kondisi menganggur, hobi yang selama ini ditekuni dipilih untuk menjadi sumber penghasilan. Jangkauan pun diluaskan hingga ke luar negeri.  “Saya berpikir. Kalau begini-begini saja, dapat pesanan di Indonesia, itu dapat uang tidak terlalu banyak. Jadi putar otak , posting di Facebook. Alhamdulillah dapat tawaran dari orang luar (luar negeri, red). Awalnya ragu. Ternyata benaran. Orang California. Yang dipesan DK Ranger. Power Ranger merah. Nilainya 150 dolar AS,” tuturnya.

Dari satu pemesan, berbekal kekuatan informasi mulut ke mulut, karya Bowo dan tim pun mendunia. Cosplay meski terkesan kekanak-kanakan, ternyata yang menggemari kebanyakan adalah orang dewasa. Contohnya adalah pemesan karya Bowo. “Karena di luar yang pesan itu usianya 30 sampai 40 tahun ke atas,” ungkapnya.

Sekarang Bowo dan timnya yakni Tsuki-Taiyo Cosplay Team sudah berjumlah tujuh orang dari awalnya hanya dua orang. Masing-masing anggota tim memiliki keahlian tersendiri. Mulai dari menjahit, hingga membuat properti kecil.  “Mengerjakan masih dari kamar sendiri,” jelasnya.

Untuk order membuat kostum cosplay, Bowo membangun sistem satu proyek untuk waktu kerja tiga bulan. Dalam rentang waktu ini bisa dibuat 25 pesanan dengan bentuk sesuai keinginan pemesan. “Tapi bisa kami buka lagi kalau ada yang mau bayar lebih. Ada yang mau bayar lebih hingga 100 dolar untuk booking saja,” jelasnya.

Saat ini, Bowo dan timnya hanya menerima pesanan dari luar negeri dengan nilai dolar Amerika. Dia punya alasan khusus untuk ini. “Karena rata-rata pemesan untuk Indonesia tidak kuat lagi (belinya, red). Istilahnya, ada yang dari Indonesia banyaknya nanya saja.  Mungkin mikir Rp5 juta lebih baik dibelikan yang lain,” tuturnya.

Cosplay yang dibuat oleh Bowo rata-rata memiliki harga 400 dolar AS. Atau jika dirupiahkan dengan kurs rupiah Rp14 ribu per satu dolar Amerika, maka kostum yang dibuatnya memiliki kisaran harga Rp5,6 juta.  “Kostum Power Ranger yang spandek. Lengkap baju, sepatu, dan sarung tangan. Ini handmade. Kebanyakan mereka mesan untuk hadiri konferensi dan buat video YouTube,” katanya.

Kini sebuah order menantang datang. Sebuah pesanan seharga ribuan dolar Amerika tiba. “Kemarin ada yang nawar harganya ribuan dolar. Agak berat, masih kami pertimbangkan, karena tanggungjawabnya besar,” bebernya.(das)

Laporan M ALI NURMAN, Pekanbaru

 

Editor : Rindra Yasin