JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Dalam panggung politik Indonesia, nama Prabowo Subianto telah lama menjadi sorotan. Kini, setelah perjalanan panjang yang penuh liku, pria kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951 ini akhirnya mencapai puncak karirnya di usianya yang kini menginjak 73 tahun.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah resmi menetapkan Prabowo sebagai Presiden terpilih hasil Pilpres 2024, menjadikannya Presiden Republik Indonesia ke-8 yang akan menggantikan Joko Widodo mulai 20 Oktober 2024.
Akar Bangsawan dan Pendidikan Internasional
Prabowo Subianto Djojohadikusumo bukan sekadar nama besar dalam perpolitikan modern Indonesia. Ia adalah putra ketiga dan anak laki-laki pertama dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar.
Ayahnya, Soemitro, adalah seorang ekonom terkemuka dan politisi Partai Sosialis Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan.
Sementara ibunya, Dora, adalah wanita Kristen Protestan berdarah Minahasa-Jerman yang berasal dari keluarga Maengkom di Langowan, Sulawesi Utara.
Darah biru mengalir dalam nadinya, sebagai cucu dari Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia.
Lebih jauh lagi, Prabowo masih memiliki garis keturunan dari Raden Tumenggung Kertanegara, seorang panglima laskar Pangeran Diponegoro, yang berarti ia juga mewarisi darah bangsawan dari Kesultanan Mataram.
Masa kecil dan remaja Prabowo diwarnai dengan pengalaman internasional yang luar biasa.
Ia menempuh pendidikan di berbagai negara, termasuk Victoria Institution di Kuala Lumpur, Malaysia; Zurich International School di Swiss; dan The American School di London, Inggris.
Baca Juga: Kalahkan Cina 3-1, Australia di Bawah Pelatih Baru Tony Popovic Jaga Asa ke Piala Dunia
Dari Baret Merah hingga Bintang Jenderal
Perjalanan karir Prabowo dimulai saat ia menginjakkan kaki di Akademi Militer pada tahun 1970. Ia lulus pada tahun 1974, satu angkatan di bawah Susilo Bambang Yudhoyono, yang kelak menjadi Presiden RI keenam.
Selama 28 tahun berkarir di militer, Prabowo memegang berbagai posisi strategis, dimulai sebagai Letnan Dua di TNI Angkatan Darat pada tahun 1976.
Karirnya terus menanjak dengan menjabat sebagai Komandan peleton di Grup I/Para Komando (1977), Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 (1985), Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 (1991), Komandan Grup 3/Sandi Yudha unit kontra-insurjensi Kopassus (1993), hingga puncaknya sebagai Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal pada tahun 1995.
Namun, karirnya di militer berakhir dengan kontroversi pada tahun 1998.
Dewan Kehormatan Perwira yang dipimpin oleh Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo mengevaluasi Prabowo atas tujuh tuduhan, termasuk kesalahan dalam analisis tugas dan operasi yang bukan kewenangannya dengan diberhentikan secara hormat dari militer.
Dunia Politik
Setelah meninggalkan dunia militer, Prabowo memulai babak baru dalam dunia politik. Awalnya, ia bergabung dengan Partai Golkar dan mencalonkan diri sebagai bakal calon presiden dalam konvensi Capres Golkar tahun 2004.
Meski kalah dalam konvensi tersebut, ia tetap menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Golkar hingga mengundurkan diri pada tahun 2008.
Kekalahan ini tidak mematahkan semangatnya. Prabowo kemudian mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersama beberapa rekannya.
Awalnya menjabat sebagai anggota Dewan Pimpinan Pusat, ia kemudian menggantikan Suhardi sebagai Ketua Umum pada tahun 2014.
Perjalanan Prabowo menuju kursi kepresidenan penuh dengan tantangan. Pada Pilpres 2009, ia menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri, namun kalah dari pasangan SBY-Boediono.
Pada Pilpres 2014, Prabowo mencalonkan diri sebagai presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa. Mereka harus mengakui keunggulan pasangan Jokowi-JK dengan perolehan suara 46,85% berbanding 53,15%.
Pilpres 2019 kembali menjadi arena pertarungan bagi Prabowo. Kali ini berpasangan dengan Sandiaga Uno, ia kembali berhadapan dengan Jokowi yang dipasangkan dengan Ma'ruf Amin. Hasilnya, pasangan Prabowo-Sandi hanya memperoleh 44,5% suara, kalah dari Jokowi-Ma'ruf yang meraih 55,5% suara.
Menjadi Bagian dari Kabinet
Setelah tiga kali gagal dalam Pilpres, Prabowo membuktikan kenegarawanannya dengan bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden Jokowi. Ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertahanan sejak Oktober 2019 hingga 2024.
Pilpres 2024 menjadi momen bersejarah bagi Prabowo. Berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, ia berhasil meraih 59,59% suara, mengalahkan dua pasangan calon lainnya yaitu Anies-Muhaimin (24,95%) dan Ganjar-Mahfud.
Kemenangan ini menandai puncak dari perjalanan politik panjang Prabowo Subianto. Prabowo kini bersiap untuk memimpin Indonesia sebagai presiden ke-8 usai dilantik pada 20 Oktober 2024 mendatang, 3 hari setelah hari ulang tahunnya.
Sumber: Pojoksatu.id
Editor : M. Erizal