Pada Jumat (7/6), Pemerintah Indonesia menetapkan Hari Raya Kurban jatuh pada 17 Juni (10 Dzulhijjah). Pemotongan hewan kurban juga diperbolehkan dilakukan pada hari tasyrik. Yaitu tiga hari setelah Iduladha (11-13 Dzulhijjah).
Masyarakat biasanya berkurban lewat lembaga amil dan zakat (LAZ) atau menyerahkan hewan kurban secara langsung di masjid, musala, atau tempat lain.
Besarnya potensi perputaran ekonomi hewan kurban tersebut, disampaikan Direktur Pengumpulan Perorangan Baznas Fitriansyah Agus Setiawan. Setiap momen penyembelihan hewan kurban, diharapkan bisa membawa keberkahan untuk bangsa Indonesia.
"Karena memberikan dampak ekonomi yang besar. Ada potensi Rp24 triliun sampai Rp30 triliun," kata Fitriansyah Agus Setiawan di sela sosialisasi Baznas Berkah di silang Monas pada Ahad (9/6).
Fitriansyah mengatakan, dampak ekonomi dari perputaran uang hewan kurban itu, juga dirasakan peternak kambing, domba, maupun sapi, di desa-desa. Para peternak, khususnya dari kelompok mustahik (orang berhak menerima zakat) bisa meningkat derajat hidup.
Selain itu, Fitriansyah mengatakan, daging kurban dari Baznas akan disebar sampai ke daerah terluar dan terpencil untuk mengatasi stunting atau gizi buruk. Daging kurban akan dikemas dalam bentuk kalengan untuk memudahkan distribusi. "Diolah menjadi kornet atau rendang (siap makan)," jelas Fitriansyah Agus Setiawan.
Daging olahan kemasan itu juga bisa untuk cadangan makanan darurat apabila terjadi bencana alam. Lebih lanjut Fitriansyah mengatakan, hewan kurban mereka juga akan digunakan untuk mengatasi krisis pangan di Gaza, Palestina. Sebab, kondisi di Gaza masih konflik, penyembelihan dilakukan di Mesir atau Jordania. Kemudian dagingnya dikirim masuk ke Gaza lewat perbatasan di Rafah. "Target kami seratus ekor hewan kurban disembelih di sana," kata Fitriansyah Agus Setiawan.
Dia mengatakan, tahun lalu juga ada hewan kurban yang disembelih untuk masyarakat Palestina. Hanya saja penyembelihan dilakukan di Al-Quds wilayah Jerusalem. Untuk saat ini, karena masyarakat di Gaza mengalami krisis pangan, distribusi akan dimaksimalkan ke Gaza. Fitriansyah mengatakan, sejatinya mereka ingin menyembelih hewan kurban di Gaza. Tetapi saat ini kondisinya terlalu berisiko.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Rinaldi