Bukan hanya berkeliling ke tetangga sesaat setelah Salat Idulfitri, halalbihalal terkadang diagendakan secara khusus dengan mengundang tamu dan menyiapkan jamuan.
Bahkan, tak sedikit yang sampai mengundang ustadz sebagai pengisi acara halalbihalal. Tidak hanya di rumah, perkantoran pun kerap melakukan hal serupa.
Melansir situs Kemenko PMK RI, ada beberapa fakta menarik tentang halalbihalal yang sering membuat orang salah paham tentang tradisi ini.
Asal Bahasa
Halal bihalal ternyata bukan berasal dari Bahasa Arab, meskipun di dalamnya mengandung diksi 'halal.' Melansir situs Kemenko PMK RI, istilah ini justru ditemukan di Kamus Bahasa Jawa-Belanda.
Meski terdengar seperti Bahasa Arab, istilah halalbihalal sebenarnya hanya menyerap kata 'halal' yang diberikan sisipan 'bi.' Di dalam diksi Bahasa Arab sendiri tidak ditemukan kata halalbihalal sebagaimana yang kerap terdengar di Indonesia.
Tradisi Politik Indonesia
Istilah halalbihalal kerap diidentikkan dengan ritual yang wajib dilakukan sesaat setelah lebaran. Hal ini dilakukan juga di sekolah atau perkantoran ketika kembali masuk kerja setelah libur hari raya. Alhasil, ada aktivitas tambahan sebelum kembali bekerja atau belajar mengajar.
Padahal faktanya, halalbihalal merupakan tradisi yang dikembangkan dalam konteks silaturahmi antar pemimpin politik. Pada masa Presiden Soekarno, seluruh tokoh politik datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahim, di mana mereka semua akan duduk satu meja.
Kiai pendiri NU menjadi pencetus ide ini, agar Bung Karno melakukan halalbihalal antar pemimpin yang masih berkonflik. Tradisi ini terus dilakukan saat ini dan semakin meluas. Tidak hanya dilakukan antar pemimpin politik atau pejabat negara saja, melainkan sampai ke level rumahan.
Cara Berdagang Martabak
Ada fakta menarik lain dari istilah halalbihalal yang pasti banyak orang yang belum tahu. Sekitar tahun 1930-an terdapat pedagang martabak asal India di Taman Sriwedari, Solo.
Pada masa itu, martabak tergolong jenis makanan yang belum populer di Indonesia. Dengan demikian, masih banyak yang berpikir dua kali untuk membeli dan mencicipi martabak asal India.
Akan tetapi, pedagang tersebut tentu ingin dagangannya laku. Ia lalu menawarkan martabak tersebut dengan menyebut 'halal bin halal.'
Sejak itu, halalbihalal populer di Solo. Kata ini digunakan sebagai istilah untuk pergi ke Taman Sriwedari di hari Lebaran menikmati makanan, khususnya martabak.
Istilah ini berkembang, menjadi sebutan untuk pergi ke suatu tempat, bertemu serta bersilaturahmi dengan banyak orang.
Hanya Ada di Indonesia
Menariknya, istilah halalbihalal hanya muncul di Indonesia. Perayaan Idulfitri di negara lain umumnya hanya diisi dengan Salat Idulfitri dan bermuhasabah di hari yang sama.
Tidak ada acara yang diselenggarakan secara khusus dengan tema halalbihalal. Apalagi, sampai harus mengundang pembicara atau ustadz sebagai pemateri.
Pernah Dilarang di Sebuah Kementerian
Menteri BUMN Erick Tohir pernah melarang kementeriannya untuk menyelenggarakan halalbihalal pada tahun 2023. Bukan hanya di lingkungan Kementerian BUMN, larangan ini bahkan diberlakukan di semua BUMN di seluruh Indonesia.
Jika dicermati, tradisi halalbihalal ini terkadang memang menjadi alasan untuk menunda pekerjaan. Setelah libur lebaran, tak sedikit instansi yang mengisi hari kerja dengan halalbihalal.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Rinaldi