Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Konflik Satwa dan Manusia Mengintai, Terjepit Habitat tak Memadai

Redaksi • Senin, 8 September 2025 | 12:10 WIB
Grafis
Grafis

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dalam setahun terakhir, Pro­vinsi Riau mencatat berbagai kasus konflik antara satwa liar dan manusia, terutama melibatkan harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae), buaya muara (crocodylus porosus), dan beberapa satwa dilindungi lain seperti gajah Sumatera dan beruang madu.

Konflik ini kerap berujung pada korban jiwa, baik manusia maupun satwa. Sebagian besar dipicu oleh hilangnya habitat alami akibat deforestasi dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, dan aktivitas manusia di kawasan konservasi.

Kasus-kasus menonjol terkait konflik satwa dan manusia kerap terjadi. Juli 2024 di Kabupaten Siak, pekerja kebun tewas dimangsa harimau. Oktober 2024, di Indragiri Hilir ada dua orang tewas diterkam buaya dalam satu hari.

Baru-baru ini, warga Mandau, Bengkalis tewas dipijak gajah saat mengerjakan kebunnya. Meski kebun itu tidak berada di kawasan konservasi, namun berdekatan langsung dengan kawasan Giam Siak Kecil.

Data aktivitas penggiat lingkungan maupun Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) menunjukkan tren meningkatnya pertemuan langsung satwa dilindungi ini dengan manusia akibat penyempitan ruang hidup.

Ya, kerusakan dan berubahnya fungsi hutan diduga menjadi penyebab utama konflik satwa dan manusia di Riau. Wilayah konservasi seperti Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) pun hampir punah dirambah menjadi kebun sawit.

Kerusakan habitat alami harimau dan gajah berbanding lurus dengan konflik yang terjadi dengan manusia. Seperti konflik harimau dan manusia yang kerap terjadi di habitat alamiahnya di Semenanjung Kampar yang telah banyak memakan korban.

BBSKDA Riau mencatat puluhan konflik manusia dan harimau setiap tahunnya. Kantong Harimau Semenanjung Kampar dan Kerumutan menjadi penyumbang terbesar konflik.

BBKSDA Riau mencatat sepanjang 6 tahun terakhir, dari 2020 hingga 2025 ini, lebih dari 100 laporan konflik yang dilaporkan masyarakat. Baik kemunculan, temuan jejak hingga konflik berdarah. Dari periode yang sama, sebanyak 17 kali terjadi konflik berdarah. Rinciannya, pada 2020 ada 1, 2021 ada 2, 2022 ada 4, 2023 ada 3, 2024 ada 4, dan 2025 ada 3 kejadian.

Konflik berdarah manusia harimau terbaru pada 2025 ini terjadi di perkebunan Akasia di Merawang, Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Seorang pekerja mengalami luka berat hingga patah tulang. Beruntung pekerja bernama Abdul itu selamat dari serangan harimau yang belakangan berhasil ditangkap dan dievakuasi dari lokasi.

Selain masalah kerusakan hutan dan juga fragmentasinya, tantangan yang juga dihadapi BBKSDA Riau dalam mencegah konflik manusia harimau adalah, sulitnya mendeteksi pergerakan harimau. Kepala BBKSDA Riau Supartono menjelaskan, pergerakan harimau sulit dipantau secara empiris.

‘’Tantangan yang kita hadapi pergerakan harimau itu tidak mengenal batas kawasan hutan dan nonhutan. Harimau itu juga bergerak ke perkebunan. Harimau itu tidak bisa dipantau langsung ia berada dimana. Tetapi ketika ada tanda-tanda, seperti jejak dan informasi dari masyarakat, baru kita merespon dengan upaya mitigasi,’’ sebut Supartono.

Terkait makin kerapnya harimau mendekati perkebunan, yang hampir pada semua kasus masih berada di wilayah jelajahnya yang sudah berubah fungsi, juga tidak bisa dikaitkan dengan ketersediaan mangsanya. Pasalnya beberapa mangsa harimau juga bergerak mendekati pemukiman.

‘’Konteks makanan, kami belum bisa memastikan, dalam kawasan hutan hasil kamera trap justru tersedia. Pergerakan dari mangsa yang keluar kawasan hutan juga mempengaruhi. Seperti mangsa jenis babi yang kerap masuk ke perkebunan dan kerap mendekati kawasan pemukiman. Pergerakan mangsa akan diikuti harimau,’’ kata dia.

Hanya saja, ketika harimau bergerak ke wilayah jelajahnya yang sudah berubah jadi perkebunan bahkan pemukiman, keberadaan hewan ternak membuat harimau akan datang berulang ke lokasi tersebut. Maka pada beberapa kasus pada tahun ini, ada penyerangan hewan ternak berulang seperti yang terjadi di Pulau Muda, Teluk Meranti, Pelalawan.

Dalam upaya mitigasi konflik ini, BBSKDA Riau menurut Supartono, pihaknya telah merangkul masyarakat hingga tingkat desa. Dalam konteks ini BBKSDA membangun upaya mitigasi konflik tingkat desa, yang berlaku untuk semua satwa. Selain itu organisasi kemasyarakatan dan forum-forum konservasi turut dirangkul, termasuk Forum Konservasi Gajah yang cukup aktif beraktivitas.

‘’Tim mitigasi konflik seperti di tingkat desa ini diharapkan setidaknya bisa melakukan mitigasi awal. Mitigasi awal itu bisa sifatnya bagaimana mengetahui jenis satwa apa, arahnya kemana. Mereka juga dibekali agar dapat melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kewaspadaan kepada yang lain,’’ ujarnya.

Sama halnya dengan tantangan besar yang dihadapi BBKSDA Riau dalam menghadapi konflik harimau Sumatera, gajah Sumatera juga menghadapi masalah rusaknya hutan dan makin sempitnya habitatnya. Supartono menyoroti perambahan hutan TNTN. Menurutnya, kerusakaan TNTN menjadi salah satu pemicu konflik dan kematian gajah di Riau.

Dalam kawasan TNTN sendiri, kematian gajah mulai dari keracunan, jerat pemburu, hingga penyakit. Namun kebanyakan, menurut Supartono, memang akibat konflik dengan manusia. Pada beberapa kasus, gajah ditemukan mati akibat diracun dengan kondisi gading yang telah hilang.

‘’Penyebab utama karena rusaknya habitat gajah. Lebih dari 40 ribu hektare hutan TNTN telah berubah menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman liar. Hilangnya habitat alami menyebabkan gajah makin sering berkonflik dengan manusia,’’ jelas Supartono.

Menurut Supartono, BBKSDA Riau telah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menyelamatkan populasi gajah di TNTN. Pihaknya juga melakukan pemasangan GPS Collar, termasuk melakukan pelestarian dan pengkayaan habitat alami yang tersisa.

Buaya Mengancam Nyawa Masyarakat Inhil
Konflik antara hewan dengan manusia sering terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Bahkan, pernah dalam waktu satu hari ada dua orang tewas akibat diserang buaya. Ini terjadi Oktober 2024 lalu.

Sedangkan tahun ini, Juni lalu, seorang pria bernama Reza meninggal dunia setelah digigit buaya saat sedang mandi di Sungai Enok, Kecamatan Enok.

Hewan predator dengan nama latin crocodylus porosus tersebut terus menghantui masyarakat yang tinggal di wilayah sungai dii beberapa kecamatan.

Salah seorang warga Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS), Ali, mengaku khawatir beraktivitas di tepian Sungai Anak Serka. Pasalnya, hampir setiap hari buaya berbagai ukuran menampakkan diri, bahkan sampai berada di pelantaran dapur rumah warga.

“Dulu kami sering mencari ikan dan mandi di sungai, aman-aman saja. Namun sekarang kami warga Teluk Pinang tak lagi berani,” ujarnya. “Warga masih banyak beraktivitas mencari makan di sungai, seperti mendayung sampan menyeberangkan penumpang, ada tahun 2024 dulu warga mencari daun nipah meninggal diserang buaya,”ujarnya.

Ancaman serupa juga disampaikan Jon, warga Kecamatan Pulau Burung. Ia nyaris menjadi korban serangan buaya saat sedang membersihkan kaki di kanal.

“Pernah tahun lalu, saya mencuci kaki di kanal. Baru mau mengambil air tiba-tiba buaya menggigit ember saya, untung bukan kaki yang saya masukan ke kanal. Sekrang buaya banyak di tempat kami,”ucap Jon.

Bahkan seorang warga Desa Penjuru, Kecamatan Kateman bernama Zulkarnain sempat digigit dan diseret buaya hingga kedalaman 15 meter. Beruntung ia berhasil selamat setelah melakukan perlawanan dengan memukul dan mencolok mata buaya.

“Saat itu saya sedang mandi ditangga belakang rumah, tiba-tiba saya diserang buaya dan diseret ke air hingga 15 meter,”ucap Zulkarnain. “Lengan bagian kiri saya digigit. Saya pukul dan tusuk bagian matanya pakai tangan kanan, setelah itu gigitan tersebut lepas. Alhamdulillah saya selamat,” kenangnya.

Dari data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, tahun 2025 sudah dua kasus ditemukan buaya menyerang manusia dan korban meninggal dunia.

Kejadian pertama pada Januari, seorang nelayan bernama Hendra tewas saat sedang mencuci kaki setelah mencari siput di Perairan Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Merah.

“Kedua di Kecamatan Enok, warga sedang mandi, juga meninggal dunia akibat serangan buaya,” ujar Kepala DPKP Inhil, Nursal,” ucapnya.

Nursal juga sudah memberikan imbauan dan memasang spanduk kewaspadaan di beberapa kawasan yang dianggap banyak buaya. “Kami juga sudah menyurati BBKSDA berkoordinasi untuk mengatasi konflik ini agar tidak kembali memakan korban jiwa,” tegas Nursal.

Akademisi dan pemerhati lingkungan Zainal Arifin Hussein menganggap tingginya konflik manusia dengan buaya di Inhil merupakan peringatan serius. “Setiap angka itu bukan sekadar data, melainkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat,’’ ujarnya.

‘’Ketika ekosistem mangrove rusak dan sungai diracun, maka sumber makanan buaya seperti ikan ikut hilang. Akibatnya, buaya keluar dari habitatnya dan menyerang manusia. Selain itu, populasi buaya di Inhil saya nilai juga sudah cukup banyak sehingga risiko konflik semakin tinggi,” ujar pria yang juga dosen di Unisi ini.

Menurutnya, konflik ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga tanda bahwa keseimbangan alam sedang terganggu. Pemerintah dan semua pihak juga harus segera mengambil langkah menyeluruh, bukan hanya reaktif setelah ada korban, akan tetapi perlu ada pemetaan wilayah rawan, edukasi keselamatan bagi masyarakat pesisir sungai, pelarangan praktik perusakan sungai, serta menjaga kawasan konservasi agar buaya tetap memiliki ruang hidup.

“Saya menilai koordinasi lintas sektor seperti kementerian kehutanan dan lingkungan hidup, perikanan, aparat, hingga lembaga masyarakat sangat penting agar proses mitigasi berjalan efektif. Tanpa langkah bersama, saya pikir konflik ini akan terus berulang dan menelan lebih banyak korban,” tuturnya.

Tak hanya di Inhil, teror buaya juga terjadi setiap tahun di Rokan Hilir. Kasus serangan buaya di Rohil cenderung meningkat, begitu juga dengan tingkat fatalitas yang semakin tinggi. Juli 2025 lalu, seorang warga Kepenghuluan Labuhan Tangga Hilir, Bangko bernama Tarmisi (39) hilang diduga diserang buaya.

Sebelumnya korban pergi mencari udang di Sungai Rokan. Hingga pencarian sekitar satu pekan yang dilakukan tim gabungan, tak membuahkan hasil. Keberadaan korban tak berhasil ditemukan sementara perahu yang biasanya digunakan korban ditemukan warga masih berada di tangkahan biasanya di daerah Batu Enam Bagansiapiapi.

Kepala Unit SAR Bagansiapiapi Dhoni menuturkan masyarakat sudah mengetahui di sepanjang aliran sungai Rokan terdapat ekosistem buaya. Meski mengancaman keselamatan, masyarakat tetap beraktivitas di Sungai Rokan. “Apalagi bagi yang mencari nafkah di sungai Rokan,” katanya.

Sepanjang tahun ini terjadi sejumlah kasus mematikan serangan buaya selain yang dialami Tarmisi. Di daerah Pekaitan, korban Supriadi tewas diserang buaya pada Maret 2025. Di bulan yang sama, pada Ahad malam, 2 Maret 2025, seorang pelajar putri, Keysia (9) di serang buaya saat berjalan pulang ke rumahnya di Kelurahan Bangko Kiri, Kecamatan Bangko Pusako. Beruntung korban berhasil selamat setelah ditolong ibunya.

Selanjutnya, di Kecamatan Kubu, pada 21 Maret seorang anak anak Fi (10) juga jadi korban dan meninggal dunia. Berselang delapan hari, tepatnya, Sabtu, 29 Maret juga terjadi serangan buaya terhadap korban Herianto alias Atan warga Kelurahan Teluk Pulau Hulu, Rimba Melintang, Ia tewas diserang buaya saat mencari ikan di aliran Sungai Rokan. Selanjutnya korban lainnya, Anuar (70) juga tewas di Bangko Kiri Kecamatan Bangko Pusako pada April 2025.

Kuansing juga Muncul Buaya
Konflik buaya dengan manusia sangat jarang terjadi di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Namun, baru-baru ini justru muncul. Ya, warga Desa Giri Sako, Kecamatan Logas Tanah Darat, dibuat heboh. Pasalnya, seorang warganya menjadi korban serangan buaya di aliran Sungai Teso, Selasa (26/8) malam.

Korban diketahui bernama Haris. Peristiwa itu bermula sekitar pukul 18.30 WIB ketika korban bersama dua orang rekannya pergi mencari ikan dengan cara menyelam di Sungai Teso. Sekitar pukul 21.30 WIB, saat sedang menyelam dan menembak ikan, tiba-tiba seekor buaya menyerang dan menerkam korban.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka cakar pada bagian dada bawah ketiak serta luka di tangan sebelah kanan. Korban segera dibawa ke Klinik Desa Giri Sako untuk pertolongan pertama, sebelum akhirnya pada pukul 22.30 WIB dirujuk ke RSUD Telukkuantan guna mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Kejadian ini mencuat setelah beberapa tahun terakhir tidak ada kasus serangan buaya pada manusia di Kuansing dengan serangan mematikan. Kapolres Kuantan Singingi, AKBP Raden Ricky Pratidiningrat SIK MH melalui Kapolsek Logas Tanah Darat IPTU Masjidil SE menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang dialami korban.

Pihak kepolisian juga langsung melakukan koordinasi dengan perangkat desa setempat untuk memberikan imbauan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam beraktivitas di sekitar aliran sungai.

“Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada ketika beraktivitas di sekitar Sungai Teso maupun sungai lainnya. Keberadaan buaya masih ada di wilayah tersebut sehingga diperlukan kewaspadaan ekstra, terutama pada malam hari atau saat menyelam untuk mencari ikan,” ungkapnya.

Ia meminta masyarakat untuk segera melaporkan kepada aparat desa atau kepolisian apabila melihat keberadaan buaya yang berpotensi membahayakan keselamatan warga. Ini guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Harimau Mengintai
Berbeda lagi di Siak dan Pelalawam. Di dua kabupaten ini, ancaman serangan harimau yang tinggi. Pergerakan harimau di sejumlah titik di Kabupaten Siak selalu terpantau, tak hanya menyerang hewan ternak, tapi juga warga tahun.

Video harimau menyatroni kandang ayam berdurasi 15 menit direkam karyawan di barak pembibitan perusahaan di Tasikbelat, Kampung Tuluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Selasa, 4 Februari 2025 sekitar pukul 23.30 WIB.

Selanjutnya, pada 26 Maret 2025, harimau menerkam ternak warga di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit. Berselang beberapa bulan, tepatnya 26 Mei 2025, dua sapi milik Suhadi (46) warga RT 08 RW 04, Kampung Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit juga ditemukan mati dengan kondisi bekas dimangsa harimau sekitar pukul 10.00 WIB.

Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Siak Heriyanto SH mengatakan, Tim Animal Rescue sudah berkoordinasi dengan BBKSDA untuk mengambil langkah strategis terkait hal ini. “Kami konsen terhadap konflik hewan dengan manusia, kami akan mengambil langkah penyelamatan,” ujarnya.

Demikian juga di Pelalawan. Konflik antara manusia dan harimau tak henti-hentinya terjadi, terutama di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti. Warga pun ketakutan untuk pergi memanen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

“Ya, kehadiran harimau ini membuat warga takut untuk berkebun. Apalagi binatang berbadan belang yang diperkirakan lebih dari satu ekor itu telah kerap memangsa manusia, khususnya pekerja HTI perusahaan,’’ terang Kepala Desa (Kades) Pulau Muda, Andika Sing ketika dikonfirmasi Riau Pos, Senin (25/8).

“Untuk itu, kami berharap pemerintah melalui BBKSDA dapat segera mengevakuasi harimau yang berada di Kecamatan Teluk Meranti serta membuat penangkaran hewan ganas ini sehingga tidak kembali menimbulkan konflik harimau dan warga,” tambahnya.

Diungkapkannya, penampakan harimau di Kecamatan Teluk Meranti, khususnya di Desa Pulau Muda, sudah sering terjadi. Pasalnya, Desa yang berbatasan dengan Desa Simpang Gaung kecamatan Gaung dan Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) ini, diduga menjadi daerah perlintasan kawanan harimau.

Menurut Andika Sing bahwa hewan liar tersebut diduga berasal dari hutan Suaka Margasatwa di Kecamatan Kerumutan. Lokasi ini menjadi salah satu kantong harimau di Riau. Bahkan, BBKSDA pernah menyebut lokasi ini didiami delapan ekor harimau dengan wilayah jelajah masing-masing. Salah satunya Desa Pulau Muda menuju  Pelangiran dan Gaung Kabupaten Inhil.

“Kami warga Desa Pulau Muda meminta dan berharap agar BBKSDA dapat melakukan evakuasi hewan ganas ini dengan membuat tempat khusus seperti penangkaran. Sehingga tidak berkeliaran masuk ke kebun hingga permukiman masyarakat yang tentunya mengancam keselamatan warga,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Pelalawan, AKBP John Louis Letedara SIK melalui Kapolsek Teluk Meranti, IPTU Boby SH mengimbau masyarakat agar selalu waspada, khususnya di Distrik Merawang. “Ya, kita minta masyarakat harus berhati-hati melintasi lokasi itu. Jika

terlihat hewan buas berbadan belang tersebut segera melapor ke aparat hukum setempat,” bebernya.

Sosialisasi tidak melakukan aktivitas sendirian dan terutama di atas pukul 17.00 WIB terus dilakukan. “Artinya, jika harus beraktivitas, harus beramai-ramai. Ya, minimal 5 oranglah sehingga bisa saling mengawasi,” bebernya.

Selain itu, pihak perusahaan atau korporasi juga diminta melengkapi pekerja dengan alat safety dari serangan hewan buas serta menyiapkan sarana toilet portable. “Sehingga, jika ada para pekerja yang hendak buang air, tidak harus pergi kehutan yang dapat mengancam nyawa mereka,’’ ujarnya.

‘’Jadi, manajemen perusahaan harus mengintensifkan sosialisasi kepada para pekerja. Dan Penerapan SOP (Standar Operasional Prosedur) harus lebih diperketat untuk mencegah kejadian serupa terulang. Pasalnya, kewaspadaan ini penting bagi para pekerja di area yang merupakan habitat alami harimau Sumatera,” tuturnya.

Amukan Gajah Liar, Warga Tasik Serai Alami Trauma
Tak hanya buaya dan harimau, konflik manusia dengan gajah juga terjadi di Riau tahun ini. Pada 6 Agustus 2025, kawanan gajah liar menyerang warga di Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis. Nasib naas menimpa pasangan suami istri bernama Oslen Panjaitan (43) dan istrinya Natalia Manalu (38), warga Jalan Gajah Mada KM 20, Desa Tasik Serai Barat.

Natalia Manalu meninggal dunia di tempat akibat diinjak-injak oleh kawanan gajah liar. Saat kejadian, kedua sedang tertidur lelap dalam pondok di kebun sawit milik mereka di Jalan Simandakr. Keduanya terbangun oleh jeritan gajah.

“Saat itu Natalia yang dikejar dan sempat diinjak-injak gajah ditemukan sudah tak bernyawa. Sedangkan suaminya sempat terperosok dalam parit saat mencoba mengalihkan amukan gajah pada Subuh itu,” ujar H Sitompul, salah seorang kerabat korban.

Ya, keduanya sempat terpisah saat dikejar gajah. Suami korban berusaha mengalihkan konsentrasi gajah dengan menyalakan senter, namun gajah semakin marah. “Namanya terkejut saat terbangun mendengarkan suara gajah tentu sudah panik pikiran kita,’’ jelas Olsen.

‘’Kami berdua sempat mengusir gajah liar, tapi malah mengejar kami dan akhirnya kami berlari beda arah. Sampai keluar matahari barulah saya keluar dari persembunyian dan mendapati istri saya sudah meninggal dunia,” tambahnya.

Ia mengaku, kebunnya memang jauh dari lokasi hutan dan merupakan lahan perkebunan. Tapi tak menyangka gajah datang dengan tiba-tiba. Atas peristiwa itu membuat dirinya trauma dan takut untuk datang lagi ke kebun untuk menggarap ladangnya.

Sementara itu, Kapolsek Pinggir Kompol Nursyafniati dikonfirmasi terkait lokasi kebun tempat korban berladang masuk kawasan hutan atau kebun pribadi korban menjelaskan, lokasi itu tidak masuk kawasan hutan.

“Ya, itu ladang pribadi mereka. Namun di daerah itu merupakan jalur lintasan gajah. Makanya kami mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap lokasi lahan yang menjadi jalur lintasan gajah tersebut,” harapnya.(fad/*2/amn/mng/ksm/dac/das)

Editor : Arif Oktafian
#konflik manusia harimau #satwa liar #Konflik manusia dan satwa liar di riau #harimau sumatera #gajah sumatera #buaya #konflik satwa dan manusia #liputan khusus #buaya sungai #riau pos