Dalam pertemuan itu, keduanya membahas upaya dalam mendorong tingkat inklusivitas keuangan salah satunya melalui digitalisasi. Dengan mempertimbangkan kecukupan resources yang dimiliki oleh Tony Blair Institute (TBI) diharapkan dapat mendukung upaya digitalisasi tersebut.
"Kita ingin mendorong agar digitalisasi sifatnya inklusif jadi tentu kita bicara mengenai infrastruktur digital mengenai data center, regulasi Artificial Intelligent (AI), hingga cyber security," kata Menko Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, ditulis Sabtu (20/4).
Lebih lanjut, Menko Airlangga juga menjelaskan bahwa keduanya juga membahas seputar transisi energi, terutama terkait Just Energy Transition Partnership (JETPI), Asia Zero Emission Community (AZEC), hingga upaya merealisasikan transisi energi salah satunya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dipersiapkan sebesar 1,2 GigaWatt.
Selanjutnya, Menko Airlangga dan Tony Blair juga turut membahas isu geopolitik yang saat ini sedang mencuat di tengah ketidakpastian global lainnya. Konflik di kawasan Timur Tengah yang terjadi saat ini tentu menjadi permasalahan yang tidak diinginkan oleh berbagai negara, sehingga lebih memilih untuk menahan diri.
Bagi kepentingan Indonesia sendiri, stabilitas geopolitik diharapkan akan kian kondusif agar dapat memberikan dampak yang lebih baik terutama bagi kondisi perekonomian nasional.
"Pertama tentu kita harus jaga kawasan Indo-Pasifik menjadi kawasan damai, sehingga jika kawasan Indo-Pasifik menjadi kawasan bebas konflik, maka pertumbuhan ekonomi bisa kita dorong. Ke depan, kawasan Indo-Pasifik menjadi salah satu kawasan yang menjadi perhatian dunia, sehingga tentu di antara kawasan Indo-Pasifik posisi Indonesia sangat strategis, dan untuk itu Tony Blair Institute siap membantu," pungkas Menko Airlangga.
Untuk diketahui, sehari sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerima kedatangan Tony Blair, di Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar satu jam setelah Blair sampai di kompleks Istana Negara sekitar pukul 10.00 WIB.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkapkan salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan antara Jokowi dan Tony Blair adalah mengenai energi baru terbarukan. Salah satunya tentang solar panel dan beberapa alur logistik khususnya di IKN, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
"Akan ada rencana pembangunan Uni Emirat Arab berupa solar panel di sana, detailnya kami lagi susun," kata Bahlil dalam keterangannya di Jakarta, pada Kamis (18/4).
Bahlil mengatakan, rencana investasi di sektor energi baru terbarukan tersebut difasilitasi oleh Tony Blair Institute. Dia enggan menyebut detail investasinya, namun Bahlil berjanji akan menyampaikan kemudian.
"Ini business to business akan masuk (investasi) dari UAE, detailnya nanti disampaikan, tetapi ini difasilitasi oleh Tony Blair institute," pungkas Bahlil.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Rinaldi