Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Banjir, 12.982 Orang di Demak Mengungsi, 88 Desa Terendam Banjir

Redaksi • Senin, 18 Maret 2024 | 17:10 WIB
Tanggul Sungai Wulan di Duku Norowito, Desa Ketajung, Kecamatan Karanganyar, Demak, jebol, Minggu (17/3). Akibatnya, jalan pantura Demak-Kudus tak bisa dilalui karena banjir.
Tanggul Sungai Wulan di Duku Norowito, Desa Ketajung, Kecamatan Karanganyar, Demak, jebol, Minggu (17/3). Akibatnya, jalan pantura Demak-Kudus tak bisa dilalui karena banjir.

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Sebanyak 92.246 jiwa terdampak banjir di Demak yang hingga kemarin (17/3) terus meluas. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak hingga pukul 13.00, banjir melanda 88 desa yang tersebar di sepuluh kecamatan.

Kepala BPBD Demak Agus Nugroho menuturkan, jumlah pengungsi terus bertambah hingga mencapai 12.982 jiwa.

Terdapat 30 titik pengungsian yang menampung semua pengungsi. ”Pengungsi tersebar di sejumlah titik itu,” paparnya.

Saat ini ada sejumlah kebutuhan mendesak untuk pengungsi. Di antaranya, sembako, nasi bungkus, makanan kering, tikar atau kasur, obat-obatan, air mineral, popok anak dan dewasa, serta pakaian dan losion antinyamuk.

Menurut dia, banjir juga memengaruhi sejumlah fasilitas umum. Yakni, 110 tempat ibadah, 3 pasar, 14 fasilitas kesehatan, 57 sarana pendidikan, dan 13 sarana kantor. ”Juga merendam 3.945 hektare sawah dan 529 tambak,” ujarnya.

Banjir di Demak terjadi sejak beberapa hari lalu saat curah hujan tinggi disertai angin kencang. Akibatnya, debit air sungai dari wilayah hulu meningkat. Kondisi itu diperparah dengan jebolnya enam tanggul. Yakni, tanggul Sungai Bugel, tanggul Klambu Kiri Sungai Desa Ngemplik, tanggul Sungai Dombo, tanggul Sungai Dukuh Menawan, tanggul Sungai Dukuh Luwuk, dan tanggul Sungai Jeratun.

BPBD melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi bencana. Di antaranya, memberikan bantuan karung sak untuk peninggian tanggul, asesmen lokasi terdampak, evakuasi warga yang terjebak banjir, dan pendirian dapur umum. ”Kami terus berkoordinasi dengan pemda dan pemdes,” jelasnya.

Sementara itu, dilansir dari Radar Kudus, limpasan air Sungai Lusi yang berarus deras mengakibatkan kawat sling baja atau tali pemancang jembatan gantung putus. Selama lebih dari 20 tahun, jembatan gantung yang menjadi penghubung Kampung Jengglong dengan Desa Menduran itu menjadi jalan alternatif bagi masyarakat setempat untuk mengakses pusat Kabupaten Grobogan.

Heri Darminto, 53, warga setempat, mengatakan, sling baja setebal 5 cm itu baru kali pertama mengalami putus. ”Penyebabnya, pohon-pohon di hulu tumbang dan nyangkut di jembatan,” ungkapnya kemarin (17/3). ”Ini warga sudah bergotong royong mengalihkan limbah tersebut dan menyulamnya menggunakan tali tampar,” tambahnya.

Keberadaan jembatan gantung itu amat penting. Dengan terganggunya fungsi jembatan, warga harus memutar dan menempuh jalan yang jauh lebih panjang. ”Ini kalau dari Desa Menduran langsung tembus Pasar Induk Purwodadi,” sebutnya.

Baca Juga: Temui Jaksa Agung, Menkeu Sri Mulyani Laporkan Dugaan Korupsi di LPEI yang Rugikan Negara Rp2,5 Triliun

Maryam, warga Desa Menduran, Kecamatan Brati, khawatir dengan keadaan jembatan yang kritis tersebut. Apalagi kondisi Sungai Lusi yang sering penuh beberapa pekan terakhir. ”Sehari-hari kalau mau ke kota ya lewat sini. Kalau ndak, muter lewat bundaran Getasrejo,” terang dia. Perempuan 75 tahun itu berharap agar jembatan gantung kayu tersebut mendapat perhatian dari pemerintah. ”Ya, semoga lekas diperbaiki. Kondisinya juga sudah memprihatinkan,” katanya. 

Sumber: JawaPos.com

Editor : M. Erizal
#banjir kudus #kudus #banjir